English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : YBG

Sabtu, 01 Januari 2011

Interaksi Dengan Al-Quran


Mukaddimah

Segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon perlindunganNya dan memohon ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan kejahatan amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba dan utusanNya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beraga-ma Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa’: 1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah yang berasal dari Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam , sedangkan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah memilih umat Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk menjadi umat penengah dan saksi atas umat yang lain sebagaimana firman Allah:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (Al-Baqarah: 143)

Maka itulah kedudukan mulia yang tidak mungkin di-capai umat sekarang kecuali dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan mengambil petunjuk darinya, karena Al-Qur’an membawa kualifikasi untuk sampai ke tempat yang mulia itu. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Lalu barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu
, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 123-124)
Ibnu Abbas c berkata: “Allah menjamin bagi pembaca Al-Qur’an serta yang mengamalkannya bahwa ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat.”

Maka dari itulah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam menyeru untuk mengambil peringatan-peringatan dari Al-Qur’an dalam sabdanya:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu adalah nasihat.”
Para sahabat bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

(( لِلَّـهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّة الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامتهُمْ ))

“Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.”
Sungguh umat Islam telah memperoleh kedudukan mulia tersebut (Al-Baqarah: 143), itu yang telah dipilihkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala pada hari ditetapkannya nasihat yang diserukan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam . Pada hari ini umat Islam telah lengser dari tempat itu hingga menjadi umat yang terbelakang. Bahkan menjadi umat yang diremehkan oleh musuh-musuhnya. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Sebagaimana perkataan penyair:
“Sungguh telah tampak kelemahan umat ini karena mereka suka bercanda, hingga orang bangkrut pun bisa memanfaatkannya.”

Sesungguhnya orang yang memiliki secercah iman akan merasa pedih dan sedih ketika mendengar umat Islam dibantai, terinjak-injak kehormatannya, terampas harta bendanya di pagi dan sore hari yang terjadi di penjuru dunia. Kondisi mereka lelap dalam tidur, lupa pada setiap musibah yang menimpa agama Islam dan umatnya.

Dikatakan dalam syair:
“Orang-orang kafir menghalalkan penganiayaan terhadap umat Islam selama agama menjadi sesuatu yang diratapi.
Maka hak asasi dan sesuatu yang dilindungi sirna, pedang, pembunuhan, pertumpahan darah menjadi di-perbolehkan.
Berapa banyak orang tua yang kehilangan akal karena kematian anaknya.
Berapa banyak masjid yang mereka jadikan biara dan di atas mihrabnya digantung patung salib.
Darah babi yang mengalir dalam tubuh mereka membentuk kepribadian hewani sehingga membakar mushaf dianggap sesuatu yang baik.
Hal ini merupakan perkara yang jika difikirkan seorang anak niscaya ia akan merengek-rengek dipangkuan orang tuanya.”
Maka adakah penyebab semuanya itu, ketika kaum muslimin hendak mengatasi kelemahan di hadapan musuh-musuh mereka, selain kelalaian mereka dari peringatan Al-Qur’an?

Syaikh Amin telah mengambil jalan yang dipresen-tasikan dalam kitab beliau Adhwaail Bayan ‘An Hidayatil Qur’an (Cahaya Yang Jelas Dalam Petunjuk Al-Qur’an) bahwa masalah terpenting yang diderita kaum muslimin saat ini, kemudian beliau menjelaskan bahwa jalan keluarnya ada pada Al-Qur’an, berikut kami uraikan keterangan beliau karena pentingnya.
Beliau berkata: “Di antara petunjuk Al-Qur’an yang agung dalam mengatasi 3 perkara terbesar yang menimpa negeri yang mayoritas penduduknya kaum muslimin sebagai peringatan bagi yang minoritas:

1. Kelemahan Kaum Muslimin di Penjuru Dunia dari Segi Kuantitas Menghadapi Orang-orang Kafir.

Al-Qur’an Al-Adziim memberi petunjuk untuk mengatasi masalah ini dengan sebaik-baik jalan dan seadil-adilnya dengan menjelaskan bahwa obat dari kelemahan melawan orang kafir itu ialah dengan menghadapkan diri kepada Allah secara sungguh-sungguh dan memperkuat iman serta tawakkal kepadaNya. Karena Allah Maha Kuat, Perkasa dan Mengalahkan segala sesuatu. Barangsiapa menjadi golongan Allah dengan sebenar-benarnya tidak akan terkalahkan oleh orang-orang kafir meskipun mereka memiliki kekuatan sebesar apapun.

Di antara bukti yang jelas dari hal itu adalah ketika pasukan orang-orang kafir dalam jumlah yang besar meng-gempur kaum muslimin pada peperangan Ahzab yang termaktub dalam firman Allah:
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Obat dari hal itu adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan. Lihatlah betapa kuatnya pengepungan pasukan dan kuatnya dampak hal itu terhadap kaum muslimin ditambah dengan embargo senjata dan ekonomi saat itu dari semua penjuru. Jika engkau telah memahami maka ketahuilah bahwa obat yang dapat diterima dalam perkara besar ini adalah apa yang dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 22:
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”

Inilah iman yang sempurna. Penyerahan yang besar kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala karena kuatnya keyakinan padaNya serta tawakal kepadaNya merupakan sebab perkara besar itu dapat diatasi.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah menjelaskan hasil dari pengobatan ini dalam firmanNya:
“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari ben-teng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 25-27).

2. Orang-orang Kafir Menguasai Orang-orang Mukmin Dengan Membunuh, Melukai Dengan Berbagai Penyiksaan, Padahal Orang-orang Mukmin di Pihak Yang Benar dan Orang-Orang Kafir di Pihak Yang Salah.
Ketika perkara ini menimpa para sahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka Allah Subhaanahu wa Ta'ala mengabarkan hal ini dan menjelaskan sebabnya dengan pengabaran dari langit yang termaktub dalam kitabNya. Ketika musibah yang menimpa kaum mus-limin dalam perang Uhud dengan terbunuhnya paman Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan sepupu beliau yang keduanya dicincang, kemudian terbunuhnya orang-orang Muhajirin dan terbunuhnya 70 ten-tara dari kalangan Anshar. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam sendiri terluka, bibir beliau pecah serta gigi beliau patah. Terdengar desa-desus di kalangan kaum muslimin yang mengatakan: Bagaimana kaum musyrikin unggul dari kita? Padahal kita di pihak yang benar sedang mereka di pihak yang salah? Maka Allah Subhaanahu wa Ta'ala menurunkan ayat:

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada pepe-rangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’.” (Ali Imran: 165 )
Firman Allah: “Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’.” Di dalamnya lafadz umum yang diterangkan Allah dalam firmanNya yang lain:

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janjiNya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.” (Ali Imran: 152)

Ayat tersebut di atas merupakan keterangan yang jelas bahwa sebab orang-orang kafir berkuasa atas kaum mus-limin karena kelemahan dan perpecahan mereka dalam urusan itu, serta keingkaran mereka terhadap perintah Rasul Shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagian mereka mendahulukan dunia (harta rampasan perang, pen.) daripada perintah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam .
Barangsiapa mengetahui hakekat suatu penyakit maka ia akan mengetahui dengan tepat obatnya, hal ini tidak dapat diragukan.

3. Perbedaan Hati.
Hal ini merupakan sebab terbesar dalam menegakkan keadilan di atas eksistensi umat Islam sebab hal ini dapat menimbulkan kelemahan dan hilangnya kekuatan serta daulah (negara). Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :
“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46)

Maka kamu lihat umat Islam saat ini di penjuru dunia menyembunyikan permusuhan dan kebencian antar sesama-nya, kalaupun diusahakan pendekatan sesama mereka se-sungguhnya tidak dapat disembunyikan bahwa hal itu hanya zhahirnya saja sedang hati mereka sebaliknya.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjelaskan hal ini dalam surat Al-Hasyr ayat 14 mengenai sebab hal ini hingga menjadi musibah yaitu karena lemahnya akal. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.”

Kemudian dijelaskan sebabnya:
“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.”
Dan tidak dapat dipungkiri bahwa penyakit lemahnya akal yang diderita menyebabkan kelemahan untuk mengetahui realitas dan membedakan antara kebenaran dengan kebatilan, yang bermanfaat dengan yang berbahaya, yang baik dengan yang jelek, melainkan dengan penyinaran cahaya wahyu (Al-Qur’an), karena dengan cahaya wahyu itu akan menghidupkan hati yang mati, menerangi jalan yang gelap, dan sebagai pegangan sehingga akan melihat suatu kebenaran itu benar adanya dan kebatilan adalah batil, yang ber-manfaat akan dilihat bermanfaat dan yang membahayakan akan dianggap berbahaya.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang te-rang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (Al-An’am: 122)

Allah Subhaanahu wa Ta'ala juga berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Al-Baqarah: 257)
Barangsiapa dikeluarkan oleh Allah dari kegelapan kepada cahaya, maka ia telah melihat kebenaran, karena cahaya itu menyingkapkan tabir penghalang kebenaran sehigga ia mengetahui yang benar itu benar adanya dan yang batil itu merupakan kebatilan.

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkel di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (Al-Mulk: 22)
“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.” (Fathir: 19-22)
“Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifat-nya?” (Huud: 24)

Dan banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang keimanan yang menghidupkan hati manusia dari kematian sebelumnya serta memberikan cahaya dari keadaan sebelumnya yang gelap gulita.
Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa sebab perubahan keadaan umat Islam hingga yang kita lihat dan dengar saat ini adalah karena kita meninggalkan Al-Qur’an dan melalaikan peringatannya sebagaimana dipaparkan oleh syaikh Amin v bahwasanya umat Islam saat ini diliputi berbagai masalah besar yang tidak ada solusinya melainkan kembali kepada Al-Qur’an dengan memperhatikan peringatannya sebagaimana para pendahulu umat (salafus shalih) ridhwanullahi ‘alaihim merealisasikan hal itu.

Maka wajib bagi yang bergelut di bidang ilmu dan dakwah untuk berpaling dan berkonsentrasi bersama umat pada bagian ini meruju’ pada sumbernya yang abadi. Saya tidak bermaksud bahwa umat sama sekali belum berusaha untuk mencapai tujuan ini.

Ada usaha yang patut menerima imbalan, tetapi menurut saya hal itu minim sekali dari yang dibutuhkan. Dan saya berpendapat bahwa mengatasi hal yang agung ini merupakan kewajiban bersama dengan memohon pembukaan dan kemudahan dari Allah meskipun dengan bekal minim dan sedikit-nya kepedulian serta kemauan kita. Mudah-mudahan Allah menjadikan perkara ini sebagai pembuka jalan untuk mencari keluasan bagi ahli ilmu dan keutamaan.

Buku ini merupakan kumpulan ceramah saya di aula Universitas Madinah dan di tempat lain. Kemudian sebagian pendengar menyarankan agar saya membukukannya dari beberapa pertemuan yang saya sampaikan. Sebagian mereka bertanya kepada saya mengenai kitab yang saya pergunakan. Maka saya tidak mendapati kitab yang memadai karena saya mengambil bahan ceramah saya dari berbagai kitab. Maka setelah itu saya berniat untuk menyebarkan isi ceramah saya dalam sebuah buku dengan beberapa tambahan dan peringkasan hingga menjadi buku di tangan anda ini. Saya berusaha menambah makna agar lebih dalam dengan contoh pengamalan para sahabat agar kita terdorong untuk mengamalkan seperti mereka.

Saya mengharap agar Allah menjadikan amal ini ikhlas semata-mata karena mengharap wajahNya Yang Mulia. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat dan mendapat pahala di sisi Allah. Harapan saya siapa yang menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam buku ini agar menyampaikan nasihatnya.
Mudah-mudahan shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam , keluarga, dan para sahabatnya.

Keutamaan Al-Qur'an Sebagai Petunjuk Hidup

Keutamaan Al-Qur'an Dari yang Lain
Cukup sebagai bukti karena Al-Qur’an Al-Karim memiliki keutamaan dan kemuliaan ia merupakan firman Allah Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana serta Maha Suci. DariNya segala sesuatu mulai dan kepadaNya pula segala sesuatu kembali. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” (At-Taubah: 6)

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (As-Syura: 52)

Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah memberi keutamaan Al-Qur’an atas kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya dan menguatkannya. Sebagaimana firmanNya:
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (Al-Maidah: 48)

Ibnu Abbas Rahimahullaah berkata: “Al-Muhaimin maksudnya penjaga pembenar. Dan Al-Qur’an merupakan penjaga pembenar bagi semua kitab sebelumnya.”
Ibnu Juraij berkata: “Al-Qur’an penjaga kitab-kitab sebelumnya, maka yang sesuai dengannya itu merupakan kebenaran sedang yang menyelisihinya merupakan kebatilan.”
Dari Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa muhaimin maksudnya adalah saksi dan memutuskan perkara-perkara yang belum diatur oleh kitab sebelumnya.

Semua perkataan di atas dinukil oleh Ibnu Katsir kemudian ia berkata: “Semua perkataan ini maknanya ham-pir sama, karena kata al-muhaimin mencakup semuanya yaitu terpercaya, saksi dan yang memutuskan perkara. Karena Allah menjadikan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang terakhir diturunkan sekaligus penyempurna, mencakup semua isi kitab sebelumnya, paling agung dan sebagai pemutus perkara karena di dalamnya terkumpul segala kebaikan sebelumnya dan ditambah dengan kalimat-kalimat yang tidak ada di lainnya.
Maka dari itulah Allah menjadikan saksi, kepercayaan dan pemutus perkara serta menjaganya sendiri kemudian berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Di antara keutamaan Al-Qur’an yang paling agung adalah karena merupakan mu’jizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah telah menentang orang-orang Arab bahkan semua manusia dan jin agar mendatangkan semisal Al-Qur’an dalam firmanNya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, nisca-ya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (Al-Isra’: 88)
Kemudian Allah menantang mereka untuk mendatangkan 10 surat yang semisal Al-Qur’an dalam firmanNya:
“Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur'an itu’, Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar’.” (Hud: 13)

Kemudian Allah menantang mereka untuk mendatangkan satu surat saja, seperti dalam firmanNya:
“Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya’. Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar’.” (Yunus: 38)
Allah mengabarkan bahwasanya mereka tidak akan per-nah sanggup untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an walau sedikit hingga kapan pun.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat-(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat-(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)

Sungguh Al-Qur’an Al-Karim merupakan mu’jizat ter-agung yang dikaruniakan Allah kepada NabiNya di antara nabi-nabi, karena ia paling kuat pengaruhnya. Hal itu karena ia adalah mu’jizat yang kekal yang tidak terhenti dengan wafatnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan keutamaan Al-Qur’an dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( مَا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلاَّ أُعْطِيَ مِنَ اْلآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّـهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنِّي أَكْثَرُهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ))

“Tidak seorang nabi pun yang diutus melainkan dikaruniakan padanya ayat-ayat yang sepadan dengan diimani oleh kaumnya. Sedangkan wahyu yang disampaikan Allah padaku, maka kuharap agar aku bisa menjadi yang terbanyak pengikutnya hingga hari Kiamat.”

Ibnu Katsir menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang agung bagi Al-Qur’an atas segala mu’jizat yang dikaruniakan kepada para nabi dan seluruh kitab yang diturunkan Allah. Hal itu sebagaimana makna hadits:
“Tidak seorang nabi pun di antara para nabi melainkan Allah mengaruniakan padanya (dari mu’jizat) sebagai bukti bagi manusia.”

Maksudnya hal itu sebagai dalil dan pembukti atas ajaran yang dibawanya agar diikuti oleh manusia, kemudian setelah para nabi meninggal (mu’jizat mereka hilang) kecuali yang diceritakan oleh para pengikut mereka yang melihat hal itu pada zamannya. Sedangkan penutup risalah dan para rasul Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam keagungannya yang diberikan Allah adalah berupa wahyu yang sampai kepada kita secara berkesinam-bungan (mutawatir) setiap zaman tidak berobah sebagaimana diturunkan. Maka untuk ini beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Maka kuharap agar aku menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya.”
Selain itu pengikut Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam paling banyak di antara pengikut-pengikut nabi lainnya karena keumuman risalahnya dan ketetapan syariatnya hingga hari Kiamat, serta mu’jizat-nya yang tidak terputus. Maka dari itu Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pem-beri peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1).

Petunjuk Al-Qur'an Mencakup Kebahagiaan Dunia Dan Akhirat

Jumlah nash-nash yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengenai petunjuk Al-Qur’an yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat adalah banyak sekali sehingga membutuhkan pembahasan tersendiri jika kita ingin untuk memperdalamnya. Tetapi karena tujuan disini adalah mengingatkan saja maka saya ringkas sebatas yang terpenting, insya Allah.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman sebagai pujian atas kitabNya yang mulia dan pemberi petunjuk bagi hamba-hambaNya untuk diperhatikan.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
Ibnu Katsir berkata: “Mauidzah maksudnya pencegah dari hal-hal yang keji. Wa syifaun lima fisshudur maksudnya dari syubhat (yang tidak jelas) dan syak (ragu-ragu) seperti menghapus kotoran dan najis.”
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)
Ibnu Mas’ud berkata tentang maksud ayat ini bahwa Allah menjelaskan pada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu dan segala sesuatu.
Mujahid berkata: “Setiap yang halal dan yang haram.”
Ibnu Katsir setelah mengisahkan dua perkataan di atas menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Mas’ud lebih umum dan mencakup segala ilmu yang bermanfaat pada zaman dahulu dan ilmu-ilmu yang belum terungkap. Al-Qur’an juga menegaskan setiap yang halal dan haram serta apa-apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam perkara dunia, agama, kehidupan dan tempat mereka kembali.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)
Ibnu Abbas berkata: “Allah menjamin bagi yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, maka ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfiman:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 2)
Ibnu Sa’di v berkata: “Al-Huda yaitu apa yang menghasilkan petunjuk dari kesesatan, dan keraguan kepada petunjuk ke jalan yang lurus, yang bermanfaat.”

Firman Allah: “hudan” yang dibuang al-ma’mul (tanpa menyebutkan obyek) bukannya petunjuk untuk kemasla-hatan seseorang, tidak pula sesuatu yang bersifat khusus bagi seseorang, melainkan dengan lafazh umum, karena maksud-nya petunjuk bagi seluruh kemaslahatan dunia dan akhirat. Maka Al-Qur’an memberi petunjuk bagi para hamba dalam masalah-masalah agama yang pokok dan cabang. Juga penjelas antara kebenaran dengan kebatilan, yang shahih dengan yang lemah serta bagaimana menempuh jalan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra’: 9)
Syaikh Amin As-Syinqithi berkata: “Allah menyebutkan pada ayat yang mulia ini bahwa Al-Qur’an yang agung adalah paling mulianya kitab yang diturunkan dari langit dan paling mencakup semua ilmu serta paling akhir-nya waktu diturunkan oleh Penguasa alam semesta. –Memberi petunjuk yang lebih lurus– maksudnya jalan yang terbaik, teradil dan paling benar.”

Ayat ini di dalamnya mencakup semua yang terdapat dalam Al-Qur’an dari petunjuk jalan yang terbaik, teradil, dan paling benar. Kalau kita menelusuri penjelasannya secara sempurna maka kita akan menyebutkan semua ayat Al-Qur’an, karena mengandung semua petunjuk kebaikan dunia dan akhirat; tetapi dengan izin Allah akan saya sebutkan petunjuk terbaik Al-Qur’an di berbagai bidang sebagai penjelas sebagian ayat peringatan dari berbagai masalah besar dan perkara-perkara yang diinkari oleh orang-orang yang melampaui batas dari orang-orang kafir yang mencari kesempatan untuk menyerang Islam, karena keterbatasan ke-mampuan mereka tentang hikmah Al-Qur’an yang agung.

Syaikh Amin juga menyebutkan bahwa hidayah Al-Qur’an yang paling lurus pada perkara berikut: At-Tauhid, menjadikan thalaq dari sang suami, poligami, keutamaan laki-laki atas perempuan, pemilikan budak, pemotongan tangan pencuri, hukum rajam pada pezina yang telah menikah (selingkuh), kemajuan bisa diperoleh tanpa meninggalkan agama, selain agama yang dibawa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka ia jelas kekafirannya. Tali pengikat antar individu dalam masyarakat dan ajakan agar berpegang teguh pada ikatan tersebut itulah Dienul Islam. Kemudian beliau menyebutkan sumbu perbaikan hati ada tiga:

1. Penolakan terhadap hal-hal yang jelas merusak prinsip agama.
2. Mengambil manfaat yang jelas sesuai kebutuhan menurut agama.
3. Mempercepat penyempurnaan keindahan dengan pertumbuhan dengan akhlak yang mulia.

Dan setiap perbaikan diatas adalah petunjuk Al-Qur’an ke jalan yang lebih lurus. Barangsiapa mengambil petunjuk Al-Qur’an maka ia telah mengambil hidayah yang lurus untuk mengatasi masalah besar dalam dunia Islam dengan sebaik-baik jalan dan seadil-adilnya.

Perkara terbesar yang dihadapi dunia Islam ada tiga:

1. Lemahnya kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menghadapi orang kafir.
2. Penguasaan orang-orang kafir pada umat Islam dengan membunuh dan lain-lain.
3. Perselisihan hati dikalangan kaum muslimin. Dan ini merupakan sebab terbesar dalam menegakkan eksistensi umat Islam, mengatasi kelemahan dan hilangnya kekuatan serta Daulah, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46)

Kemudian Syaikh Amin menjelaskan bagaimana Al-Qur’an memberi petunjuk yang lurus dalam masalah-ma-salah itu semua dengan penjelasan bagai obat penyembuh.
Petunjuk dan dorongan untuk mendapat hidayah Al-Qur’an juga datang dari hadits-hadits Rasululah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Di dalam Shahih Muslim dari Zaid Ibnu Arqam bahwasanya ia bercerita: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di sisi kami dekat sumber air bernama Khumman antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan bersyukur kepadaNya kemudian memberi peringatan kemudian bersabda:

(( أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّـهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّـهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي ))

“Wahai manusia sesungguhnya aku manusia yang khawatir jika datang seorang Rasul Tuhanku, lantas aku me-menuhi panggilannya maka aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang berat; Pertama Kitabullah (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya maka berpegang teguhlah kalian dengannya.” Kemudian beliau memberikan dorongan agar timbul kecintaan dalam hati kami terhadap Kitabullah. Kemudian beliau bersabda: “Dan keluargaku.”
Dalam riwayat lain:

(( كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ مَنِ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ ))

“Kitabullah di dalamnya petunjuk dan cahaya. Barangsiapa berpegang teguh dengannya maka ia telah menda-patkan petunjuk dan barangsiapa yang menyelisihinya akan sesat.”
Di dalam riwayat Jabir Radhiallaahu 'anhu yang panjang ketika mensifati cara Nabi menunaikan ibadah haji bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya di hari Arafah:

(( وَإِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَالَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللهِ … ))

“Aku telah meninggalkan pada kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan sesat selamanya… Kitabullah…”
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( ضَرَبَ اللَّـهُ مَثَلاً صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى اْلأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلاَ تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ اْلأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ ))

“Allah memberi perumpamaan jalan yang lurus kemudian pada kedua sisinya terdapat pagar serta pintu-pintu yang terbuka. Di depan pintu-pintu itu terdapat kain penghalang. Di penghujung jalan ada yang menyeru: ‘Berjalanlah dengan lurus dan jangan bengkok’. Semen-tara di atasnya terdapat penyeru yang menyeru ketika ada yang bermaksud membuka pintu dari pintu-pintu yang ada: ‘Celaka engkau! Jangan kau buka, jika kau buka maka engkau akan celaka’.”

Kemudian Rasulullah menjelaskan hal itu dan mengabarkan bahwa jalan itu adalah Al-Islam sedang pintu yang terbuka adalah hal-hal yang dilarang Allah, sedang kain penghalang itu adalah ketentuan Allah, sedang penyeru di ujung jalan adalah Al-Qur’an dan penyeru di atasnya adalah penyeru Allah dalam hati setiap mukmin.
Dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Segolongan sahabat Rasulullah menulis Taurat kemudian hal itu diutarakan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka beliau bersabda:

(( إِنَّ أَحْمَقَ الْحُمْقِ وَأَضَلَّ الضَّلاَلَةِ قَوْمٌ رَغِبُوْا عَمَّا جَاءَ بِهِ نَبِيُّهُمْ إِلَيْهِمْ إِلَى نَبِيِّ غَيْرِ نَبِيِّهِمْ وَإِلَى أُمَّةٍ غَيْرِ أُمَّتِهِمْ ))

“Sebodoh-bodohnya orang dan paling sesatnya kaum adalah mereka yang menolak apa yang dibawakan nabi mereka dan mengambil dari nabi terdahulu dan begitu pula umat –yang mengambil tradisi– selain umat mereka sendiri.”

Kemudian Allah menurunkan ayat:
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Ankabut: 51).

Sesungguhnya dalam nash-nash di atas baik dari Al-Qur’an maupun hadits, kaya akan penekanan terhadap keagungan Al-Qur’an dan hidayahnya yang lurus, untuk mengetahuinya tidak sebatas pada satu sudut pandang karena hal itu terbukti dalam kenyataan yang dirasakan dan disaksikan dengan mata.

Hal itu dirasakan oleh orang yang dekat dan jauh, karena sesungguhnya ayat-ayat dan hadits-hadits di atas seluruhnya terbukti di antara dalam pemikir-pemikir Arab yang fasih dalam berbahasa dan meninggalkan kesan yang menakjubkan dalam hati mereka, sebagaimana terbukti dengan terangkatnya umat ini yang sebelumnya tidak tahu baca tulis di antara timbunan kebodohan dan kesesatan yang buta. Terangkatnya umat ini ke puncak kesempurnaan manusia setelah melalui perubahan dari umat yang tidak terkenal lagi lemah, menjadi umat yang berwibawa, mengatur negara, hingga mencapai wilayah di mana matahari tenggelam. Sehingga khalifah Abbasiyah Harun Ar-Rasyid berkata kepada awan dengan perkataannya yang terkenal:

“Turunlah kau sesukamu, maka (dimana kau turun) niscaya akan datang pemberianmu (upeti darimu).”
Perkataan yang memiliki makna yang dalam ini belum tercatat dalam sejarah semisalnya. Hal ini mengherankan musuh-musuh Islam hingga mereka mengumumkan ke-Islaman mereka karena kagum akan keagungannya disertai perasaan segan, sebagaimana persaksian mereka memberi peringatan kepada kaumnya serta berusaha sekuat tenaga untuk mengajak manusia dari Al-Qur’an.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman mengenai orang-orang kafir Quraisy:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)
Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang kafir Quraisy saling berwasiat agar tidak mengikuti Al-Qur’an dan tidak mematuhi perintah-perintahnya (wal ghau fiihi), maksudnya dengan tepuk tangan, bersiul, ditambah dengan ucapan-ucapan yang menyudutkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika beliau membaca Al-Qur’an.”

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan di antara manusia (ada) orang yang memperguna-kan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.” (Luqman: 6)
Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu menafsirkan lahwal hadits disini dengan nyanyian. Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Abi Shaibah Al-Bakri bahwa ia mendengar Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab: “Maksudnya adalah nyanyian, demi Allah yang tiada Tuhan selainnya”, beliau mengulang tiga kali.
Sebab turunnya ayat di atas adalah Nadhar Ibnu Harits membeli penyanyi-penyanyi wanita. Maka tidak ada seorang pun menginginkan masuk Islam melainkan ia menyuruh salah seorang penyanyi wanitanya seraya berkata: Beri dia makan dan minum serta bernyanyilah untuknya.

Musuh-musuh Islam dari kalangan salibisme lebih transparan dalam mengungkapkan kebencian mereka terhadap kalimat Tauhid. Ini menunjukkan kelemahan mereka di depan petunjuk.
Perdana Mentri pertama Inggris Gladston berkata: “Sela-ma Al-Qur’an ini ada, Eropa tidak akan pernah bisa menguasai orang-orang timur dan keadaan mereka (Eropa) sendiri dalam bahaya.”
Salah seorang misionaris Balcraf berkata: “Pada saat Al-Qur’an dan kota Makkah hilang dari negara Arab, maka akan memungkinkan kita untuk melihat perubahan orang-orang Arab menuju peradaban yang selama ini mereka dijauhkan darinya oleh Muhammad dan kitabnya.”

Pada peringatan 100 tahunnya penjajahan Perancis di bumi Al-Jazair, pemimpin mereka berkata: “Kita wajib menghapus Al-Qur’an dan bahasa Arab dari sisi mereka. Dan merubah bahasa Arab dari lidah mereka sehingga kita bisa menguasai mereka.”

Setelah beberapa tahun kemudian Perancis ingin memusnahkan Al-Qur’an dalam diri pemuda-pemuda Al-Jazair dengan percobaan yang diperaktekkan. Kemudian mereka mengambil 10 orang pemudi Al-Jazair yang dimasukkan dalam sekolah-sekolah di Perancis agar pulang membawa kebudayaan Perancis dan pemikirannya sehingga mereka seperti pemudi-pemudi Perancis.

Sebelas tahun kemudian setelah mereka berusaha dengan sekuat tenaga, mereka mengadakan pelepasan dengan pesta yang mewah dengan mengundang menteri-menteri, para pemikir dan wartawan. Ketika acara dimulai semuanya tercengang dengan para pemudi yang memakai pakaian muslimat Al-Jazair. Serentak mereka marah dan saling bertanya: “Apa yang diperbuat Perancis selama 128 tahun di Al-Jazair?” Maka Lockwast perdana menteri yang ditugaskan berkata: “Apa yang bisa diperbuat jika Al-Qur’an lebih kuat dari Perancis.”

“Para musuh melihat kelemahan mereka di hari peperangan, maka serigala dan singa tidak akan pernah berteman. Salah seorang mereka berkata: ‘Kalian tidak akan pernah menang, selama kaum itu mengetahui sejarah dan Al-Qur’an’.mereka mengetahui rahasia pengikat itu dan mendapatkan ilham, kesungguhan di medan perang merupakan mahar untuk mencapai cita-cita.”

Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur'an

Motivasi dan ancaman memberi kesan yang mendalam bagi pembentukan kepribadian dan kepemimpinan. Sebagaimana peringatan dari Al-Qur’an memiliki peranan yang sangat penting, keberadaan dalil-dalil –disamping men-jelaskan keutamaan Al-Qur’an yang mencakup hidayahnya–juga memberi motivasi pada interaksi dengannya menjanjikan pahala yang berlipat ganda, serta ancaman atas yang berpaling dan meninggalkannya dengan siksa yang amat pedih sebagai balasannya.

Motivasi Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur'an

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebaha-gian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Fathir: 29)

Al-Qurthubi berkata: “Orang-orang yang membaca dan mengetahui serta mengamalkan isi Al-Qur’an yaitu mereka yang mengerjakan shalat fardhu dan yang sunnah demikian juga dalam berinfaq.”
Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhaanahu wa Ta'ala mengabarkan keadaan hamba-hambaNya yang mukmin yaitu mereka yang membaca kitabNya, beriman dengannya, dan beramal sesuai dengan yang diperintahkan seperti mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.”

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَاْلأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلاَ رِيحَ لَهَا ))

“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah jeruk, rasanya manis dan harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma rasanya manis tetapi tidak memi-liki aroma. Perumpamaan orang yang berbuat maksiat tetapi membaca Al-Qur’an seperti kemangi yang harum aromanya tetapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang yang berbuat maksiat dan tidak membaca Al-Qur’an seperti labu yang tidak memiliki aroma dan rasanya pahit.”

Di dalam Shahih Muslim dari Uqbah Ibnu Amir ra berkata bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam keluar sedangkan kami di dalam rumah, maka beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang ingin pergi setiap hari ke Bathan atau ‘Aqiq kemudian datang dengan dua ekor unta perempuan serta diampuni dosa-dosanya dengan tanpa memutuskan silaturrahmi?”
Kami menjawab: “Wahai Rasulullah kami menyenangi hal itu.” Kemudian Rasulullah bersabda:

(( أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّـهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ ))

“Tidaklah salah seorang kalian pergi ke masjid kemu-dian belajar atau membaca dua ayat dari Al-Qur’an maka lebih baik baginya dari dua unta, tiga ayat lebih baik dari tiga unta, empat ayat lebih baik dari empat unta dan sebanyak bilangan ayat sebanyak itu pula unta yang diperolehnya.”
Dalam Sunan Abu Daud dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّـهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّـهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّـهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ))

“Tidaklah berkumpul suatu kaum di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama melainkan akan turun ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat dan Allah memuji mereka di antara –malaikat– yang ada di sisiNya.”
Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud berkata Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّـهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ: الـم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ))

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan hingga sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf melainkan Alif satu huruf Laam satu huruf Miim satu huruf.”
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ))

“Orang-orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan ber-sama para malaikat yang mulia yang senantiasa berbuat baik, sedang yang membaca Al-Qur’an tertatih-tatih dan terasa berat, baginya dua pahala.”
Imam Muslim dari Abi Umamah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَة شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ ))

“Bacalah Al-Qur’an sebab ia akan datang di hari Kiamat sebagai penolong pada sahabatnya.”
Beliau juga meriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ))

“Al-Qur’an didatangkan di hari Kiamat bersama ahli-nya, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia, surat Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan membela temannya.”
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Utsman bin Affan Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنُ وَعَلَّمَهُ ))

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Ibnu Katsir berkata dalam menjelaskan hadist ini: “Inilah sifat-sifat orang mukmin yang mengikuti sunnah Rasulullah, mereka menyempurnakan diri mereka dan selain mereka, yaitu dengan mengumpulkan sedikit manfaat yang ada padanya untuk ditularkan pada selainnya. Hal ini ber-beda dengan sifat-sifat orang kafir yang sombong, tidak memberi manfaat, dan tidak membiarkan seseorang meng-ambil manfaat, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka sik-saan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 88)

Dan sebagaimana firmanNya:
“Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripada-nya.” (Al-An’am: 26)

Pendapat yang paling benar dari para mufassirin dalam hal ini adalah: Mereka mencegah manusia dari mengikuti Al-Qur’an sebagaimana jauhnya mereka, maka terkumpul dalam diri mereka antara mendustakan dan berpaling dari Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :
“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripada-nya?” (Al-An’am: 157)

Ini merupakan kejelekan orang-orang kafir sebagai kebalikan dari keadaan orang-orang mukmin yang baik dan ber-usaha menyempurnakan diri mereka dan orang lain. Seba-gaimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Ia menghimpun dakwah ke jalan Allah baik dengan adzan atau panggilan lainnya seperti mengajarkan Al-Qur’an, Hadits, Fiqih dan lain-lain dengan mengharap ke-ridhaan Allah, dia beramal shalih untuk dirinya dan berkata baik. Maka tidak seorang pun yang lebih baik dari keadaan mereka. Sebagai contoh: “Abu Abdurrahman Abdullah Ibnu Habib As-Sulmi Al-Kufi salah seorang pemimpin Islam dan di antara ulamanya yang mencintai bidang ini. Maka beliau tekun mengajar manusia sejak pemerintahan Ustman Radhiallaahu 'anhu hingga masa Al-Hajjaj. Orang-orang berkata: “Beliau tinggal menetap dan mengajar Al-Qur’an selama 70 tahun –mudah-mudahan Allah merahmatinya dan menetapkan pahala baginya–. Amiin.”

Ismail Ibnu Abdillah Ibnu Umar berkata: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an maka seakan-akan ia memasuk-kan tanda kenabian dalam dirinya, hanya saja Al-Qur’an tidak turun padanya. Dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an kemudian melihat seseorang yang dikaruniai ke-utamaan lebih darinya, maka ia telah meremehkan pemberian Allah padanya dan membesarkan apa yang diremehkan Allah.”

Ancaman Bagi yang Meninggalkan Al-Qur'an Dan Berpaling Darinya

Telah sampai kepada kita sejumlah ayat yang menjelaskan ancaman terhadap orang yang berpaling dari Al-Qur’an, yang tidak mengambil manfaat darinya, juga keterangan mengenai siksaan yang pedih disebabkannya.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (Al-Kahfi: 57)
Syaikh Amin Asy-Syinqithi menjelaskan ayat ini dan yang semisalnya. Ia berkata: Allah menyebutkan ayat yang mulia ini dengan menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang lebih berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri selain dari orang yang jika disebutkan/diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya (Al-Qur’an) lalu berpaling. Dan yang disebutkan dalam ayat ini bahwa sebesar-besarnya perbuatan aniaya, disebutkan pula dalam ayat lain keterangan yang dihasilkan oleh perbuatan tercela ini ditambah dengan siksa yang pedih.

Di antara akibat buruk mereka adalah orang tersebut ter-golong manusia yang paling berbuat aniaya, Allah menutup hatinya sehingga tidak mengetahui kebenaran dan tidak bisa memperoleh petunjuk selamanya.
“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Al-Kahfi: 57)

Di antaranya juga siksaan Allah kepada orang yang berpaling dari peringatan sebagaimana firmanNya:
“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemu-dian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)

Kemudian keadaan orang yang berpaling itu seperti himar/keledai. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut.” (Al-Muddatsir: 49-50)

Lalu ancaman petir seperti petir yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud sebagaimana firmanNya:
“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud’.” (Fushshilat: 13)

Juga kehidupan yang sempit dan kebutaan. Firman Allah:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat.” (Al-Jin: 17)

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)

Dan banyak akibat lain dari yang disebutkan di atas yang merupakan akibat jelek dan siksa yang pedih akibat berpaling dari peringatan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta'ala .
Pada ayat yang lain Allah memerintahkan kita agar berpaling dari orang yang berpikiran sempit tentang kehidupan dunia. Kemudian hal itu menguasai mereka dan menjadi pengetahuan mereka, tanpa memiliki pengetahuan lain yang memberi manfaat pada hari kematiannya. Sebagaimana firman Allah:
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.” (An-Najm: 29-30)
Allah Subhaanahu wa Ta'ala melarang ketaatan terhadap orang yang hatinya dikuasai hawa nafsunya hingga lalai dan lupa kepada Allah.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.”(Al-Furqan: 30)

Ibnu Katsir mengatakan ketika menafsirkan ayat ini: “Hal itu karena orang-orang musyrik tidak menganggap Al-Qur’an sesuatu yang harus dihormati dan didengarkan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu da-pat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)

Dan jika dibacakan kepada mereka Al-Qur’an mereka menyibukkan diri dengan bercakap-cakap dalam hal lain sehingga mereka tidak mendengarkannya. Inilah sikap acuh mereka, mereka meninggalkan Al-Qur’an, tidak mengamalkannya, tidak mematuhi perintahnya, tidak menjauhi larangannya, menyimpang pada yang lainnya seperti syair, perkataan, nyanyian, permainan, dan hal-hal lain yang bisa menyibukkan mereka dari Al-Qur’an.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Pemberi anugerah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu agar menjauhkan kita dari hal-hal yang dibencinya dan menunjukkan kita kepada hal-hal yang diridhaiNya; seperti menghafal kitabNya, memahami dan menegakkan hukum-hukumnya sepanjang siang dan malam sesuai dengan yang diinginkanNya. Sesungguhnya Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi.

Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa golongan yang berpaling, yang dimaksud ayat tersebut ada bermacam-macam tingkatan. Beliau berkata: Macam-macam bentuk berpaling dari Al-Qur’an adalah:

· Berpaling dari mendengarnya, mengimaninya, dan memperhatikannya.

· Berpaling dari amal dan berhenti dari hal-hal yang dihalalkan atau diharamkan walau mereka membacanya dan meyakininya.

· Berpaling dari hukum-hukumnya baik dalam hal asas (aqidah) atau cabang agama dan beranggapan bahwa Al-Qur’an hanya perkataan yang tidak dapat dijadikan alasan (hujjah) dan tidak pula menambah ilmu.

· Berpaling dari merenungkannya dan memahaminya serta mendalami hal-hal yang dikehendaki Allah.

· Berpaling dari penyembuhan dengannya dari berbagai macam penyakit hati, namun meminta kesembuhan penyakitnya dari selain Allah.

Semua ini terkumpul dalam firman Allah:
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.” (Al-Furqan: 30)
Sesungguhnya sebagian yang ditinggalkan dari hal-hal di atas lebih hina dari sebagian yang lain.

Interaksi Dengan Al-Qur’an

Penjelasan Makna "An-Nashihah Li Kitabillah"

A. Pengertian An-Nashihah

Al-Mazuri berkata: “An-Nashihah diambil dari kata nashahatil asalu (bila madu itu murni), juga dikatakan menasihati sesuatu berarti membersihkannya. Menasihati seseorang jika membersihkannya dengan perkataan. Atau berasal dari kata an-nushhu (menjahit dengan jarum) artinya menghimpun perkara saudaranya dengan nasihat sebagaimana jarum menjahit pakaian. Di antaranya taubat yang sebenarnya, seperti dosa merobek agama sedangkan taubat menjahitnya.”

Al-Khattabi berkata: “An-Nashihah adalah kata yang baku yang disampaikan pada seseorang agar ia memperoleh keberuntungan atau manfaat. Dikatakan bahwa ia termasuk kumpulan nama-nama dan kalimat yang diringkas. Tidak ada dalam perkataan Arab, suatu kata yang di dalamnya mencakup ungkapan tentang makna kata nashihah ini, sebagaimana mereka berkata dalam ‘Al-Falah’ (kemenangan), tidak ada dalam perkataan Arab yang mencakup kebaikan hidup dan akhirat melebihi kata al-falah ini.

B. Keterangan Berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Imam Muhammad Ibnu Nashir Al-Marwazi berkata: “Nasihat pada Al-Qur’an maksudnya; Besarnya kecintaan terhadapnya dan pengagungan terhadap ketentuan hukumnya karena ia adalah firman Allah Sang Pencipta, mempunyai kemauan kuat dalam memahaminya, berhati-hati dalam merenungkan ayat-ayatnya, memperhatikan ketika membacanya untuk mengetahui maknanya sebagaimana diinginkan Allah agar Al-Qur’an itu difahami dan diajarkan kepada kaumnya. Kemudian dia menjadi penolong bagi hamba-hamba yang lain agar memahami kehendakNya, menegakkan apa yang diperintahkannya dan dicintaiNya setelah itu menyebarkan apa yang difahaminya dengan mengajar secara berkesinambungan dengan penuh kecintaan padanya dan berakhlak dengannya serta beradab dengan adabnya.”

Imam An-Nawawi berkata: “Interaksi dengan Al-Qur’an maksudnya kita beriman bahwasanya Al-Qur’an merupakan firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang diturunkanNya, tidak ada yang menyamainya dari perkataan makhluk karena tidak ada yang sanggup untuk membuat semisalnya. Kemudian mengagungkannya dengan membacanya sebaik mungkin disertai perasaan khusyu’, melafadzkan huruf-hurufnya dengan baik, membelanya dari penakwilan orang-orang yang menyeleweng, membenarkannya, menegakkan hukum-hukumnya, memahami ilmu-ilmunya dan permisalannya, mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan, memikirkan keajaibannya, melaksanakan ayat-ayat muhkam, menyerahkan ayat-ayat mutasyabihat pada Allah, mempelajari ayat-ayat umum dan khususnya, yang dinasakh dan mansukhnya, menyebarkan ilmu-ilmunya, mengajak kepadanya agar mendapat syafaatnya, serta segala sesuatu yang berupa peringatan di da-lamnya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Radhiallaahu anhu berkata: “Nashihat (interaksi) pada Al-Qur’an adalah belajar dan mengajarkannya, melafazhkan huruf-hurufnya dengan benar ketika membaca dan menulisnya, memahami makna yang terkandung di dalamnya, menjaga ketentuan-ketentuannya, beramal dengannya, membela dari penyelewengan yang dilakukan orang-orang batil terhadapnya.”

Inilah kumpulan makna “nashihat” yang diambil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan perkataan salaf serta perbuatan mereka. Keterangan lebih rinci tentang makna tersebut –Insya Allah– pada pembahasan selanjutnya.

Memperbanyak Bacaan Al-Qur'an Secara Terus Menerus

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang diperintahkan dalam kitabNya dan dianjurkan agar senantiasa dilakukan.
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur'an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimatNya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripadaNya.” (Al-Kahfi: 27)

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagi-an dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu meng-harapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya.” (Fathir: 29-30)
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam juga memberi dorongan perihal bacaan Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim dari Abi Umamah Al-Bahili berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ ))

“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat pada hari Kiamat bagi para pem-bacanya.”
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan contoh dalam membaca Al-Qur’an secara terus-menerus. Dalam Sunan Abu Daud dari Aus Ibnu Hudzaifah berkata: “Kami datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam suatu rombongan. Dikabarkan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang setiap malam setelah isya’ bercakap-cakap dengan mereka, kemudian pada suatu malam beliau terlambat dari kebiasaannya. Kami berkata: ‘Engkau ter-lambat malam ini!’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya aku membaca sebagian dari Al-Qur’an maka aku tangguhkan kedatanganku kemari setelah bacaanku selesai’.”

Kemudian Aus berkata: “Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah, bagaimana dulu kalian membaca Al-Qur’an?” Mereka menjawab: “Tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tigabelas hizb, satu hizb adalah satu bagian terpisah tersendiri.”

Di bagian hadits ini dijelaskan bahwa para sahabat Radhiallaahu 'anhum senantiasa membaca Al-Qur’an juga. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para saha-batnya memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan menghatam-kannya. Dari Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.”

Maksud dari hadits di atas adalah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengkhatam kan Al-Qur’an dalam waktu singkat namun tidak kurang dari tiga hari. Kemudian beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya seperti itu.
Dalam Sunan Said Ibnu Mansur dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فِيْ سَبْعٍ وَلاَ تَقْرَءُوْهُ فِيْ أَقَلِّ مِنْ ثَلاَثٍ ))

“Bacalah Al-Qur’an dalam tujuh hari dan janganlah kurang dari tiga hari.”
Ibnu Hajar berkata: “Sanad hadits ini shahih.”
Imam An-Nawawi mengisahkan tentang salaf ridhwanullahi ‘alaihim tentang seringnya mereka membaca dan menghatamkan Al-Qur’an. Beliau bersabda: “Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam meng-hatamkan Al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka menghatamkan Al-Qur’an dalam dua bulan satu kali, sebagian mereka tiap bulan, sebagian dalam sepuluh malam, sebagian dalam lima malam, sebagian mereka dalam empat malam, kebanyakan mereka setiap tiga malam, kemudian beliau menyebutkan kurang dari itu.”

Beliau menambahkan: “Orang-orang yang menghatamkan dalam satu minggu banyak sekali, diceritakan dari Utsman Ibnu ‘Affan, ‘Abdullah Ibnu Mas’ud, Zaid Ibnu Tsabit, Ubai Ibnu Ka’ab Radhiallaahu 'anhu dan banyak tabi’in seperti ‘Abdurrahman Ibnu Zaid, Al-Alqamah dan Ibrahim.”

Memperbagus Bacaan Dan Suara Dalam Membaca Al-Qur'an

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil: 4)
Ibnu Katsir v berkata: “Bacalah Al-Qur’an pelan-pelan. Terdapat riwayat yang menceritakan bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan.”
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Anas Radhiallaahu 'anhu dia ditanya tentang bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka Anas menjelaskan bacaan Nabi panjang-panjang. Dicontohkannya dengan bacaan “Bismi-llahirrahmanirrahim” dengan memanjangkan “Bismillaahi” kemudian “Arrahmaan” dan “Arrahiim”.

Dalam Sunan Abi Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Ummi Salamah Radhiallaahu 'anha mensifati bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan membaca huruf demi huruf.
Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama telah sepakat atas sunnahnya membaca Al-Qur’an secara tartil.”
Dalam melambatkan bacaan terdapat keutamaan yang besar. Kedudukan pembaca Al-Qur’an di akhirat sangat tinggi sesuai dengan bacaan yang dilambatkannya waktu di dunia. Pada Sunan At-Tirmidzi dari ‘Abdullah Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا ))

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, ‘Baca!’ dan naiklah sebagaimana engkau baca Al-Qur’an di dunia, karena tempatmu pada akhir ayat yang kau baca.”
Dalam Al-Musnad dari Abi Said Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِقْرَأْ وَاصْعُدْ، وَيَصْعُدُ بِكُلِّ آيَةٍ دَرَجَةً حَتَّى يَقْرَأُ آخِرِ شَيْءٍ مَعَهُ ))

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an apabila masuk surga: ‘Bacalah! dan mendakilah, maka ia mendaki dengan setiap ayat satu derajat hingga ia membaca ayat terakhir yang ia hafal.”
Seyogyanya menekankan bacaan dan memperbagus suara karena hal itu menambah kebagusan Al-Qur’an hingga di-terima pendengarnya serta meninggalkan bekas dalam hati. Dalam Sunan An-Nasa’i dan Ad-Darimi serta Al-Mustadrak Al-Hakim dari Barra’ Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا ))

“Baguskanlah Al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an.”
Dalam Sunan Abi Daud dari Abu Lubabah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ ))

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.”
An-Nawawi mengisahkan dari Jumhurul Ulama bahwa makna “lam yataghanna” adalah yang tidak membaguskan suaranya ketika membaca Al-Qur’an.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam qudwah (teladan) dalam hal ini. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Barra’ Ibnu ‘Azib berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca dalam shalat isya’ “At-Tiin waz Zaitun”, tidak pernah kudengar seseorang yang lebih bagus suaranya dari beliau .”

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Mughaffal berkata: “Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di atas unta yang sedang berjalan sedang beliau membaca surat Al-Fath atau sebagiannya dengan bacaan yang lembut. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam membacanya dengan melagukannya.”

At-Tarji’ memiliki dua makna:
1. Keadaan Nabi (yang terguncang) di atas unta sehingga menimbulkan getaran suara.
2. Beliau benar-benar menekankan sesuai panjang dan pendeknya, dan ini yang terjadi.

Ibnu Hajar mengisahkan hal ini dan menguatkan yang kedua karena lebih sesuai dengan kenyataan, karena Rasul pernah berbisik:

(( لَوْلاَ أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ لَقَرَأْتُ لَكُمْ بِذَلِكَ اللَّحْنِ ))

“Kalau sekiranya tidak menyebabkan manusia berkumpul niscaya kubaca kepada kalian dengan nada itu.”
Maksudnya lagu, dalam riwayat lain terdapat kata at-tarji’. Kemudian dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Daud, ini adalah lafazhnya dari hadits Ummu Hani: “Aku pernah men-dengar suara Rasulullah yang sedang membaca Al-Qur’an –ketika aku tidur di atas ranjang– dengan melagukannya.”

Ibnu Abi Jumrah berkata: “Makna at-tarjii’ adalah membaguskan suara.”
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memuji kepada sahabat yang memiliki suara bagus. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Sungguh saya diberi seruling dari seruling-seruling keluarga Nabi Daud.” Beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam menunjuk pada keindahan suara sahabat itu.

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata: “Saya pernah terlambat ke Rasulullah satu malam setelah isya’ beliau bertanya: “Dimana engkau bera-da?” Saya menjawab: “Saya mendengar bacaan dari salah seorang sahabatmu, aku belum pernah mendengar suara dan bacaan sebagus dia, kemudian Rasulullah berdiri lalu saya mengikutinya hingga beliau mendengarnya sendiri. Kemu-dian beliau menoleh pada saya seraya bersabda: “Ini adalah Salim budak Abi Hudzaifah, segala puji bagi Allah yang menjadikan orang sepertinya dalam umatku.” Bushiri berkata: “Isnad hadits ini shahih para perawinya terpercaya. Ibnu Katsir berkata: Sanadnya jayyid.”

Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala menyukai suara yang bagus dalam membaca Al-Qur’an dan memperdengarkannya. Dalam Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( مَا أَذِنَ اللهُ بِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيِّ حُسْنَ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يُجْهِرُ بِهِ ))

“Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan se-bagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melagukan Al-Qur’an secara lantang.”
Ibnu Atsir berkata: “Maksudnya Allah tidak memperhati-kan sesuatu sebagaimana perhatiannya terhadap Nabi dalam melagukan Al-Qur’an.”
Dalam Sunan Ibnu Majah dari Fudhalah Ibnu ‘Ubaid berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( اللهُ أَشَدُّ أُذُنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحُسْنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ ))

“Allah sangat memperhatikan orang yang bagus bacaan-nya dalam membaca Al-Qur’an daripada penyanyi terha-dap nyanyiannya.”
Al-Bushiri berkata: “Sanadnya hasan.” Ibnu Atsir berkata: “Sanadnya jayyid.”
Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama dari kalangan salaf (dahulu) maupun khalaf (belakangan) dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka di penjuru negeri muslim sepakat atas sunnahnya membaguskan suara dengan Al-Qur’an, perkataan dan perbuatan mereka ini sangat mashur. Kami memiliki perbendaharaan tentang hal ini. Dalil-dalil dari hadits tentang hal ini terperinci baik yang khusus maupun yang umum.”

Saya (penulis) katakan: “Benar, sesungguhnya membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya merupakan perintah syariat, karena dalil-dalil yang jelas dan shahih. Tetapi dengan syarat menjaga makharijul hurufnya (tempat-tempat keluarnya huruf) dan memantapkannya serta memenuhi hukum-hukumnya, karena makna tidak dapat di-fahami selain dengan jalan tersebut, sedangkan memahami dan merenungkan merupakan tujuan utama, karena itu ada pujian bagi pembaca yang mahir.”
Dalam Shahih Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ))

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia.”
Ibnu Hajar berkata: “Orang yang mahir/piawai disini maksudnya baik bacaan dan hafalannya.”
Tetapi jika perubahan irama mengakibatkan pelanggaran terhadap makna dengan menyembunyikan sebagian huruf atau menyelewengkannya atau tindakan lainnya yang menyebabkan makna berubah atau menyerupai penyanyi dan orang yang bercanda maka sesungguhnya ia tercela bukannya terpuji.

Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama berkata: ‘Sunnah hukumnya membaca Al-Qur’an dengan membagus-kan suara dan urutannya selama belum keluar dari batas bacaannya hingga berlebihan. Jika melampaui batas sehingga menambah satu huruf atau menyembunyikannya maka hal itu haram’.”

Adapun bacaan dengan berbagai dialek Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya tidak menyukainya. Sahabat-sahabat kami berkata: ‘Kami tidak berhujjah dengan dua pendapat tetapi ada keterangannya bahwa jika berlebihan hingga melampaui batas maka itulah yang tidak disukai dan jika tidak melanggar maka tidak dibenci’.”

Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi berkata: “Bacaan dengan lagu tertentu, jika hal itu menyimpang dari lafazh-lafazh Al-Qur’an dari bentuknya dengan memasukkan harakat dan menghapusnya atau memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek, berlebihan hingga menyembu-nyikan sebagian lafazh dan menimbulkan kerancuan makna, maka hal itu haram hukumnya dan pembacanya menjadi fasiq serta yang mendengarkan berdosa karena keluar dari aturan yang lurus kepada yang bengkok. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:

“(Ialah) Al Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (Az-Zumar: 28)
Jika tidak keluar bacaannya dari lafazh-lafazhnya tetapi hanya dengan melambatkan bacaan maka hal itu mubah (boleh) karena dia menambah lagu untuk membaguskan.”

Imam An-Nawawi mengomentari hal ini dengan menga-takan: “Perkataan ini sebaik-baik pemecahan atau penengah-an. Dan bagian pertama ini, bagian dari bacaan yang haram merupakan bencana yang diujikan kepada orang awam yang bodoh yang bertindak serampangan dengan membacanya untuk jenazah dan di waktu pesta. Ini merupakan bid’ah yang diharamkan secara jelas. Pada setiap pendengar yang membiarkan hal ini berdosa sebagaimana dikatakan Al-Mawardi dan juga bagi yang sanggup menghilangkannya atau mencegahnya namun tidak berbuat apapun.”

Ibnu Katsir berkata: “Tujuan yang diminta dalam agama adalah membaguskan suara yang membangkitkan semangat untuk merenungi Al-Qur’an dan memahaminya, khusyu’ dan penuh dengan ketundukan serta kepatuhan ter-hadap perintahnya. Sedangkan menyuarakan Al-Qur’an dengan patokan lagu dan irama yang bersifat hiburan dan aturan-aturan seperti musik dan yang menjalankan madzhab ini, maka Al-Qur’an terlalu suci dan agung untuk diperlaku-kan seperti itu. Dan telah datang sunnah yang menganggap hal itu dosa.”

Tidak diragukan lagi bahwa tujuan dari memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya untuk mendorong pendengar agar membawanya untuk merenung-kannya, tunduk dan terkesan dengannya. Alangkah bahagia-nya orang yang akalnya terikat oleh Al-Qur’an kemudian hatinya menjadi lembut karenanya. Perlu diketahui oleh pembaca Al-Qur’an sejauh mana ia terkesan ketika memba-canya sejauh itu pula bacaannya akan berkesan kepada yang mendengarkannya.

Dalam kitab Al-Mukhtaratu Lidh Dhiya’ dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنْ أَحْسَنَ النَّاسِ قِرَاءَةً الَّذِيْ إِذَا قَرَأَ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللهَ ))

“Sesungguhnya sebaik-baik bacaan manusia adalah jika ia membaca Al-Qur’an engkau melihat pembacanya benar-benar takut kepada Allah.”
Seorang pembaca Al-Qur’an sekaligus termasuk mengajak manusia ke jalan Allah, sehingga dia termasuk orang yang dipuji Allah dalam firmanNya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)
Sedangkan orang yang telah dikuasai setan kemudian melupakan Allah dan menjadi penyeru pada suaranya agar manusia kagum, maka alangkah ruginya perbuatan itu dan alangkah buruknya tempat kembalinya.
Dalam Shahih Muslim dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّـهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ ))

“Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid, ia menghadap kepada Allah, kemudian Allah memperlihatkan nikmat yang telah dika-runiakan kepadanya. Allah bertanya: ‘Untuk apa engkau berbuat dalam hal ini?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang untukMu sehingga aku mati syahid’. Lantas dijawab: ‘Engkau dusta, sesungguhnya engkau berperang agar manusia mengatakan bahwa engkau seorang pemberani’, kemudian Allah memerintahkan agar ia diseret dan di-lempar ke Neraka. Kemudian didatangkan seorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu Allah mem-perlihatkan nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Allah bertanya: ‘Untuk apa engkau berbuat dalam hal ini?’ Ia menjawab: ‘Aku belajar dan mengajarkan ilmu yang kudapat serta membaca Al-Qur’an untukMu’. Allah menjawab: ‘Engkau dusta, sesungguhnya engkau belajar agar dikatakan ‘alim dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan seorang qari’, kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilempar ke Neraka.”

Al-Ajuri berkata: “Seyogyanya bagi yang dikaruniai oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala suara yang baik ketika membaca Al-Qur’an agar mengetahui bahwa Allah telah mengaruniakan kebaikan khusus padanya maka hendaknya ia mengetahui kadar keistimewaan Allah baginya. Bacalah Al-Qur’an semata ka-rena Allah bukan untuk dipuji manusia. Berhati-hatilah dari kecenderungan untuk didengarkan orang agar memperoleh pujian, untuk mendapat dunia (harta), perasaan suka dipuji, untuk memperoleh kedudukan di dunia, hubungan dengan penguasa, lebih dari masyarakat umumnya. Barangsiapa cenderung kepada yang aku peringatkan maka aku khawatir suaranya yang bagus malah menjadi fitnah. Sedangkan suaranya akan memberi manfaat baginya jika ia takut kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam keadaan sendiri atau bersama yang lain. Yang diminta darinya agar ia memperdengarkan Al-Qur’an untuk memperingatkan orang-orang yang lalai agar berpaling dan mencintai apa yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala menjauhi apa yang dicegahnya. Siapa yang memiliki sifat ini maka suara-nya yang bagus bermanfaat baginya sendiri dan manusia.”

Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa Ia telah menurunkan Al-Qur’an ini untuk dibaca dengan perenungan dan pema-haman. Maka Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)
Allah Subhannahu wa Ta'ala mengingkari orang-orang yang tidak merenungkannya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)
FirmanNya yang lain:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu-lah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’: 82)

Syaikh Ibnu Sa’di v berkata dalam Tafsir-nya tentang ayat ini: “Allah memerintahkan agar kitabNya direnungkan dan diteliti maknanya dengan pandangan tajam dalam memi-kirkan asas-asasnya, ancamannya dan perintah-perintahnya. Maka dengan merenungkan kitab Allah akan mendapatkan kuncinya ilmu dan pengetahuan, menghasilkan banyak ke-baikan, asas semua ilmu, menambah keimanan dalam hati dan mengokohkannya seperti pohon yang akarnya tertancap, mengenalkannya kepada Allah yang disembah, mengenalkan sifat-sifat kesempurnaanNya, hal-hal yang menyucikannya dari kekurangan, mengenalkan jalan yang akan menyampai-kan kepadaNya dan sifat-sifat ahli jalan itu. Dan hal-hal yang dapat mendekatkan padaNya, mengenalkan kepada musuh yang sesungguhnya, dan ciri-ciri jalan yang menyebabkan penempuhnya disiksa. Setiap hamba akan bertambah pemahamannya, ilmunya dan perbuatannya serta penglihatan mata hatinya, karena maksud inilah Allah menurunkan Al-Qur’an.”

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)
Al-Allamah Muhammad Amin Asy-Syanqithi mengo-mentari ayat-ayat di atas yang memohon agar dihayati kemudian berkata: “Ayat-ayat yang disebutkan itu menunjukkan bahwa merenungkan Al-Qur’an dan memahaminya kemudian mengamalkan apa yang diperintahkannya merupakan perkara yang harus diperhatikan kaum muslimin.”

Hal itu merupakan urusan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para saha-batnya Radhiallaahu anhum, murid-murid mereka dari para tabi’in bersama Al-Qur’an. Dalam Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengisahkan pada orang-orang yang mem-baca Al-Qur’an di malam hari sekali atau dua kali. Kemudian berkata: “Mereka membacanya namun belum membaca yang sesungguhnya. Aku pernah berdiri bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam semalam suntuk. Beliau membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’. Beliau tidak melewati seayat pun mengenai ayat adzab melainkan memohon perlindungan kepada Allah dan tiada melewati ayat yang mengabarkan kenikmatan melainkan memohon kepada Allah.”

Di dalam Shahih Muslim dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu berkata: “Saya shalat bersama Nabi Shalallaahu alaihi wasalam suatu malam, beliau membaca surat Al-Baqarah. Aku katakan: ‘Beliau akan ruku’ setelah seratus ayat dibacanya’, (ternyata) beliau meneruskan mem-baca surat An-Nisa’ kemudian Ali Imran secara bersam-bung. Jika membaca ayat tasbih maka beliau bertasbih, jika melewati ayat permohonan beliau berdoa, jika melewati ayat perlindungan, kemudian beliau ruku’ dengan membaca ‘subhaana rabbiyal ‘adziim’.”

Juga dalam Shahih Muslim dari Abi Wail berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku membaca surat-surat mufasshal (surat pendek) dalam setiap rakaat. Maka Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Hal ini seperti rambut ini, sesungguhnya suatu kaum membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongannya (tidak berbekas), seandainya berbekas dan tertancap dalam hati niscaya bermanfaat.”

Dan dari Abi Ubaid dari Abi Hamzah, aku bertanya kepada Ibnu Abbas: “Sesungguhnya aku cepat dalam membaca dan jika membaca Al-Qur’an (khatam) dalam tiga hari. Maka beliau berkata: ‘Membaca surat Al-Baqarah dengan perlahan-lahan dan merenungkannya lebih baik bagiku daripada membaca seperti kamu katakan.”

Ibnu Hajar berkata: “Abu Daud memiliki jalur lain dari Abi Hamzah. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya aku seorang yang cepat bacaannya dan aku menghatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, maka Ibnu Abbas berkata: Membaca satu surat lebih aku sukai, jika engkau membaca maka bacalah dengan bacaan yang didengar telingamu dan berbekas dalam hatimu.”

Salah seorang dari mereka memanjangkan bacaannya ketika berdiri membaca ayat untuk menghayatinya. Dalam Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan Al-Mustadrak Al-Hakim dari Abi Dzar Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berdiri dengan mengulang-ulang ayatnya hingga pagi, yaitu ayat:
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118).

Dari Tamim Ad-Dari bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengulang-ulang ayat ini hingga menjelang pagi:
“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu me-nyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih.” (Al-Jatsiyah: 21).
Dari Abbad Ibnu Hamzah berkata: “Saya mengunjungi Asma’ Radhiallaahu anha sedang ia membaca:
“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Ath-Thur: 27)
Ia mengulang-ulangnya seraya berdoa hingga saya menunggu terlalu lama dan saya pun pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan saya, kemudian saya kembali sedang ia masih mengulang-ulanginya dan tetap berdoa.”
Ibnu Mas’ud mengulang-ulang firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha: 114)
Said Ibnu Jubair mengulang-ulang ayat:
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 281)
“Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka.” (Ghafir: 70-71)
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemu-rah.” (Al-Infithar: 6)

Dari nash-nash di atas menunjukkan amal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya serta tabi’in. Kita tahu pentingnya menghayati Al-Qur’an dan memahami apa yang dimaksud Allah Subhannahu wa Ta'ala padanya. Karena itu memperbanyak bacaan yang mengandung kesalahan adalah kurang terpuji, bahkan dilarang oleh nash-nash.

Dalam Sunan Abi Daud dan At-Tirmidzi dari Abdillah Ibnu Amr Ibnul ‘Ash Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

(( لاَ يَفْقَهُ مِنْ قَرَأَ الْقُرْآنُ فِي أقل مِنْ ثَلاَثٌ ))

“Tidak akan dapat memahami Al-Qur’an orang yang membaca kurang dari tiga hari.”
Imam An-Nawawi telah menjadikan kriteria ukuran kecepatan dalam membaca Al-Qur’an dan ukuran memper-banyak menghatamkannya adalah kemampuan perenungan dan pemahamannya. Beliau menceritakan keadaan orang-orang salaf dalam menghatamkan Al-Qur’an dan kecepatan mereka, kemudian berkata: “Pemilihan itu berbeda antar individu, barangsiapa memiliki kejernihan berfikir lembut di sekitar makna maka hendaknya ia memendekkan hingga mencapai kesempurnaan pemahaman dari yang dibacanya, demikian pula yang sibuk dengan mengajar atau selainnya dari kepentingan agama dan kemaslahatan kaum muslimin umumnya maka memperpendek sesuai ketentuan, yang disebabkan dari halangan untuk mewujudkannya. Kalau bukan termasuk golongan tersebut di atas maka hendaklah ia memperbanyak bacaannya tanpa melanggar batasan agama, dan terlalu cepat.”

Menangis Ketika Membaca Al-Qur'an Atau mendengarkannya

Menangis ketika membaca Al-Qur’an atau ketika mendengarkannya merupakan sifat orang mukmin yang sebenar-nya. Seorang mukmin ketika merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an, ia mendapatkan sifat yang sempurna dan agung pada Tuhannya. Pada saat itu hatinya dipenuhi gejolak dan pemu-liaan terhadap Tuhannya. Sebagaimana ia berdiri diatas kepercayaan terhadap Allah, dengan mengemban amanah yang langit dan bumi enggan memikulnya, Allah menjadikan ke-nikmatan yang abadi bagi yang melaksanakannya, juga sebaliknya mengancamkan siksa yang pedih bagi yang menyia-nyiakannya. Kemudian perasaan yang lalai dan penyalahgu-naannya akan menambah semakin besar penyesalan dan kesedihan yang berkepanjangan.

Imam Nawawi berkata: “Menangis ketika membaca Al-Qur’an merupakan sifat orang yang telah mencapai derajat pengetahuan yang dalam dan lambang bagi hamba-hamba Allah yang shalih.”
Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memuji para nabiNya dan hamba-hamba-Nya yang shalih. Dia berfirman:
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Allah Subhannahu wa Ta'ala juga berfirman:
“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi’. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’: 107-109)

Allah Subhannahu wa Ta'ala juga befirman:
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturun-kan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (Al-Maidah: 83)

Apa yang disebutkan dan diisyaratkan Allah dalam kitab-Nya tiada lain untuk menghibur mereka. Menangis ketika membaca Al-Qur’an dan mendengarkannya, telah menjadi lambang (tanda keagungan) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sahabat-sahabatnya serta sebaik-baik salaf ridhwanullahi ‘alihim.
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan saya: “Bacakanlah untukku Al-Qur’an”. Saya berkata: “Bagaimana saya akan membacakan untukmu, padahal Al-Qur’an di-turunkan kepadamu.” Rasul menjawab: “Ya, (tetapi) saya ingin mendengarnya dari selain saya.” Maka saya membaca surat An-Nisa’ hingga sampai pada ayat:
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabi-la Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa’: 41)

Beliau bersabda: “Cukup!” Dan kedua mata beliau menangis.
Ibnu Battha’ berkata: “Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menangis ketika dibacakan ayat ini karena beliau membayangkan dirinya akan kedahsyatan hari Kiamat ketika beliau dipanggil untuk menjadi saksi atas umat-umatnya dan permohonan syafa’atnya bagi orang-orang di Padang Mahsyar. Dan ini adalah perkara yang berhak ditangisi berkepanjangan.”

Ibnu Hajar berkata: “Orang yang menangis karena mengetahui bahwa amalnya pasti akan dipersaksikan, sedangkan tidak semuanya lurus/benar, hal itu akan menyebabkan siksa baginya.”
Ibnu Marduwaih dengan sanadnya dari Attha’ berkata: “Saya keluar bersama Ibnu Umar, Ubaid Ibnu Amir, ke rumah Aisyah Radhiallaahu anha , maka kami masuk ke rumahnya sedang antara kami dengannya terdapat hijab (penghalang). Aisyah bertanya: Wahai Ubaid apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami? Ubaid menjawab dengan perkataan penyair:
زُرْغُبًّا تَزْدَرْ حُبًّا.
“Perjaranglah mengunjungi seseorang niscaya bertambah kecintaan.”

Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata: “Maafkanlah kami, beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkanmu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.” Maka beliau menangis dan berkata: “Semua perkara beliau menakjubkan. Suatu malam dia mendatangiku hingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian bersabda: “Biarkan aku beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata: “Demi Allah, aku senang berada di dekatmu dan aku suka engkau beribadah kepada Tuhanmu, kemudian beliau berdiri dan berwudhu’ dengan tidak boros dalam pemakaian air, kemudian melaksanakan shalat sambil menangis hingga membasahi jenggotnya. Ketika itu Bilal akan mengumandangkan adzan Subuh. Bilal berkata: “Wahai Rasulullah apa yang membuatmu menangis padahal Allah telah menghapus dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Rasul menjawab: “Oh Bilal, apa yang menghalangiku untuk tidak menangis sedangkan malam ini telah turun ayat:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190)

Kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Celaka bagi yang membacanya namun tidak merenungkannya.”
Abdur Razzaq dengan sanadnya dari Qais Ibnu Abi Hazim berkata: “Abdullah Ibnu Rawahah pernah meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil menangis. Maka istri-nya menangis juga dan berkata: ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’ Ia menjawab: ‘Aku teringat firman Allah:
“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)
Aku tidak tahu akankah aku selamat atau tidak!
Dari Nafi’ berkata: “Ibnu Umar jika membaca ayat ini:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang ber-iman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (Al-Hadid: 16)

Beliau selalu menangis hingga tidak terkontrol.
Dari Umar bin Khattab Radhiallaahu anhu bahwasanya beliau shalat Subuh berjamaah, ketika itu membaca surat Yusuf, maka beliau menangis hingga air matanya membasahi tempat sujud. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa tangisan beliau terdengar sampai pada shaf-shaf belakang.

Di dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma berkata: “Ketika sakit Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertambah parah dikatakan pada beliau: ‘Shalat ….’ Beliau menjawab: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami orang-orang!’ ‘Aisyah Radhiallaahu anha berkata: ‘Sesungguhnya Abu Bakar orangnya lemah, jika membaca sering menangis’. Rasul berkata: ‘Perintahkanlah agar ia melaksanakan shalat). maka ‘Aisyah mengulangi perkataannya. Rasul kemudian bersabda: ‘Perintahkanlah agar ia melaksanakan shalat, sesungguhnya kalian seperti wanita di zaman Yusuf’.”

Dari Abi Shalih berkata: “Orang-orang dari Yaman mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallaahu anhu, mereka membaca Al-Qur’an dengan menangis. Maka Abu Bakar Radhiallaahu anhu berkata: Beginilah kami di zaman Rasul.”

Dari Az-Zuhri bahwasanya Umar Ibnu Abdul ‘Aziz suatu pagi memegang jenggotnya seraya membaca:
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepa-da mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara’: 205-207)

Kemudian beliau bersenandung:
“Siangmu tenang dan melalaikan, wahai orang yang dimaafkan, malammu kau gunakan untuk tidur berselimut.
Engkau bergembira dengan sesuatu yang akan musnah dan berbahagia dengan angan-angan, padahal kelezatan seakan mimpi di tengah malam.
Engkau berusaha terhadap suatu hal yang akan engkau benci pada akhirnya, begitulah engkau di dunia akan menjadi seperti hewan.”

Beramal Dengan Al-Qur'an

Aspek paling agung dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an dan bukti keimanan padanya yang paling tinggi adalah mengamalkannya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepa-danya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebe-narnya, mereka itu beriman kepadanya.” (Al-Baqarah: 121)
Kedudukan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya adalah orang yang paling jelas persaksiannya dalam hal ini. Karena mereka benar-benar berpegang teguh dengan Al-Qur’an seakan-akan mereka adalah Al-Qur’an yang berjalan diatas bumi. Begitulah orang-orang yang melihat mensifati mereka.

Karena itulah akan kami ringkaskan pujian atas mereka sebagai contoh atas perkataan dan perbuatan mereka karena mereka yang paling dalam penghayatannya dalam mewujud-kan tujuan Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha bahwasanya ia ditanya tentang akhlak Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam maka ia menjawab: “Akhlaknya seperti Al-Qur’an.”

Dalam Al-Ausath, Ath-Thabrani dan Al-Mustadrak, Al-Hakim dengan sanad hasan dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma bahwasanya ia berkata: “Aku telah hidup dalam waktu yang singkat dari umurku di dunia ini. Sesungguhnya salah seorang diantara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an di saat surat-surat Al-Qur’an masih turun berkesinambungan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Maka kami belajar tentang halal dan haramnya dan apa-apa yang seyogyanya kami perhatikan sebagaimana kalian mengajarkan Al-Qur’an. Kemudian aku melihat kaum yang diberi Al-Qur’an sebelum (diberi) iman maka ia mem-baca dari Al-Fatihah hingga hatam namun ia tidak tahu apa yang diperintah dan yang dilarang serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikannya bagai menabur kurma buruk.”

Al-A’masy meriwayatkan dari Abi Wail dari Ibnu Mas’ud Shalallaahu alaihi wasalam berkata: “Dahulu seorang di antara kami jika belajar 10 ayat tidak pindah hingga mengamalkannya, kami belajar dan mengamalkan Al-Qur’an secara bersamaan.”

Al-Hasan Ibnu Ali Radhiallaahu anhu berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an merupakan surat-surat dari Tuhan mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari dan melakukan inspeksi (tinjauan) di siang hari.”

Dan masih banyak kejadian-kejadian mengenai perilaku para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dalam pemuliaan Al-Qur’an dan kesiapan terhadapnya memberikan inspirasi dan kesigapan mereka kepada kita untuk beramal dan melaksa-nakan pemuliaan Al-Qur’an. Untuk mempertegas bukti kon-disi sifat mereka.di atas, akan kami lengkapi uraian sebagai berikut:

Dalam Shahih Mulim dari Abi Hurairah Radhiallaahu anhu berkata: “Ketika turun ayat ini kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan-nya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 284)

Para sahabat merasa berat akan hal itu. Maka mereka mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kemudian diam di atas unta seraya berkata: “Wahai Rasulullah , kami dibebani amanat-amanat yang kami sanggup mengembannya seperti shalat, puasa, jihad, dan shadaqah, dan telah turun ayat ini kepadamu yang kami tidak sanggup mengembannya.” Maka Rasulullah bersabda:

(( أُتُرِيْدُوْنَ أَنْ تُقُوْلُوْا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُوْلُوْا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ))

“Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana perkataan kaum Ahli Kitab sebelum kalian: ‘Kami mendengar dan kami mengingkari?’ Katakanlah: ‘Kami mendengar dan kami taat’. Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku dan kepadaMulah kami kembali.”

Kemudian mereka berkata: “Kami mendengar dan kami taat, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, kepadaMu-lah kami kembali!” Setelah mengucapkan hal itu, lisan mereka terasa berat. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam peristiwa ini:
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami ta’at’. (Mereka berdo’a): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285)

Ketika mereka melakukan apa yang diperintah Rasul, maka Allah menghapus –hukum– ayat itu dengan menurunkan ayat:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai de-ngan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Eng-kau bebankan kepada kami beban yang berat sebagai-mana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebe-lum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Al-Baqarah: 286)

Kisah ini memperkuat kenyataan sebelumnya. Ketika para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim kokoh keimanan dalam hati dengan mengamalkan setiap ayat Al-Qur’an yang mengandung hukum, mereka merasa berat melaksanakan satu ayat ini, karena harus mempertanggung-jawabkan hal-hal yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang dibisikkan dalam hati hamba-hambaNya. Karena hal itulah mereka mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan ketakutan, sebagaimana difahami dari ceritanya. Maka terasa berat yang demikian itu pada para sahabat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan kata-kata: “Kemudian mereka duduk bertekuk lutut.”

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiallaahu anhu berkata: Abu Thalhah merupakan orang Anshar yang paling banyak hartanya –berupa pohon-pohon kurma– di Madinah. Harta yang paling ia sukai adalah Bairuha’ yang berada di depan masjid, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . memasukinya dan meminum airnya yang baik. Ketika turun ayat:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian har-ta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)

Abu Thalhah berdiri di hadapan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam seraya berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah Shalallaahu alaihi wasalam berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)

“Sungguh harta yang paling aku sukai adalah Bairuha’, aku shadaqahkan untuk Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanan (pahalanya) di sisi Allah, pergunakanlah wahai Rasul sebagaimana Allah menentukan pada anda.”
Anas berkata: “Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: ‘Engkau telah mendengar apa yang aku katakan dan aku berpendapat sebaiknya engkau menjadikannya untuk kerabat terdekatmu’.”
Abu Thalhah berkata: “Akan aku lakukan wahai Rasulullah.” Kemudian Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma bahwasanya Umar memperoleh tanah dalam perang Khaibar, maka Umar mendatangi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam seraya berkata: “Aku memperoleh tanah dan tidak memperoleh harta yang lebih berharga dari itu, bagaimana perintah anda dalam hal ini?” Rasul menjawab: “Jika engkau mau, engkau pegang pokoknya dan sedekahkan hasilnya.”
Ibnu Hajar Rahimahullaah berkata: “Dalam hadits ini tampak keutamaan yang jelas pada diri Umar dalam mengaplikasikan firman Allah:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92).

Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Hamzah Ibnu Abdullah berkata: “Abdullah berkata ayat ini (Ali Imran: 92) datang padaku, dia mengingatkanku terhadap karunia Allah, aku tidak mendapati sesuatu yang lebih aku cintai dari budak perempuanku Rumayyah. Aku berkata: “Ia kumerdekakan untuk mengharap wajah Allah, kalau sekiranya aku ambil kembali hal yang telah kujadikan karena Allah tentu akan aku nikahi dia.”

Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Abi Mulkah berkata: “Dua orang yang mulia yaitu Abu Bakar dan Umar Radhiallaahu anhu hampir saja celaka karena keduanya mengangkat suara di atas suara Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika datang kafilah Bani Tamim, Abu Bakar menunjuk kepada Al-Aqra’ Ibnu Haabis –saudaraku dari Bani Mujasyi’ dan Umar menunjuk laki-laki lainnya, Nafi’ berkata saya tidak ingat namanya– maka Abu Bakar berkata kepada Umar: ‘Engkau tidak menginginkan melainkan pertentangan denganku!’ Umar menjawab: ‘Aku tidak ingin menentangmu!’ Keduanya berkata-kata dengan mengangkat suaranya masing-masing. Kemudian Allah menurunkan ayat:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagai-mana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap seba-hagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)
Berkata Ibnu Az-Zubair Radhiallaahu anhu: “Umar tidak ingin lagi mengeraskan suara pada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam setelah turunnya ayat ini, sampai beliau meminta penjelasannya.” Ibnu Az-Zubair tidak menyebutkan ini dari bapaknya.

Ibnu Hajar Rahimahullaah berkata: “Ibnu Mundzir mengeluarkan dari jalan Muhammad Ibnu Amr Ibnu Al-Alqamah bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallaahu anhu berkata seperti itu kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan hadits ini mursal. Al-Hakim mengeluarkannya secara bersambung dari hadits Abu Hurairah yang semisalnya.


Download Book Di sini !





Button Image Background by FreeButtons.org v2.0

0 komentar:

Poskan Komentar