English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : YBG

Xilisoft HD Video Converter 6 Full With serial

Wide range of formats support: Support HD videos like AVCHD (mts, m2ts), MKV, HD ASF, HD AVI, H.264/AVC, HD Quick Time, HD MPEG-4, and HD WMV, and general videos and audios like AVI, MPEG, WMV, MP4, 3GP, FLV, RM, MOV, MP3, WMA and AAC.

Trik dan SN Smadav Pro 8.4

Smadav 2011 Rev. 8.4 : Pendeteksian khusus untuk beberapa virus shortcut terbaru (MSO-sys, fanny-bmp),penambahan database 40 virus baru, penyempurnaan deteksi semua varian virus shortcut, penambahan teknik heuristik, dsb.

08 al-Khamr

Kartun Ahkamul Quran, merupakan kartun islamic yang memberikan tuntunan kepada kita tentang hukum-hukum dan adab-adab dalam agama islam. dan kali ini menceritakan tentang hukum meminum khamar (minuman keras)

NATURAL_HABBATUSSAUDA PLUS

HABBATUSAUDA adalah jinten hitam yang mampu membangkitkan sistem kekebalan tubuh (immunity system) yang mampu mempertahan tubuh dari serangan berbagai penyakit. Insya Alloh

Tampilkan postingan dengan label Shiroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shiroh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2011

Sejarah Islam Nusantara


Risalah Islam Indonesia


Muslim Indonesia punya sejarah luar biasa. Sahabat Rasulullah, pernah pula langsung berdakwah di Nusantara.

Melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia bukanlah urusan mudah. Tak banyak jejak yang bisa dilacak. Ada beberapa pertanyaan awal yang bisa diajukan untuk menelusuri kedatangan Islam di Indonesia. Beberapa pertanyaan itu adalah, darimana Islam datang? Siapa yang membawanya dan kapan kedatangannya?

Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.

Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.

Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck Hurgronje yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya.
Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran. Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya.

Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.

Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.

Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-o-rang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin.

Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.

Biasanya, para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh, termasuk Indonesia. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16.

Hal ini juga bisa dilacak dari catatan para peziarah Budha Cina yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 untuk pergi ke India. Bahkan pada era yang lebih belakangan, pengembara Arab yang masyhur, Ibnu Bathutah mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah Nusantara. Tapi sayangnya, tak dijelaskan dalam catatan Ibnu Bathutah daerah-daerah mana saja yang pernah ia kunjungi.

Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.

Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.

Sebuah literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib al Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil tersebut.

“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,” demikian antara lain bunyi surat Raja Sriwijaya Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada tahun 100 hijriah atau 718 masehi.

Tak dapat diketahui apakah selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara Sriwijaya Dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Indonesia. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.

Pada awal abad ke-12, Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan. Kemunduran Sriwijaya ini pula yang berpengaruh pada perkembangan Islam di Nusantara. Kemerosotan ekonomi ini pula yang membuat Sriwijaya menaikkan upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. Dan hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam.

Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.

Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy dalam makalahnya pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh yang digelar pada tahun 1978. Menurut Ali Hasjmy, kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak.

Masih banyak perdebatan memang, tentang hal ini. Tapi apapun, pada periode inilah Islam telah memegang peranan yang signifikan dalam sebuah kekuasaan. Pada periode ini pula hubungan antara Aceh dan kilafah Islam di Arab kian erat.

Selain pada pedagang, sebetulnya Islam juga didakwahkan oleh para ulama yang memang berniat datang dan mengajarkan ajaran tauhid. Tidak saja para ulama dan pedagang yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam dan datang langsung ke sumbernya, di Makkah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh, terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke-16. Bahkan pada tahun 974 hijriah atau 1566 masehi dilaporkan, ada lima kapal dari Kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah.

Ukhuwah yang erat antara Aceh dan kekhalifahan Islam itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Makkah. Puncak hubungan baik antara Aceh dan pemerintahan Islam terjadi pada masa Khalifah Utsmaniyah. Tidak saja dalam hubungan dagang dan keagamaan, tapi juga hubungan politik dan militer telah dibangun pada masa ini. Hubungan ini pula yang membuat angkatan perang Utsmani membantu mengusir Portugis dari pantai Pasai yang dikuasai sejak tahun 1521. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya Portugis juga sempat digemparkan dengan kabar pemerintahan Utsmani yang akan mengirim angkatan perangnya untuk membebaskan Kerajaan Islam Malaka dari cengkeraman penjajah. Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari perairan yang akan dilalui Muslim Aceh yang hendak menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu. Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah.

Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon. Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.

Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.

Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.

Giri berkembang dan menjadi pusat keagamaan di wilayah Jawa Timur. Bahkan, Buya Hamka menyebutkan, saking besarnya pengaruh kekuatan agama yang dihasilkan Giri, Majapahit yang kala itu menguasai Jawa tak punya kuasa untuk menghapus kekuatan Giri. Dalam perjalanannya, setelah melemahnya Majapahit, berdirilah Kerajaan Demak. Lalu bersambung dengan Pajang, kemudian jatuh ke Mataram.

Meski kerajaan dan kekuatan baru Islam tumbuh, Giri tetap memainkan peranannya tersendiri. Sampai ketika Mataram dianggap sudah tak lagi menjalankan ajaran-ajaran Islam pada pemerintahan Sultan Agung, Giri pun mengambil sikap dan keputusan. Giri mendukung kekuatan Bupati Surabaya untuk melakukan pemberontakan pada Mataram.

Meski akhirnya kekuatan Islam melemah saat kedatangan dan mengguritanya kekuasaan penjajah Belanda, kerajaan dan tokoh-tokoh Islam tanah Jawa memberikan sumbangsih yang besar pada perjuangan. Ajaran Islam yang salah satunya mengupas makna dan semangat jihad telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan Indonesia melawan penjajah. Tak hanya di Jawa dan Sumatera, tapi di seluruh wilayah Nusantara.

Muslim Indonesia mengantongi sejarah yang panjang dan besar. Sejarah itu pula yang mengantar kita saat ini menjadi sebuah negeri Muslim terbesar di dunia. Sebuah sejarah gemilang yang pernah diukir para pendahulu, tak selayaknya tenggelam begitu saja. Kembalikan izzah Muslim Indonesia sebagai Muslim pejuang. Tegakkan kembali kebanggaan Muslim Indonesia sebagai Muslim bijak, dalam dan sabar.

Kita adalah rangkaian mata rantai dari generasi-generasi tangguh dan tahan uji. Maka sekali lagi, tekanan dari luar, pengkhianatan dari dalam, dan kesepian dalam berjuang tak seharusnya membuat kita lemah. Karena kita adalah orang-orang dengan sejarah besar. Karena kita mempunyai tugas mengembalikan sejarah yang besar. Wallahu a’lam.n (Oleh Herry Nurdi/Sabili)

Sabtu, 29 Januari 2011

Letak Strategis dan Suku-suku di Jazirah Arab

Letak dan penduduk

Jazirah Arabiyah terletak disebelah barat daya dari benua Asia, dari arah barat berbatasan dengan laut merah, dan dari arah timur berbatasab dengan teluk Arab dan teluk 'Umman, dan dari arah selatan berbatasan dengan samudera Hindia dan laut Arab, dan dari arah utara berbatasan dengan sebagian wilayah Syam dan Irak.

Dia adalah daratan yang luas, panjangnya dari utara sampai selatan diperkirakan lebih dari 1000 Km. Adapun lebarnya dari timur sampai barat, maka diperkirakan lebih dari 1500 Km. Dan di Jazirah Arabiyah tidak ada sungai-sungai, sebagian besar darinya adalah padang pasir dimana kehidupan tergantung pada air hujan. dan hujan pun jarang sekali terjadi kecuali di sebelah selatan yang terkadang turun hujan.

Bangsa Arab telah menempati daerah jazirah sejak zaman dahulu, dan diantara mereka ada yang telah punah dan dikenal dengan Arab kuno, seperti kaum 'Aad yang merupakan kaum Nabi Huud 'Alaihis salaamu, dan kaum Tsamud yang merupakan kaum dari Nabi Sholeh 'Alaihis salaam.
Adapun bangsa Arab yang masih tersisa, maka mereka terbagi menjadi dua bagian yang besar :
1. Bangsa Arab Qohthooniyah
2. Bangsa Arab 'Adnaaniyah

Bangsa Arab Qohthooniyah atau bangsa Arab selatan mereka adalah bangsa Arab yang dikembalikan asalnya kepada arabnya Ibnu Qohthoon. Dan negeri asal mereka adalah Yaman, dari sanalah mereka berkembang hingga menjadi beberapa kabilah dan marga, yang terkenal darinya ada dua kabilah, yaitu :
1. Himyar, diantara marganya adalah Za'id, Al-Jumhur, Qudho'ah, dan Sakasik
2. Kahlan, diantara marganya adalah Azd, Kindah, Hamadan, Anmar, Thoyyi', Lakhm, Aus, Madzhaj, Khazraj dan anak cucu dari Jafnah.

Anak-anak kabilah (marga) Kahlan banyak yang hijrah dari Yaman, lalu menyebar di berbagai penjuru Jazirah. Kepergian mereka diakibatkan adanya banjir besar saat mereka mengalami gagal dalam berdagang akibat tekanan dari bangsa Romawi dan dikuasainya jalur perdagangan laut, serta ada yang menyebutkan banhwa hijrahnya mereka dikarenakan adanya perselisihan dan persaingan antara marga Kahlan dan marga Himyar. kemudian kabilah-kabilah mereka terpecah dan mereka hijrah/ berpindah ke dataran-dataran lain yang banyak di Jazirah Arabiyah. Dan diantara marga Kahlan yang berhijrah dari Yaman terbagi menjadi 4 :
1. Azd, mereka meninggalkan Yaman setelah mengikuti pendapat pemuka dan sesepuh mereka, Imran bin Amr Muzaiqiya'. Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim pemandu , lalu menempuh arah utara dan timur.
Tsa'labah bin Amr dari al-Azd pindah menuju Hijaz, lalu menetap diantara dua tempat yang bernama Tsa'labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya dewasa dan kekuasaannya menguat, dia beranjak menuju Madinah, menetap dan bertempat tinggal di sana.Diantara anak keturunan Tsa'labah ini adalah Aus dan Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa'labah.
Diantara keturunan mereka tersebut ada yang berpindah dan menetap di kawasan Hijaz, yaitu Hartsah bin Amr (dialah Khuza'ah) dan anak keturunannya, hingga kemudian singgah di Marr Azh-Zhahran, lalu menguasai tanah suci dan mendiami Makkah serta mengekstradisi penduduk aslinya, suku-suku Jurhum.
Sedangkan Imran bin Amr, dia singgah di Omman lalu menetap di sana bersama anak-anak keturunannya, yaitu Azd Omman. kabilah-kabilah lainnya, yaitu kabilah Nashr bin al-Azd menetap di Tuhamah. Mereka lebih dikanal dengan nama Azd Syannuah.
Adapun Jafnah bin Amr, ia berangkat menuju wilayah Syam dan menetap di sana bersama anak keturunannya. Dialah bapak para raja al-Ghassasinah. kata 'al-Ghassasinah' tersebut merupakan nama sumber mata air di Hijaz yang dikenal dengan nama Ghassan. Sebelum pindah ke wilayah Syam, mereka pernah singgah di sana terlebih dahulu.
Adapun bangsa Arab 'Adnaaniyah , mereka adalah keturunan Nabiyulloh Ismaa'iil 'Alaihis salaam dan istrinya. dan mereka menjadikan daerah Hijaz dan Tihaamah dan sekitarnya dari daerah utara sebagai negeri mereka. Dan kabilah-kabilah yang paling terkenal dari 'Adnaaniyah ada dua kabilah, yaitu Quraisy dan Tamiim.

2. Lakhm dan Judzam, mereka pindah ke bagian timur dan utara. di kalangan Lakhm ini terdapat seorang yang bernama Nashr bin Rabi'ah. Dia adalah bapak para raja al-Manadzirah di Hirah.
3. Bani Thayyi', setelah perjalananyang dilakukan oleh Azd, mereka pindah ke arah utara hingga di kawah dua bukit Aja dan Salma. Dan akhirnya tinggal di sana sehingga kedua gunung tersebut dikenak dengan nama dua gunung Thayyi'.
4. Kindah, mereka singgah di Bahrain, kemudian mereka terpaksa pindah dan singgah di Hadhramaut. Sepertinya mereka mengalami cobaan yang sama seperti ketika di Bahrain. Kemudian mereka mampir di Najd. Di sana, mereka membentuk pemerintahan besar dan diperhitungkan namun pemerintahan itu demikian tumbang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Ada lagi satu kabilah dari Himyar yaitu Qudha'ah, terlepas dari masih diperselisihkan penisbatannya kepada Himyar, yang meninggalkan Yaman dan bermukim di daerah pedalaman as-Samawah yang terletak di pinggiran Irak.

Adapun Arab 'Adnaaniyah, nenek moyang mereka yang tertua adalah Nabi Ibrahim 'alaihi sallam, yang berasal dari negeri Irak, dari sebuah kota yang disebut Ar. Kota ini terletak ditepi sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Sebagaimana yang telah di ketahui, Ibrahim telah berhijrah dari sana menuju Haran dan Hirran, setelah itu menuju ke Palestina kemudian beliau jadikan sebagai markas dakwah beliau. Beliau banyak melakukan perjalanan ke pelosok negeri ini dan selainnya. Beliau pernah sekali mengunjungi Mesir, Kala itu Fir'aun (sebutan bagi penguasa Mesir atau sering juga disebut Ramses) berupaya untuk memperdaya dan berniat buruk terhadap istri nabi Ibrahim yaitu Sarah. Namun Alloh membalas tipu dayanya dan menjadikan tipu daya tersebut berbalik padanya. Maka, tersadarlah Fir'aun betapa dekatnya hubungan Sarah dengan Alloh hingga akhirnya ia jadikan anaknya (Hajar) sebagai abdi sarah. Hal itu ia lakukan sebagai pengakuannya terhadapan keutamaan Sarah, kemudian Hajar dikawinkan oleh Sarah dengan Ibrahim, dikarenakan Sarah sampai saat itu tidak memberikan keturunan. Ibrahim kembali ke Palestina, sementara dari hasil pernikahan barunya dengan Hajar tersebut Alloh mnganugrahkannya anak bernama Ismail. Sarah terbakar api cemburu karenanya sehingga memaksa Ibrahim untuk mengasingkan Hajar dan putranya yang masih kecil.
Maka beliau membawa keduanya ke Hijaz dan menempatkan mereka berdua di suatu lembah yang gersang dan tandus di sisi Baitul haram yang saat itu hanyalah tanah tinggi berupa gundukan-gundukan yang bilamana air bah datang, ia akan mengalir di sisi kanan dan sisi kirinya. Beliau menempatkan keduanya di dalam tenda ( diatas mata air zamzam bagian atas masjid haram sekarang). Pada saat itu tak ada seorang pun yang tinggal di Makkah dan tidak ada pulamata air. Beliau meletakan di dekat mereka berdua kantung kulit yang berisi kurma, dan wadah air. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina. Berselang beberapa hari , bekal dan air pun habis, sementara di tempat itu tidak ada mata air yang mengalir. Ketika itu lah mata air zamzam memancar berkat karunia Alloh, sehingga bisa menjadi sumber penghidupan mereka berdua hingga beberapa waktu tertentu. Kisah mengenai hal ini akan dan seterusnya akan di lanjutkan di post yang akan datang.

Jumat, 17 Desember 2010

KISAH NABI 2


MUSA DAN MALAIKAT MAUT
PENGANTAR
Musa adalah orang yang punya kedudukan (terkemuka) dan pemimpin yang mudah berinspirasi, sehingga mampu mengendalikan umat yang keras tabiatnya, serta banyak raguragu dalam menghadapi berbagai perkara seperti kepemimpinan, kebijaksanaan dan penunjuk. Musa memiliki kekhususan tersendiri serta mampu kemampuan yang tinggi, sehingga barangsiapa yang memiliki sifat semisalnya, maka tingkah lakunya dimuliakan oleh yang lainnya, dikarenakan kepribadian sesuai dengan tingkah lakunya.

Oleh karerna itu, ketika Malaikat maut datang kepada Musa, kemudian meminta izin untuk mencabut nyawanya, maka Musa menampar Malaikat tersebut hingga rusak matanya (mata manusia). Malaikat maut mendatangi Musa dalam wujud seorang laki-laki, kemudian Musa diberi pilihan antara berpindah ke sisi Tuhannya atau tetap hidup di dunia dalam masa yang
lama, sebelum datang kepadanya kematian. Akan tetapi Musa memilih berpindah ke sisi Tuhannya, atas sulitnya kehidupan dunia dan ujiannya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memenuhi permohonannya, kemudian mendekatkannya ke tanah suci sejauh lemparan baju. Sehingga kuburannya terletak di sebelah timur tanah suci.

NASH HADITS
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, "Malaikat maut diutus kepada Musa. Ketika dia datang, Musa menamparnya. Lalu Malaikat maut kembali kepada Tuhannya dan berkata, 'Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang menolak mati.’ Lalu Allah mengembalikan matanya (yang rusak karena tamparan Musa). Allah berfirman kepadanya, ’Kembalilah kepada Musa. Katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di punggung sapi jantan, maka bulu sapi yang tertutup oleh tangannya itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.’ Musa berkata, ’Ya Rabbi setelah itu apa?’ Malaikat menjawab, ’Maut.’ Musa berkata, ’Sekarang aku pasrah.’ Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh lemparan batu. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian yang berada di sisi jalan di dataran berpasir merah yang bergelombang." Dalam riwayat Muslim, "Malaikat maut mendatangi Musa dan berkata, 'Jawablah panggilan Tuhanmu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Musa menempeleng mata Malaikat maut hingga membuatnya rusak. Lalu Malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata, 'Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati. Dia telah merusak mataku.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Maka Allah mengembalikan matanya dan berfirman kepadanya, ’Kembalilah kamu kepada hamba-Ku, katakan kepadanya, 'Apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di punggung sapi jantan, rambut yang tertutup oleh tanganmu itulah umurmu yang tersisa. Satu rambut, satu tahun." Musa bertanya, ’Seterusnya apa?’ Malaikat menjawab, ’Kemudian kamu mati.’ Musa berkata, ’Sekarang, ya Rabbi, dari dekat.’ Musa berkata, ’Matikanlah aku di dekat tanah suci sejauh lemparan batu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Demi Allah, seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian di samping jalan di pasir merah."

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Jami’ul Ushul, bab orang yang ingin dikubur di tanah suci, 3/206, no. 1339; dalam Kitab Ahaditsil Anbiya’, bab wafat Musa, 6/440, no. 3407. Bukhari tidak secara nyata menyatakan penisbatan Abu Hurairah terhadap hadits kepada Rasulullah. Dan Bukhari secara nyata menyebutkannya di riwayatnya dalam Kitab Ahaditsil Anbiya’. Bukhari berkata, "Ma'mar memberitakan kepada kami dari Hammam, Abu Hurairah menyampaikan kepada kami dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam." Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Fadhail, bab keutamaan Musa, 4/1842.

PENJELASAN HADITS
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberitakan kepada kita bahwa di antara kemuliaan para Nabi di sisi Allah adalah bahwa mereka diberi pilihan menjelang kematian, antara hidup di dunia atau berpindah ke Rafiqil A’la. Dalam beberapa hadits shahih dari Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam diberi pilihan, dan beliau memilih Rafiqil A’la. Allah mengutus Malaikat maut yang menjelma dalam wujud seorang laki-laki kepada Musa. Malaikat meminta agar Musa menjawab panggilan Tuhannya. Ini berarti bahwa ajalnya telah tiba dan saatnya telah dekat. Musa memiliki temperamental yang cukup tinggi, karenanya dia menempeleng wajah Malaikat maut dan merusak matanya (mata manusia). Karena seandainya dia dalam wujud aslinya, yakni Malaikat, niscaya Musa tidak akan mampu menempelengnya. Tidak akan bisa! Malaikat maut kembali kepada Allah untuk mengadukan apa yang diperolehnya dari Musa. Lalu Allah menyembuhkan matanya dan menyuruhnya kembali kepada Musa, agar meletakkan tangannya di atas punggung sapi, kemudian rambut-rambut yang tertutup oleh tangannya itu dihitung dan satu helai rambut satu tahun. Maka ajal Musa sama dengan jumlah rambut itu. Dengan itu Musa mendapatkan kehidupan yang panjang. Jika Musa melakukan itu, niscaya dangan tidak menutup kemungkinan dia tetap hidup sampai hari ini. Akan tetapi, manakala Musa bertanya kepada Malaikat maut tentang apa yang ada di balik kehidupan panjang tersebut, dia dijawab, ’Maut.’ Maka Musa memilih yang dekat. Apa yang ada di sisi Allah bagi para Rasul dan Nabi-Nya, serta hamba-hamba- Nya yang shalih, adalah lebih baik dan lebih kekal. Jika roh para syuhada berada di perut burung hijau yang beterbangan di kebun-kebun Surga, memakan buah-buahnya, minum dari sungainya dan berlindung di lampu-lampu yang bergantungan di atap ’Arasy Allah, maka kehidupan para Nabi dan Rasul adalah di atas semua itu. Apa yang didapat oleh Musa seandainya dia hidup sampai hari ini, dia pasti memikul
kesulitan-kesulitan dunia dan ujian-ujiannya. Dia akan menyaksikan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sepanjang sejarah yang membuat pikiran sibuk dan hati bersedih. Bukankah lebih baik dia berada di Rafiqil A’la dengan para Rasul dan para Nabi menikmati kenikmatan Surga, daripada hidup di rumah kesengsaraan dan ujian?! Musa diminta untuk memilih dan dia telah memilih kembali kepada Allah daripada kehidupan yang lama dan panjang. Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal dan Akhirat lebih baik daripada dunia.

Musa memohon kepada Allah pada waktu ruhnya dicabut agar didekatkan kepada tanah yang suci sejauh lemparan batu. Permintaan Musa ini adalah wujud kecintaannya kepada tanah suci yang bercokol di dalam jiwanya, sehingga dia meminta dikubur di perbatasannya, dekat dengannya. Tetapi Musa tidak meminta kepada Allah agar mematikannya di tanah suci, karena dia mengetahui bahwa Allah mengharamkannya atas generasi di mana Musa berasal. Ini sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka kepada perintah Tuhan mereka agar masuk tanah suci seperti yang telah Allah tulis untuk mereka. Mereka berkata, "Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. Al-Maidah: 24). Lalu Allah menulis atas mereka kesesatan selama empat puluh tahun di gurun Sinai. Allah menjawab doa Musa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menyampaikan kepada kita bahwa kuburan Musa terletak di pinggiran tanah suci di dataran pasir merah. Seandainya beliau di sana, niscaya beliau menunjukkan tempat itu kepada sahabat-sahabatnya.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADITS
1. Hadits ini menunjukkan bahwa sebelum nyawa para Nabi dicabut, mereka diberi pilihan antara terus hidup atau berpindah kepada rahmatullah, sebagaimana Musa diberi pilihan. Aisyah telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada waktu beliau sakit menjelang wafatnya, "Ya Allah, Rafiqul A’la." Aisyah mengerti bahwa beliau diberi pilihan maka beliau memilih.
2. Kemampuan Malaikat menjelma dalam wujud manusia, sebagaimana Malaikat maut yang mendatangi Musa dalam wujud manusia.
3. Kematian adalah haq dan pasti. Jika ada yang lolos dari maut, tentulah mereka adalah para Nabi dan Rasul.
4. Kedudukan Musa di sisi Allah. Musa menampar Malaikat maut hingga rusak matanya. Kalau saja bukan karena kemuliaan Musa di hadapan Allah, mungkin Malaikat akan membalasnya dengan keras.
5. Keberadaan kubur Musa di tepi perbatasan tanah suci, dan Rasulullah mengetahui tempat kuburnya. Beliau menunjukkan sebagian alamat kuburnya, yaitu di tepi jalan di tanah pasir merah.
6. Keinginan Musa agar kuburnya dekat dengan tanah suci, dan diperbolehkan saja bagi siapa saja yang ingin mati di tanah suci.
7. Tanah suci yang diberkahi memiliki batasan. Musa meminta kepada Allah agar mendekatkan kuburnya darinya sejauh batu dilempar. Karenanya, Musa dikubur di luar, di pinggirannya.

Download Book Di sini !





Button Image Background by FreeButtons.org v2.0

Senin, 06 Desember 2010

KISAH NABI 1


Buku ini memaparkan mayoritas kisah-kisah dari hadis Nabi. Keutamaan kisah-kisah dari hadis nabawi berada di bawah kisah-kisah dari Al-Qur'an. Jika Al-Qur'an adalah kalamullah, maka mayoritas kisah-kisah hadis adalah wahyu dari Allah. Oleh karena itu, keduanya berasal dari satu sumber dan satu sasaran. Target-target dari kisah-kisah dalam hadis adalah target-target di dalam kisah Al-Qur'an. Sama-sama menyuguhkan bekal untuk para dai dan orang-orang shalih, bekal rohani yang dikandung oleh kisah dan menyirami ruh, hati dan akal orang-orang yang beriman. Kisah Al-Qur'an dan hadis mengalir dalam diri manusia secara lembut dan murni.

Kata-kata dan peristiwa-peristiwanya membawa segudang nasihat dan faedah untuk mengarahkan kepada jalan yang lurus dan melecut seorang mukmin untuk menjauhi dosa-dosa dan kerusakan-kerusakan.

Buku ini – seperti diisyaratkan oleh judulnya – membatasi diri pada hadis-hadis yang bersanad shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Aku tidak menyimpang dari dasar ini kecuali pada sedikit kisah yang mauquf kepada sahabat di mana sanadnya dari mereka adalah shahih; ada kemungkinan bahwa mereka mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan mungkin pula mereka mengetahui dari selainnya. Batasan buku ini hanya pada hadis-hadis shahih, tidak mengangkat hadis-hadis saqim (sakit), dhaif (lemah), batil dan palsu. Karena, menisbatkan hadis yang tidak bersanad shahih kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah dusta atas nama Rasulullah. Dan dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya termasuk kejahatan besar. Tidak boleh menyepelekan dalam menisbatkan hadis-hadis kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, terlebih jika hadis-hadis itu adalah kisah, karena kisah adalah berita-berita dan kejadian-kejadian ghaib. Kita beriman kepada ghaib yang benar. Beriman kepada sesuatu yang ghaib tanpa berdasar kepada Allah dan tidak pula dari Rasul-Nya dalam urusan-urusan yang tidak diketahui kecuali melalui wahyu, itu merupakan penyimpangan dari jalan lurus dan kesesatan dalam pemikiran. Lebih dari itu, kisah-kisah dusta yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bisa jadi di dalam lipatan-lipatannya tersimpan akidahakidah, akhlak-akhlak dan nilai-nilai batil yang menyusup ke dalam diri manusia dengan mudah tanpa kesulitan.

Kisah-kisah seperti ini adalah sampan yang mengasyikkan bagi orang-orang yang ingin menyesatkan kaum muslimin. Oleh karena itu, para ulama banyak memperingatkan akan bahaya kisah-kisah palsu, sebagaimana mereka juga telah memperingatkan dari tukang-tukang cerita yang tidak mengerti hadis shahih dan hadis lemah. Bahkan mereka menulis beberapa buku untuk memberi peringatan. Hal ini karena betapa berbahayanya, orang-orang yang menyulap agama menjadi dongeng-dongeng fiksi. Termasuk dalam bidang ini adalah apa yang dilakukan oleh sebagian penulis masa kini, ketika mereka merusak sirah nabawiyah (perjalanan kehidupan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam) dengan pemaparan berdasar pada metode dongeng khayalan. Dengan itu mereka telah banyak merusak agama kaum muslimin.

Silahkan bagi anda yang ingin membaca buku ini dan mengetahui kisah-kisah para Nabi yang shohih Download di sini !





Button Image Background by FreeButtons.org v2.0