English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : YBG

Xilisoft HD Video Converter 6 Full With serial

Wide range of formats support: Support HD videos like AVCHD (mts, m2ts), MKV, HD ASF, HD AVI, H.264/AVC, HD Quick Time, HD MPEG-4, and HD WMV, and general videos and audios like AVI, MPEG, WMV, MP4, 3GP, FLV, RM, MOV, MP3, WMA and AAC.

Trik dan SN Smadav Pro 8.4

Smadav 2011 Rev. 8.4 : Pendeteksian khusus untuk beberapa virus shortcut terbaru (MSO-sys, fanny-bmp),penambahan database 40 virus baru, penyempurnaan deteksi semua varian virus shortcut, penambahan teknik heuristik, dsb.

08 al-Khamr

Kartun Ahkamul Quran, merupakan kartun islamic yang memberikan tuntunan kepada kita tentang hukum-hukum dan adab-adab dalam agama islam. dan kali ini menceritakan tentang hukum meminum khamar (minuman keras)

NATURAL_HABBATUSSAUDA PLUS

HABBATUSAUDA adalah jinten hitam yang mampu membangkitkan sistem kekebalan tubuh (immunity system) yang mampu mempertahan tubuh dari serangan berbagai penyakit. Insya Alloh

Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

Cara Cepat Hafal Al - Quran


(Ummu Abdillah & Ummu Maryam, dinukil dari kutaib: “Kaifa Tataatstsar bil Quran wa Kaifa Tahfadzuhu?”)

Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah). Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di antaranya:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla.
Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

2. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa.
Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.

3. Membenarkan ucapan dan bacaan.
Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahualaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali. Para shahabat radliallahu anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran dan tajwidnya.

4. Membuat target hafalan setiap hari.
Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.

5. Membaguskan hafalan.
Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.

6. Menghafal dengan satu mushaf.
Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar.
Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf.
Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.

7. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal.
Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.
Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus.

Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar.
Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.

8. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan.
Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.

9. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).
Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa.
Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.

10. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah.
Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam : “Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya.”
Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: “Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu.” Akan tetapi hendaklah mengatakan: “Aku dilupakan,” karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda: (..arab..)

11. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa.
Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.

12. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.
Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan.
Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.

13. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.
Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua.
Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.


HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN

Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut.

Di antaranya:

1.       Banyaknya dosa dan maksiat.
Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.
2.       Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus.
3.       Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.
4.       Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
5.       Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.

Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam bishawwab.


Referensi: http://darulmunir.com

Sabtu, 14 April 2012

16 Tips Menghafal Al-Quran


Banyak sekali tips untuk menghafalkan Al-Qur’an yang telah dituliskan oleh para ulama, di antaranya:

1. Ikhlas sebagai kunci ilmu dan pemahaman.
Jadikan maksud dan tujuan kita dalam menghafal sebagai bentuk taqarrub kepada Allah SWT. Hadirkan pada diri kita bahwa yang sedang kita baca adalah Kalamullah Azza wa Jalla. Waspadalah, motivasi kita dalam menghafal bukanlah untuk mendapatkan kedudukan di tengah-tengah masyarakat atau untuk mendapatkan penghasilan dunia, upah, dan hadiah, melainkan karena Allah SWT semata. Allah SWT tidak akan menerima amal kecuali amal itu dikerjakan secara ikhlas untuk-Nya semata.



2. Menjauhi kemaksiatan dan perbuatan dosa.
Hati yang diselimuti oleh kemaksiatan dan disibukan dengan serbuan syahwat dunia tidak akan mendapatkan porsi cahaya Al-Qur’an. Kemaksiatan akan menjadi penghalang dalam menghafal Al-Qur’an. Ibnu Mubarak rahimahullah berkata :
Aku melihat dosa-dosa itu akan mematikan hati
Selalu melakukan dosa akan mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa merupakan hidupnya hati
Baik bagi dirimu bilamana meninggalkannya
Dikisahkan, suatu hari Imam Syafi’i rahimahullah yang memiliki kecepatan dalam menghafal mengadu kepada gurunya, Waki’, karena mengalami kelambatan dalam menghafal. Waki’ lalu memberikan obat mujarab, yaitu dengan nasihat agar dia meninggalkan perbuatan maksiat dan mengosongkan hati dari setiap penghalang antara dia dan Tuhan. Imam Syafi’I rahimahullah berkata:
Aku mengadu kepada (guruku) Waki’ atas buruknya hafalanku
Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan kemaksiatan
Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.
Barangsiapa memiliki kesungguhan untuk menjauhi kemaksiatan, maka Allah Azza wa Jalla akan membukakan hatinya untuk mengingat-Nya, membimbingnya dalam mentadaburi ayat-ayat kitab-Nya, memberikan kemudahan dalam menghafal dan mempelajarinya.

3. Memanfaatkan masa kanak-kanak dan masa muda.
Anak kecil memiliki banyak waktu luang. Ahnaf bin Qais meriwayatkan, dia pernah mendengar seseorang berkata:
“Belajar waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu”.
Maka Ahnaf pun berkomentar:
“Orang dewasa itu lebih pandai, akan tetapi hatinya lebih sibuk”.
Namun demikian, orang yang masa mudanya telah berlalu, jangan sampai merasa tidak memiliki kesempatan dan merasa lemah dalam menghafal. Sebabnya, bila dia kosongkan hatinya dari segala kesibukan dan kegundahan, maka dia akan mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman :
“Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar/54 :17)
Ketika seseorang beranjak dewasa, penglihatannya akan melemah. Tekadang dia tidak mampu membaca Al-Qur’an dari mushaf. Saat dewasa itulah dia akan mendapatkan yang telah dihafalnya. Simpanan hafalan dalam dadanya itu akan dibaca dan dinikmat dalam tahajudnya. Jika dia tidak mengingat sedikit pun yang telah dihafalnya, maka betapa besar penyesalannya.

4. Memanfaatkan waktu giat dan senggang.
Tidak layak menghafal waktu lelah dan membosankan, atau ketika pikiran sibuk dalam suatu perkara, karena semua itu akan menghalangi konsentrasi dalam menghafal. Pilihlah waktu giat dan keadaan pikiran sedang tenang. Alangkah baik menghafal dilakukan setelah Shalat Fajar (Subuh) karena lebih banyak manfaatnya, terlebih bagi orang yang tidur malam lebih awal.
Menggunakan waktu-waktu giat sangat penting. Kita harus mengetahui kapan diri kita bangkit untuk bekerja dan kapan beristirahat.
Bila datang kesempatanmu, maka pergunakanlah ia sebaik-baiknya
Karena akhir setiap yang bergerak adalah ketenangan
Jangan kamu lalai melakukan kebaikan saat ada kesempatan
Karena kamu tidak tahu kapan ketenangan (kesempatan) itu akan kembali
Di antara keindahan lantunan bait syair Imam Syafi’i agar kita menggunakan kesempatan untuk bergegas melakukan ketaatan adalah :
Bila orang-orang mulai terlelap tidur, aku pun menangis
Dan aku lantukan di antara bait syair yang terindah
Bukankah kerugian itu adalah malam-malam yang berlalu
Berlalu tanpa dilalui menuntut ilmu dan akan dihisab umurku?

5. Memilih tempat yang tepat.
Jauhi tempat-tempat bising dan keramaian agar kita dapat berkonsentrasi. Sebaik-baik tempat untuk menghafal Al-Qur’anul Karim adalah rumah-rumah Allah (masjid) agar mendapatkan pahala berlipat ganda.

6. Motivasi diri dan tekad yang benar.
Keinginan yang kuat dan benar akan memberikan pengaruh yang besar dalam menguatkan, memudahkan, dan berkonsntrasi dalam menghafal. Orang yang menghafal di bawah pengaruh tekanan kedua orangtuanya atau gurunya, tanpa timbul motivasi dari dalam dirinya, maka hal itu tidak akan berlangsung lama dan pasti akan mengalami masa futur (lemah semangat) yang berat.
Motivasi diri dan tekad yang benar akan bertambah dengan adanya penyemangat yang berkesinambungan, penjelasan tentang ganjaran dan kedudukan yang mulia bagi para penghafal Al-Qur’anul Karim dan majelis Al-Qur’an, serta adanya pengobaran semangat berlomba dalam halaqah Qur’an, rumah, atau sekolah.
Tekad yang benar dengan sendirinya akan menghilangkan bisikan-bisikan setan. Nafsu ammarah (jiwa penyuruh keburukan) pun akan sirna. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata:
“Barangsiapa memiliki tekad yang benar, maka setan akan berputus asa darinya, dan bila mana seorang hamba tidak teguh pendiriannya, maka setan akan selalu mengganggunya dan menjanjikan angan-angan yang terlalu jauh”.
Imam Ibnu Al-Jauzi rahimahullah bercerita tentang dirinya:
“Aku pernah merasakan manisnya dalam menuntut ilmu, aku pun menjumpai berbagai ujian yang menurutku lebih manis dari pada madu dikarenakan aku menginginkan yang aku harapkan”.

7. Memfungsikan semua indera.
Kemampuan satu orang dengan lainnya pasti berbeda, apalagi dalam menghafal Al-Quran. Namun, menggunakan semua pancaindera secara optimal akan memberikan kemudahan untuk menyimpan hafalan secara baik dalam ingatan.
Dalam proses menghafal Al-Quran ini, hendaknya kita dapat menfungsikan indera penglihatan, pendengaran, dan ucapan. Setiap indera kita memiliki jalan yang akan menyampaikannya kepada otak. Apabila cara yang dilakukan beraneka ragam, maka akan menghasilkan hafalan yang kuat dan mantap.
Kita bisa memulainya dengan membaca ayat yang akan kita hafal secara jahriyah (bersuara). Kita harus melihat dengan teliti halaman yang kita baca, serta mengulang-ngulannya, sampai halaman mushaf terekam dalam ingatan.
Hendaknya pendengaran kita gunakan dalam membaca sehingga terasa nyaman, khususnya bila kita membacanya dengan lagu yang indah.
Hindari cara-cara menghafal yang keliru, misalnya melihat mushaf dengan tidak bersuara, mendengarkan kaset Al-Qur’an tanpa melihat mushaf, atau merasa cukup dengan suara bacaan yang pelan.

8. Menggunakan satu cetakan mushaf.
Pilihlah cetakan Mushaf Huffazh, yaitu mushaf yang tiap awal halamannya diawali ayat baru dan di halaman itu pula berakhir ayat sesudahnya. Ini akan memberikan pengaruh cukup besar kepada kita dalam memberikan gambaran bentuk dan letak halaman dalam ingatan. Juga kita akan kembali terfokus ketika melakukan murajaah (mengulang hafalan).
Bila cetakan mushaf yang digunakan berubah-ubah, maka akan memberikan gambaran yang berbeda di dalam ingatan. Kita tidak akan dapat konsentrasi sehingga membuyarkan hafalan yang ada.
Jangan lupa untuk menggunakan mushaf saku atau mushaf yang dicetak per juz yang selaras dengan cetakan mushaf yang digunakan selama ini. Jadikan mushaf saku itu selalu bersama kita, di mana pun kita berada. Dengan mushaf tersebut kita dapat segera memanfaatkan waktu yang ada untuk hafalan baru atau mengulang hafalan yang ada.

9. Bacaan yang baik dan benar.
Sebelum mulai menghafal, kita harus membenahi bacaan terlebih dulu dengan merujuk kepada salah seorang guru yang memiliki bacaan yang baik dan benar. Bisa juga dengan mendengarkan potongan surat/ayat yang akan kita hafal, dengan suara salah seorang qari dari dari MP3 atau sejenisnya.
Bacaan yang baik dan benar itu diperlukan agar kita tidak jatuh kepada kesalahan dalam menghafal. Jika dalam proses menghafal kita salah membaca, maka kita akan mendapatkan kesulitan dalam memperbaikinya setelah melekat dalam ingatan. Imam Munada rahimahullah berkata:
“Ketahuilah bahwa menghafal itu ada beberapa cara, di antaranya adalah seseorang dapat membaca di hadapan orang yang lebih baik hafalannya, karena orang yang baik hafalannya lebih peka terhadap kesalahan orang yang membaca di hadapannya dibandingkan si pembaca tersebut terhadap kesalahannya sendiri saat membaca hafalan”.
Dengan demikian, kita harus berusaha untuk ikut talaqqi Al-Qur’an secara musyafahah (berhadapan langsung) dengan para penghafal Al-Qur’an atau para syaikh yang baik bacaannya, agar nantinya kita akan terhindar dari kesalahan dalam membaca.
Guru-guru Al-Quran tentu akan sangat memperhatikan perbaikan bacaan ayat-ayat yang akan dihafal oleh para muridnya. Mereka juga akan selalu membimbing muridnya untuk memperbaiki kata-kata yang sering salah baca, yaitu dengan menugasi mereka agar mengulang hafalannya di hadapan kawan-kawan untuk menghindari berbagai kesalahan pada saat menghafal.

10. Hafalan yang saling berikatan.
Jangan lupa, hafalan kita harus saling berikatan. Setiap kali kita menghafal satu ayat dengan baik, hendaknya kita mengulanginya dengan kembali membaca ayat sebelumnya yang telah kita hafal, setelah itu barulah pindah ke ayat-ayat berikutnya.
Usahakan, setelah kita menyelesaikan hafalan surat tertentu, jangan dulu tidak beranjak ke surat lainnya, sebelum kita yakin bahwa ayat-ayat yang telah kita hafalkan sudah benar-benar melekat di memori kita.

11. Memahami makna ayat yang dihafal.
Di antara hal yang dapat membantu mengikat ayat-ayat yang dihafal dan memudahkan dalam proses menghafal adalah sesekali merujuk kepada beberapa kitab tafsir yang disusun secara ringkas. Hal itu agar kita dapat memahami ayat-ayat tersebut, walaupun secara global.
Tentunya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah menguasai bahasa Arab dengan baik. Tapi bagi mereka yang belum menguasainya, bisa juga menggunakan Mushaf terjemahan. Pemahaman makna ayat/surat akan banyak membantu kita dalam menghafal.

12. Hafalan yang baik: jangan tergesa-gesa.
Ketika kita ingin memulai menghafal Al-Quran, usahakan jangan tergesa-gesa ingin cepat hafal ayat atau surat yang baru satu atau dua kali kita baca. Hafalan yang baik akan didapatkan dengan cara membaca berulang kali ayat-ayat yang akan kita hafal. Paling tidak, kita dapat membacanya minimal tujuh kali. Setelah kita merasakan ayat-ayat yang baru saja kita baca tadi telah melekat di dalam memori kita, barulah kita boleh pindah ke ayat berikutnya.
Banyak santri atau orang yang sedang menghafal Al-Quran, setelah membaca dua sampai tiga kali ayat yang akan dihafalnya, merasa sudah hafal. Setelah itu, ia pun mencoba pindah ke ayat berikutnya karena ingin segera menghafal ayat lain. Mungkin, hal itu terjadi karena adanya persaingan, para santri pun berlomba, atau sang guru membebaninya dengan hafalan dan target-target yang memberatkan.
Hal demikian sebenarnya tidak dapat dibenarkan dalam proses menghafal Al-Quran yang baik. Cara menghafal demikian tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menghafal sedikit-sedikit lebih baik daripada banyak tetapi terputus. Menghafal dengan tergesa-gesa akan mengakibatkan cepat lupa.
Terkadang yang menjadi penyebab fenomena tersebut adalah merasa puas dengan dirinya dan terperdaya akan hal itu –merasa cukup dengan membaca beberapa kali ayat/surat yang akan dihafal.

13. Memiliki bacaan yang berkesinambungan.
Hendaknya kita segera membaca Al-Qur’an ketika kesempatan itu datang. Sering membaca Al-Qur’an akan mempermudah dan melekatkan hafalan dalam memori kita. Bacaan yang banyak itu termasuk di antara metode paling mendasar dalam mengulang-ngulang hafalan.
Ayat/surat yang banyak kita baca dan perdengarkan kepada orang lain, akan dapat membantu kita dalam menghafal dan kita tidak perlu lagi bersusah-payah menghafalnya. Saat menghafal, ketika kita sampai pada ayat-ayat yang sering dibaca itu, maka kita akan melaluinya dengan mudah.
Kita ambil contoh, Surat yasin, Al-Waqi’ah, Al-Mulk, dan ayat-ayat terakhir dalam surat Al-Furqan, terlebih lagi surat-surat terdapat dalam Juz ‘Amma dan ayat-ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah yang sering dibaca banyak orang, akan lebih mudah kita hafal karena kita sering membaca dan mendengarnya dari orang lain.
Dari sini akan terlihat perbedaan yang amat mencolok antara orang yang memiliki wirid Al-Quran (tilawah harian) dengan yang tidak memilikinya. Bila kita terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari, secara berkesinambungan dan dengan target tertentu, kita akan dapat menghafal Al-Quran dengan mudah. Kita akan sering dapati, ayat/surat yang akan kita hafal seakan-akan sudah pernah kita dihafal. Kita akan sulit menghafal jika kita jarang atau sedikit membaca Al-Quran dan tidak memiliki target tertentu setiap harinya.
Jangan lupa, membaca Al-Qur’an itu ibadah dan bentuk taqarrub kepada Allah SWT. Setiap ayat yang kita baca bernilai satu pahala yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

14. Kuatkan hafalan dalam shalat.
Banyak membaca surat-surat yang pernah kita hafal akan dapat menguatkan dan melekatkan hafalan dalam memori, khususnya dalam shalat. Oleh karenanya, hendaknya kita selalu bersungguh-sunguh mengulang-ngulang hafalan dengan membacanya di dalam shalat. Kita dapat melakukan hal itu dalam shalat tahujud beberapa rakaat.
Rasulullah SAW sebagai qudwah, pemberi petunjuk dan pemberi kabar gembira, telah mengajarkan cara demikian. Cara itu juga pernah dilalui oleh orang-orang shalih sehingga hafalan Al-Qur’an mereka kuat, tidak mudah lupa. Rasulullah SAW bersabda :
“Dan apabila seorang penghafal Al-Qur’an mendirikan shalat kemudian dia membacanya siang dan malam hari; maka dia akan selalu mengingatnya, dan apabila dia tidak melakukannya maka dia akan melupakannya“ (H.R. Muslim).

15. Menghafal sendiri sedikit manfaatnya.
Barangkali ada kebiasaan buruk pada diri kita, yaitu suka menunda pekerjaan; mengatakan “nanti” setiap kali terlintas pada diri kita untuk segera menghafal. Saat kesibukan menghadang, kita pun menundanya. Lebih buruk lagi, tekad kita akan cepat melemah.
Karenanya, hindari menghafal sendirian. Menghafallah bersama-sama seorang kawan. Dengan begitu, kita pun akan dapat membuat perencanaan dan satu sama lain akan saling membantu, saling berlomba satu sama lain, juga saling mengingatkan bila terjadi kesalahan dalam membaca dan menghafal.
Betapa banyak peserta halaqah tahfizh Al-Quran di masjid, mushalla, di rumah, dan sebagainya telah menghafal beberapa juz. Karena kesibukannya, mereka tidak dapat menghadiri halaqah-halaqah tersebut. Mereka pun mengira mampu menghafal secara individu dan tidak butuh lagi hadir dalam halaqah. Celakanya, semangat mereka terlihat melemah dan akhirnya berhenti menghafal.
Yang lebih parah lagi, terkadang mereka disibukkan oleh urusan dan pekerjaan yang membuat mereka meninggalkan murajaah hafalan yang lalu mereka hafal. Demikianlah, hari demi hari berlalu dan mereka lupa semua yang mereka pernah hafalkan. Mereka menyia-nyiakan semua yang pernah mereka raih.
Menghafal sendiri, tanpa bimbingan seorang guru, juga akan dihadapkan pada kesalahan saat mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an. Memang, tanpa disadari, kesalahan itu akan terus berlangsung dalam tempo yang lama. Namun, ketika dia memperdengarkan hafalannya di hadapan peserta lainnya atau di hadapan gurunya, maka kesalahan tersebut akan nampak jelas.
Oleh karena itu, kita dapat memilih dan mengajak beberapa teman, peserta halaqat tahfizh, atau saudara
yang kita cintai karena Allah SWT, untuk sama-sama menghafal Al-Qur’an. Kita bisa saling mengoreksi dan melakukan murajaah hafalan.

16. Teliti dalam membaca ayat-ayat yang mirip.
Penting sekali memperhatikan ayat-ayat yang mirip pada beberapa lafazh dan membadingkan letak kemiripannya. Bagus sekali, jika sedang menghafal, kita menuliskan ayat-ayat yang mirip, dengan harapan agar kita dapat menghadirkan letak ayat yang mirip saat murajaah.
Kalau kita amati, sebagian peserta halaqat tahfizh tidak memperhatikan letak ayat-ayat yang mirip. Mereka pun mengalami kesalahan saat tasmi’ (memperdengarkan) hafalan. Kemiripan satu ayat dengan ayat lainnya akan dapat mengganggu konsentrasi.
Tanpa kita sadari, bisa jadi mereka akan berpindah ke surat berikutnya. Terkadang saat tasmi’ kita akan “nyasar” dan berpindah ke surat atau ayat lainnya karena ada beberapa ayat yang mirip. Oleh karena itu, kita harus lebih fokus pada ayat-ayat yang mirip, mengamatinya, dan ada perhatian lebih terhadapnya. Perhatikan ungkapan salah seorang ulama:
“Sesungguhnya mengenal letak ayat yang mirip akan memberikan kemudahan dalam menguatkan hafalan seorang penghafal dan melatih peserta halaqat tahfizh. Ada satu kelompok Qurra (para qari’/ahli qiraat) yang menulis jenis ini dan mereka menjulukinya dengan sebutan Al-Mutasyabih sebagai jawaban dari buruknya hafalan”.
Mudah-mudahan, tips menghafal Al-Qur’an di atas dapat membantu kita dalam menghafal Kalamullah. Amin! Allahu a’lam bish-shawab.*

Jumat, 25 Februari 2011

TAFSIR AL-FATIHAH


بسم الله الرحمان الرحيم

Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Fatihah : 1)

Disebut Al-Fatihah artinya pembukaan kitab tertulis dan dengan Al-Fatihah itu dibuka bacaan di dalam shalat.

Anas bin Malik menyebutkan, Al-Fatihah itu disebut juga Ummul Kitab menurut jumhur ulama. Dalam Hadist Shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairoh, ia menuturkan rasululloh bersabda : “(الحمد لله ربّ العالمين ) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, As-Sab’ul Matsani ( tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan Al-Qur’anul ‘Azhim”.

Surat ini disebut juga dengan sebutan Al-Hamdu dan Ash-Sholah. Hal itu didasarkan pada sabda Rasululloh, dari Rabbnya, Dia berfirman : “Aku membagi shalat antara diri-Ku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian”. Jika seorang hamba mengucapkan : “( الحمد لله ربّ العالمين )”, maka Alloh berfirman, “Aku telah dipuji hamba-Ku”

Al-Fatihah disebut Ash-Shalat, karena Al-Fatihah itu sebagai syarat sahnya shalat. Selain itu, Al-Fatihah disebut juga Asy-Syifa. Berdasarkan hadits riwayat Ad-Darimi dari Abu Sa’id, sebagai hadits , “Fatihatul Kitab itu merupakan penyembuh dari setiap racun”.

Juga disebut Ar-Ruqyah. Berdasarkan hadits Abu Sa’id, yaitu ketika menjampi seseorang yang terkena sengatan, maka Rasululloh bersabda :”Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah Ruqyah”

Surat Al-Fatihah diturunkan di Makkah. Demikian dikatakan Ibnu Abbas, Qotadah, dan Abul’Aliyah. Tetapi ada juga yang berpendapat turun di Madinah. Inilah pendapat Abu Hurairah, Mujahid, ‘Atha bin Yasar, dan Az-Zuhri. Ada yang berpendapat, surat qal-Fatihah turun dua kali, sekali turun di Makkah dan yang sekali lagi di Madinah.

Pendapat pertama lebih sesuai dengan firman Alloh :

ولقد ءاتيناك سبعا من المثاني

Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu sab’an minal matsani (Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) (Q.S. Al-Hijr : 87)

Wallohu a’lam

Dan surat ini, secara sepakat terdiri dari tujuh ayat. Hanya saja terdapat perbedaan dalam masalah basmalah, apakah sebagai ayat yang berdiri sendiri pada awal surat Al-Fatihah, sebagaimana menurut kebanyakan ahli Qurra’ Kufah, dan pendapat sebagian Sahabat dan Tabi’in. Atau bukan sebagai ayat pertama dari surat tersebut, sebagaimana yang dikatakan para Qurra’ dan ahli fiqih Madinah. Dan mengenai hal ini terdapat tiga pendapat, yang insya Alloh akan dikemukakan pada pembahasan berikutnya.

Mereka mengatakan : “Surat Al-Fatihah terdiri dari 25 kata dan 113 huruf”. Al-Bukhari dalam awal kitab tafsir : “ Disebut Ummul Kitab, karena Al-Fatihah ditulis pada permulaan Al-Qur’an dan dibaca pada permulaan Shalat. Ada juga yang berpendapat, disebut demikian karena seluruh makna Al-Qur’an kembali apa yang dikandungnya.”

Ibnu Jarir mengatakan :”Orang Arab menyebut ‘Umm’ unutk semua yang mencangkup atau mendahului sesuatu jika mempinyai hal-hal lain yang mengikutinya dan ia sebagai pemuka yang meliputinya. Seperti Umm al ra’s, sebutan untuk kulit yang meliputi otak (kepala). Mereka menyebut bendera dan panji tempat berkumpulnya pasukan dengan umm.”

Dzu Ar-Rummah mengatakan :

على رأسه أمّ لنا نقتدي بها * جماع أمور ليس نعصى لها أمرا

Pada ujung tombak itu terdapat panji kami, yang menjadi lambang bagi kami.

Sebagai pedoman segala urusan, yang sedikitpun tak kan kami mengkhianatinya.

(Maksudnya tombak)

Makkah disebut umm al-Qurra’ karena keberadaannya terlebih dahulu dan sebagai penghulu bagi kota-kota lain. Ada juga yang berpendapat karena bumi dibentangkan darinya.

Dan benar Al-Fatihah disebut As-Sab’ul Matsani karena dibaca berulang-ulang dalam shalat, pada setiap rakaat, meskipun kata Al-Matsani memiliki makna lain, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Insya Alloh

Keutamaan Al-Fatihah

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mulla, katanya:”Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasululloh memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya, hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau , maka beliau pun bertanya : “ Apa yang menghalangimu datang kepadaku?” Maka aku menjawab :” Ya Rasululloh, sesungguhnya aku tadi sedang mengerjakan shalat” Lalu beliau berkata :”Bukankah Alloh Ta’ala telah berfirman :

ياأيّها الّذين ءامنوا استجيبوا لله وللرسول إذا دعا كم لما يحييكم

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada yang member kehidupan kepadamu” (Q.S. Al-Anfal :24)

Dan setelah itu beliau bersabda : “ Aku akan ajarkan kepadamu suatu surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid ini”. Maka beliaupun menggandeng tanganku. Dan ketika beliau hendak keluar dari masjid, aku katakana :”Ya Rasululloh, engkau tadi telah berkata akan mengajarkan kepadaku surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an.” Kemudian beliau menjawab : ‘Benar, (الحمد لله ربّ العالمين), ia adalah As-Sab’ul Matsani dan Al-Qur’an Azhim yang telah diturunkan kepadku.”

Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Inbu Majah, melalui beberapa jalur sanad Syu’bah.

Para ulama menjadikan hadits ini dan semisalnya sebagai dalil keutamaan dan kelebihan sebagian ayat dan surat atas yang lainnya, sebagaimana disebutkan banyak ulama, diantaranya Ishaq bin Rahawaih, Abu Bakar ibnu Al-Arabi, Ibnu Haffar seorang penganut madzhab Maliki.

Sedangkan sekelompok lainnya berpendapat bahwasanya tidak ada keutamaan suatu ayat atau suatu surat atas yang lainnya, karena semuanya merupakan firman Alloh. Supaya hal itu tidak menimbulkan dugaan adanya kekurangan pada ayat yang lainnya, meski semuanya itu memiliki keutamaan.

Pendapat ini dinukil oleh al-Qurthubi dari al-Asy’ari, Abu Bakar al-baqillani, Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti, Abu Hayyan, Yahya bin Yahya, dan sebuah riwayat dari Imam Malik.

Ada hadits riwayat al-Bukhari dalam kitab Fadhailul Qur’an, dari Abu Sa’id al-Khudri, katanya : “ Kami pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu kami singgah, tiba-tiba seorang budak wanita datang seraya berkata :” Sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak ada di empat, apakah di antara kalian ada yang bisa memberi ruqyah?” Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri bersamanya, yang kami tidak pernah menyangkanya bisa meruqyah. Kemudian orang itu membacakan ruqyah, maka kepala sukunya itu pun sembuh. Lalu ia (kepala suku) menyuruhnya diberi tiga puluh ekor kambing sedang kami diberi minum susu. Setelah ia kembali, kami bertanya kepadanya : “ Apakah engkau memang pandai dan bisa meruqyah?” Maka ia pun menjawab : “ Aku tidak meruqyah kecuali dengan Ummul Kitab”.”Jangan berbuat apapun sehingga kita dating dan bertanya kepada Rasulullah” sahut kami. Sesampainya di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi, maka beliau pun bersabda : “ Dariman dia tahu bahwa surat Al-Fatihah itu sebagai ruqyah, bagi-bagilah kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku.” Demikian pula riwayat Muslim dan Abu Dawud.

(Dilanjutkan dipost berikutnya!!!)