English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : YBG

Xilisoft HD Video Converter 6 Full With serial

Wide range of formats support: Support HD videos like AVCHD (mts, m2ts), MKV, HD ASF, HD AVI, H.264/AVC, HD Quick Time, HD MPEG-4, and HD WMV, and general videos and audios like AVI, MPEG, WMV, MP4, 3GP, FLV, RM, MOV, MP3, WMA and AAC.

Trik dan SN Smadav Pro 8.4

Smadav 2011 Rev. 8.4 : Pendeteksian khusus untuk beberapa virus shortcut terbaru (MSO-sys, fanny-bmp),penambahan database 40 virus baru, penyempurnaan deteksi semua varian virus shortcut, penambahan teknik heuristik, dsb.

08 al-Khamr

Kartun Ahkamul Quran, merupakan kartun islamic yang memberikan tuntunan kepada kita tentang hukum-hukum dan adab-adab dalam agama islam. dan kali ini menceritakan tentang hukum meminum khamar (minuman keras)

NATURAL_HABBATUSSAUDA PLUS

HABBATUSAUDA adalah jinten hitam yang mampu membangkitkan sistem kekebalan tubuh (immunity system) yang mampu mempertahan tubuh dari serangan berbagai penyakit. Insya Alloh

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

Biografi Abu Bakar ash-Shiddiq

Nama Abu bakar ash-Shiddiq ra. sebenarnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr17 al-Qurasy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi saw pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim.18 Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim. Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah. Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. digelari Atiq. Imam Thabari menye-butkan19 dari jalur Ibnu Luhai’ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu’taq dan ketiga Utaiq.

II.KARAKTER FISIK DAN AKHLAKNYA,

Abu Bakar adalah seorang yang bertubuh kurus, berkulit putih20. ‘ Aisyah menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang (sehingga kainnya seialu turun dari pinggangnya), wajahnya seialu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’ dan seialu mewarnai jenggotnya dengan memakai hinai maupun katam.”21 Begitulah karakter fisik beliau. Adapun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, seialu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakkal kepada Allah dan yakin dengan segala janjiNya, bersifat wara’ dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah meridhainya. Akan diterang-kan kelak secara rinci hal-hal yang membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.

III. KEISLAMANNYA,

Abu Bakar adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah lebih dahulu masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak, Ali yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak. Ternyata keislaman Abu Bakar ra. paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhan-nya dalam berdakwah.22 Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur sepérti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidil-lah ra

Di awal keislamannya beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, beliau banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal ra. Beliau selalu mengiringi Rasulullah saw. selama di Makkah, bahkan dialah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi dalam gua dan dalam perjalanan hij-rah hingga sampai di kota Madinah. Di samping itu beliau mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah saw. baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.

IV. ISTRI-ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA23

Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’. Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah ra..

Beliau juga menikahi Asma’ binti Umais bin Ma’add bin Taim al- Khats’amiyyah, dan sebelumnya Asma’ diperisteri oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji Wada’ di Dzul Hulaifah. Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair dari Bani al-Haris bin al-Khazraj. Abu bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh 24 hingga Rasulullah saw. wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Kaltsum setelah

wafatnya Rasulullah saw.

V.BEBERAPA CONTOH KETELADANAN DAN KEUTAMAANNYA

Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab tarikh, namun saya akan berusaha meringkas sesuai dengan yang telah disebutkan al-Hafizh Abdullah al-Bukhari dalam shahihnya yang termuat dalam Kitab Fadha’il Shahabat.25

1) Beliau Adalah Sahabat Rasulullah saw. di Gua Dan Ketika Hijrah

Allah berfirman,

“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluar-kannya

(dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika ke-duanya berada

dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah berduka cita,

sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah: 40)

Aisyah, Abu Said dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan “ Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.” Diriwayatkan dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakar berkata kepada ‘Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan tersebut.” Maka ‘Azib berkata, “Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah saw. ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian.”

Abu Bakar berkata, “Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi saw. kemudian kukatakan padanya, “Istirahat-lah wahai Nabi Allah.”

Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah

ada orang-orang yang mencari kami datang mengin-tai. Tiba-tiba aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, “Siapa tuannmu wahai budak?” Dia menja-wab, “Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy.” Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia menjawab, “Ya!” lantas kukatakan, “Maukah engkau memeras untuk kami?” Dia menjawab, “Ya!” Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar member-sihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi saw. dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, “Minumlah wahai Rasulullah saw..” Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya, “Bukan-kah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Ya!”

Suraqah bin Malik bin Ju’syam

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullullah, “Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah saw.,” namun beliau menjawab, “Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita.”

Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar beliau berkata, “Kukatakan kepada Nabi saw ketika kami berada dalam gua, ‘Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.’ Rasul menjawab,“Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga.”

2) Abu Bakar Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan manusia dan berkata,”Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di

sisi Allah.” Abu Sa’id berkata, “Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah saw. hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah saw. sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ,“Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-lslam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja.”

Diriwayatkan dari Aisyah ra. istri Rasulullah saw. ia berkata, “Ketika Rasulullah saw. wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail berkata, “Yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, “Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. tidak meninggal. ‘Aisyah ra. melanjutkan, Kemudian Umar berkata, “Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akari membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangán mereka (yang menga-takan beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah saw. serta menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi Allah yang diriku berada di-tanganNya mustahil Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian selama-lamanya.”

Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, “Wahai orang yang telah bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!” Ketika Abu Bakar mulai berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, “Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad saw maka beliau se-karang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesung guhnya Allah akan tetap hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau memba-cakan ayat,

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar: 30).

Dan ayat,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan member balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali-Imran: 144).

Ismail berkata, “Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum Anshar segera berkumpul bersama Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah dan mereka berpendapat, “Dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir.” Maka segera Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam, Umar berkata, “Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar.”

Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataarnnya sungguh mengena, beliau berkata, “Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir.” Maka Hubab bin Munzir berkata, “Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula.” Abu Bakar menja-wab, “Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedu-dukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai’at Umar ataupun Abu Ubaidah.” Maka spontan Umar menja-wab, “Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai’at engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. daripada kami.” Maka Umar segera meraih tangán Abu Bakar dan membai’atnya akhirnya orangorangpun turut membaiatnya pula.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, “Pandangan Nabi menengadah ke atas dan berkata, “Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul A’la (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah ra. melanjutkan, “Tidaklah perkataan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat takut padanya, dengan kepriba-diannya Allah menolak kemunafikan. Adapun Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya Rasulullah saw. setelah membacakan ayat,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran :144).

3) Abu Bakar Adalah Sahabat Yang Paling Utama

Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, “Kami selalu mem-bandingbandingkan

para sahabat di masa Rasulullah saw. maka kami sepakat memilih Abu bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Usman bin affan ” Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah dia berkata, “Kuta-nyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah saw.” Maka beliau menjawab, “Abu Bakar!” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab, “Umar.” Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, “Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, “Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”

4) Kedudukan Abu Bakar di Sisi Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah saw. beliau bersabda, ”Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan sahabatku.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Malikah ia berkata, “Penduduk Kufah bertanya kepada Abdullah bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan diperoleh seorang kakek, maka dia berkata, “Ikutilah pendapat Abu Bakar. Bukankah Rasulullah saw. pernah menyebutkan perihal dirinya, “Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya.” Abu Bakar mengatakan, “Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika bapak tidak ada).” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi saw

Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya dia berkata, “Pernah seorang wanita mendatangi Nabi iH, kemudian beliau menyuruh-nya kembali datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, “Bagaimana jika kelak aku datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia meng-isyaratkan setelah rasul wafat- maka Rasulullah saw. berkata,

“Jika engkau tidak menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar.

Diriwayatkan dari Abu Darda”Aku sedang duduk bersama Nabi tiba-tiba muncullah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya, maka Nabi berkata, “‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang kesal maka berilah salam atasnya.” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah saw., antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar mema-afkan aku namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang.” Rasulullah saw. menjawab, “Semoga Allah mengam-punimu wahai Abu Bakar.” Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak, Umar segera mendatangi Rasulullah saw. sementara wajah Rasulullah saw. terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah saw. Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah -dua kali-,” Maka Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan, “Engkau pendusta!” Sementara Abu Bakar berkata, “Engkau benar ” Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku ?” Setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti.”

5) Abu Bakar Paling Dulu Masuk Islam dan Selalu Mendampingi Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Wabirah bin Abdurrahman dari Hammam dia berkata, Aku mendengar Ammar berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. pada waktu itu tidak ada yang mengikutinya kecuali lima orang budak, dua wanita dan Abu Bakar.”

6) Orang yang Paling Dicintai Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Abu Utsman dia berkata, “Telah berkata kepadaku Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. pernah mengutusnya dalam peperangan Dzatus Salaasil, kemudian aku mendatanginya dan bertanya, “Siapakah orang yang paling kau cintai? Maka Rasulullah saw. menjawab, ‘”Aisyah!” Kemudian kutanyakan lagi, “Dari kalangan laki-laki?” Rasul menjawab, “Bapaknya.” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelah itu?” Dia menjawab, “Umar!” Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan beberapa orang lelaki”.

7) Imán dan Keyakinannya yang Kuat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, “Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. berkata, “Ketika seorang pengembala sedang menggembala kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala memangsa seekor kambingnya, maka spontan pengembala tersebut mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh kepadanya dan berkata, ‘Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan dimangsa, yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku Dan ketika seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika sapi itu menoleh padanya dan berkata, ‘ Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk membajak.’ Orang-orang berkata, ‘Subhanallah!’ Maka Nabi bersabda, ‘ Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu sebagaimana Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula’.”

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar dia berkata, “Rasulullah saw.

bersabda,

Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

Maka Abu bakar berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkarmya, maka Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan.

8)Kemauannya yang Tinggi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata,” Aku mendengar Rasulullah saw.

bersabda, ” Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, “Wahai Harnba Allah inilahke-baikan.Maka barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu shalat, barang siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad, dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah, barang siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan. Maka Abu Bakar berkata, ‘ Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai Rasulullah saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, Ya, dan aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka’.”

9)Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan Keluarganya

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah saw. dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah saw. menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak menda-pati air dan tidak mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata, Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah?

Dia telah membuat Rasulullah saw. berhenti dan manusia pun berhenti bersa-manya, sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya.’ Maka datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah saw. berbaring meletakkan kepala-nya di atas pahaku sedang tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan berkata, ‘Engkau telah menahan Rasulullah saw. dan manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula mendapatkannya’.” ‘Aisyah ra. berkata, “Maka ayahku mencelaku habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangan-nya, tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah saw. terganggu tidurnya, sementara Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum,

‘Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).’(An-Nisa’: 43).

Usa’id bin Hudhair berkata, “Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar.” Maka ‘Aisyah ra. berkata, “Kemudian kami membangkitkan kendaraan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya.”

10) Berita Gembira Untuknya Sebagai Penghuni Surga

Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab dia berkata, “Telah berkata kepadaku Abu Musa al-Asy’ari bahwa suatu hari dia berwudhu’ di rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, “Aku harus mengiringi Rasulullah saw. hari ini.” Beliau berangkat ke mesjid dan bertanya di mana Nabi saw, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat, maka aku segera pergi beru-saha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu pintunya terbuat dari pelepah kurma- hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, “Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah saw. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Dia menjawab, “Abu Bakar!” Maka kukatakan padanya, “Tunggu sebentar!” Aku segera datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya padanya, “Wahai Rasulullah saw., ada Abu Bakar datang dan minta izin masuk!” Rasulullah saw. berkata, “Suruhlah dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga.” Maka aku berangkat menujunya dan berkata, “Masuklah sesungguhnya Rasulullah saw. memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga.”

Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah saw. Sambil menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan dia menyingkap kedua betisnya ……………………….hingga akhir kisah.”

Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik dia pernah bercerita bahwa Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan Rasulullah saw. lang-sung berkata, “Diamlah woahai Uhud sesunggnhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq ra. dan dua syahid.

11) Sepak Terjangnya dalam Membela RasuIullah saw.

Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling menyakitkan RasuIuUah, maka dia berkata, “Aku pernah melihat Utbah bin Abi Mu’ith mendatangi Nabi yang sedang shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepas-kan ikatan tersebut sambil berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.” (Al-Mukmin: 28).

16 Ibnu Katsir tidak menuliskan biografi ash-Shiddiq ra., teapi beliau hanya memeberikan petunjuk dalam kitabnya al- Bidayah wan Nlhayah kepada sebuah kitab yang dlkarangnya khusus membahas kehldupan Abu Bakar, harl-hannya, hadits dan hukum-hukum yang diriwayatkannya. Namun saya tidak mendapatkan buku ini. Akhirnya terpaksa harus saya kumpulkan secara ringkas mengai biografinya dari Thabaqat Ibnu Sa’ad, Tarikh ath-Thabari dan Shahih al-Bukhari

17 Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/ 169, Tarikh ath-Thabari, 3/ 425.

18 Ibid.

19 Tarikh ath-Thabari, 3/425

20 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/188

21 Ibid, 1/188, semakna dengan perkataan ini terdapat dalam ath-Thabari, 3/524.

22 Lihat al-Bldayah wan Nihayah, 3/26

23 Lihat Thabaqatlbnu Sa’ad, 3/169,174 dan Tarikh ath-Thabarí, ZI426

24 Nama tempat yang berada di Awal al-Mad¡nah, di situlah perkampungan Bani al-Harits bin al-Khazraj. (Mu’jam al-Buldan 3/265).

25 Lihat Shahih al-Bukhari, 4/189-197 (cetakan Istambul 1979 M).



Download Book Di sini !





Button Image Background by FreeButtons.org v2.0

Senin, 14 Februari 2011

Biografi Abu Hurairah

Beliau adalah Abdurrahman bin Shakhr, keturunan Tsa’labah bin Salim bin Fahm bin Ghunm bin Daus Al-Yamani. Berasal dari kabilah Daus, sebuah kabilah yang dinisbahkan kepada Daus bin ‘Adnan bin Abdullah bin Zahran bin Ka’ab bin Harits bin Ka’ab bin Abdullah bin Malik bin Nashr yaitu Sanu’ah bin Azad. Azad termasuk kabilah arab terbesar dan terkenal. Nisbah kepada Azad bin Ghauts bin Nabt bin Malik bin Kahlan dari keturunan Arab Qahthaniyah.

Keislamannya

Yang masyhur bahwa Abu Hurairah masuk islam pada tahun ketujuh hijriyyah, bertepatan dengan penaklukan Khaibar, ketika itu umurnya sudah mencapai 30 tahun. Kemudian ia datang ke Madinah bersama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Sekembalinya dari Khaibar iapun tinggal di Shuffah dan bermulazamah kepada Rasulullah dengan penuh kesungguhan. Ia terus mengikuti kemana Rasulullah pergi. Terkadang Abu Hurairah juga makan di rumah Rasul, hal itu berlanjut sampai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam meninggal.

Kualitas hafalannya

Karena demikian semangatnya Abu Hurairah menuntut ilmu menyebabkan ia lupa sebagian hadits yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena memang ketika itu Abu Hurairah tidak memiliki hafalan yang kuat, lalu ia pun mengadukan perkaranya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkannya, “Buka selendangmu dan betangkanlah.’ Kemudian beliau berkata: ‘dekaplah selendangmu itu.’ iapun mendekapnya. Sejak saat itu, Abu Hurairah sama sekali tidak pernah lupa setiap hadits yang disampaikan oleh Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Kisah ini banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i. Abu Ya’la, Abu Nu’aim, dan yang lainnya.

Kualitas Keilmuannya

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Hurairah adalah bejana (gudang) ilmu.”
Seseorang datang kepada Ibnu ‘Abbas untuk menanyakan suatu permasalahan. Maka Ibnu ‘Abbas mengarahkannya kepada Abu Hurairah, katanya “Wahai Abu Hurairah, berilah ia fatwa…”
Imam Adz-Dzahabi ketika memaparkan biografi Abu Hurairah menjelaskan, “Panutan, Faqih, Mujtahid, Hafizh, shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu Ad-Dausi Al-Yamani, Pemimpin para Huffazh (penghafal hadits) yang kokoh.”
Beliau juga berkata, “Abu Hurairah sangat kokoh hafalannya, kami tidak mengetahui beliau pernah salah dalam satu haditspun.”
Abu Shalih Dzakwan, berkata, “Abu Hurairah adalah shahabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling hafal.” Dalam riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyas, Abu Shalih berkata, “Bukan yang paling afdhal tapi yang paling hafal.”

Keistimewaannya

Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu memiliki banyak keistimewaan yang sebagiannya tidak dimiliki oleh shahabat lainnya. Diantaranya adalah,
• Meraih kemuliaan dakwah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
• Meraih keutamaan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, karena ia telah melakukan hijrah sebelum Fath.
• Meraih do’a Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
• Meraih keutamaan jihad fii sabilillah di bawah kepemimpinan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam,
• Meraih keutamaan menghafal hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan menyampaikannya kepada umat.
• Meraih penghargaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai seorang yang ikhlas dalam beribadah, sebagaimana dalam firman-Nya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud hanya mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak dari bekas sujud pada muka mereka.
• Meraih penghargaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai seorang yang namanya telah disebutkan dalam kitab Taurat dan Injil, Allah berfirman, “Demikianlah sifat-sifat mereka yang terdapat dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath:29)
• Meraih kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai seorang yang diterima taubatnya, “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang selalu mengikutinya dalam masa kesulitan…” (QS. At-Taubah:117)
• Meraih penghargaan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai seorang yang semangat dalam mencari ilmu, beliau menyatakan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh, aku telah mengira bahwa kamu (wahai Abu Hurairah) adalah orang yang pertama kali dari umatku yang akan bertanya tentang hal itu, karena aku melihat semangatmu menuntut ilmu.” Dalam redaksi lain, “Sungguh, aku telah mengira tidak akan ada yang bertanya kepadaku tentang hadits ini kecuali kamu, karena aku melihat semangatmu mengambil hadits.”
• Meraih penghargaan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat luas. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Hurairah adalah bejana (gudang) ilmu.”
• Meraih kemuliaan dari Rasul sebagai seorang yang kuat hafalannya. Sebagaimana yang akan kami jelaskan Insya Allah.
• Meraih keutamaan dari Rasul sebagai penduduk Yaman yang beriman, sehingga berhak mendapatkan apa yang pernah Rasul khabarkan, “Keimanan itu Yaman, Fiqih itu Yaman, dan Hikmah juga Yaman.”
• Meraih do’a Nabi sebagai seorang yang dicintai kaum mukminin, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.
• Meraih kemulian menjadi shahabat periwayat hadits terbanyak, sebagaimana yang akan kami jelaskan Insya Allah.

Abu Hurairah Periwayat Hadits Terbanyak

Sa’id bin Abil Hasan memaparkan, “Tidak ada seorangpun dari para shahabat yang paling banyak haditsnya dari Abu Hurairah.”
Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu walaupun hanya sebentar hidup bersama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, tidak seperti shahabat senior lainnya, tidak menghalanginya untuk mendapatkan keistimewaan menjadi shahabat terbanyak yang meriwayatkan hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam .
Abu Hurairah sendiri pernah menjelaskan mengapa ia bisa meraih keisitimewaan tersebut, sebuah keistimewaan yang tidak diraih oleh shahabat senior lainnya. Hal ini beliau sampaikan ketika ada sebagian manusia yang meragukan hadits-hadits beliau,
“Sesungguhnya kalian berkata, “Sungguh banyak Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Kalian juga berkata –wallahul mau’id-, ‘Mengapa para shahabat muhajirin tidak meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hadits-hadits ini, mengapa para shahabat Anshar tidak meriwayatkan hadits-hadits ini. (ketahuilah) Sesungguhnya para shahabatku dari kalangan muhajirin agak tersibukkan dengan perdagangan mereka di pasar. Dan para shahabatku dari kalangan Anshar agak disibukkan dengan pertanian mereka dan penjagaannya. Adapun aku adalah seorang yang selalu I’tikaf (tinggal di masjid) dan selalu bermajlis dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Aku hadir ketika mereka berhalangan dan aku ingat ketika mereka lupa. Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam suatu hari pernah berkata, ‘Siapa yang mau membentangkan selendangnya sampai aku selesai menyampaikan haditsku kemudian dia dekap selendangnya pasti dia tidak akan pernah lupa setiap apa yang aku sampaikan selamanya.” Maka akupun membentangkan selendangku kemudian aku mendekapnya. Demi Allah! Sejak itu aku tidak pernah lupa semua yang aku dengar dari beliau. Demi Allah! Seandainya bukan disebabkan satu ayat didalam Al-Qur’an, tentu aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian.’ Kemudian Abu Hurairah membaca ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk….” Beliau membaca ayat selengkapnya.”

Keistimewaan Abu Hurairah ini juga diakui oleh para shahabat lainnya. Tentu hal ini disamping sebagai keutamaan beliau yang luar biasa. Juga sebagai sanggahan atas tuduhan, keraguan dan prasangka seputar permasalahan ini. Yang lebih mengagumkan adalah, sebagian shahabat juga ada yang meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anu hadits-hadits yang tidak pernah mereka dengar. Inilah akhlak para shahabat nabi, tidak lantas ketika mereka belum pernah mendengarnya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian menuduh Abu Hurairah berdusta. Radhiallahu ‘anhum ajma’in.
Seseorang pernah mengadu kepada Thalhah bin ‘Ubaidillah, “Wahai Abu Muhammad, tidakkah engkau melihat orang Yaman ini -maksudnya adalah Abu Hurairah-, apakah dia lebih berilmu tentang hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dari kalian? Kami mendengar darinya hadits-hadits yang tidak pernah kami dengar dari kalian. Ataukah dia menyampaikan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sesuatu yang tidak pernah ia dengar (berdusta)?’ Thalhah menjawab, ‘Adapun kalau dia mendengar hadits yang tidak pernah kami dengar, aku tidak meragukannya. Aku akan beritahu sebabnya, sesungguhnya kami adalah para penghuni rumah, penggembala kambing, dan para pekerja. Kami mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di waktu sore. (adapun Abu Hurairah) adalah seorang yang miskin, sering dijamu oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, tangannya bersama tangan beliau. (atas dasar ini) kami tidak meragukan kalau ia mendengar apa yang tidak kami dengar……”

Dalam redaksi lain, “(Sebenarnya) kami juga mendengar seperti yang ia dengar hanya saja dia ingat dan kami lupa.”
Asy’ats bin Sulaim meriwayatkan dari bapaknya, katanya, “Aku mendengar Abu Ayyub Al-Anshari meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.’ Maka ada yang bertanya, ‘Engkau adalah shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengapa meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu? Ia menjawab, ‘Sesungguhnya Abu Hurairah mendengar apa yang tidak kami dengar. Aku meriwayatkan darinya lebih aku sukai dari pada aku harus meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ¬¬ (hadits yang tidak pernah aku dengar).”
Juga yang menjadikan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu sebagai shahabat terbanyak periwayat hadits adalah keberaniannya bertanya kepada Rasul dalam permasalahan-permasalahan yang tidak pernah ditanyakan oleh shahabat lainnya. Shahabat Ubay bin Ka’b menjelaskan, “Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu sangat bersemangat bertanya kepada Rasul tentang berbagai permasalahan yang tidak pernah kami tanyakan.”

Demikian banyaknya hadits yang ia teguk dari bejana Nabi belum membuatnya puas, ia kembali mencarinya dari bejana-bejana ilmu yang dimiliki beberapa shahabat senior, seperti Abu Bakar, Umar, Al-Fadhl bin ‘Abbas, ‘Ubay bin Ka’b, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, dan bushra Al-Ghifari Radhiallahu ‘anhum. Ia selalu bertanya kepada mereka tentang hadits-hadits Nabi yang disampaikan pada awal-awal islam, atau kisah-kisah yang terjadi sebelum keislamannya, seperti kisah kematian Abu Thalib dan yang lainnya.
Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjulukinya sebagai bejana ilmu. Dan tidak mengherankan jika sebagian shahabat ikut menciduk ilmu Abu Hurairah dari bejananya yang amat luas, seperti Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Watsilah bin Asqa’, Jabir bin ‘Abdillah, dan Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhum.

Tidak ketinggalan pula para pemuka tabi’in juga ikut mencicipi segarnya ilmu Abu Hurairah. Diantara mereka adalah, Sa’id bin Musayyib, Abdullah bin Tsa’labah, ‘Urwah bin Zubair, Salman Al-Aghar, Syuraih bin Hani’, Khabab, Sulaiman bin Yasar, Abdullah bin Syaqiq, Hafsh bin ‘Ashim, Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari, Salim maula Syaddad, Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, Muhammad bin Sirin, Abdurrahman bin Hurmuz, Samman, ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud, Atho bin Abi Rabah, Atho bin Yasar, Nafi’ bin Jubair bin Mut’im, Abdurrahman bin Mihran, Isa bin Thalhah, Abu Hazim Al-Asyja’i, Hammam bin Munabbih, dan masih banyak lagi.

Imam Al-Bukhari berkata, “Telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah sebanyak 800 Ahlul Ilmi atau lebih, beliau adalah periwayat hadits yang paling hafal.” Imam Syafi’i Rahimahullah berkata, “Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu adalah orang yang paling hafal hadits pada masanya.” Lihat biografi lengkap beliau di kitab Al-Ishabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, Tadzkiratul Huffazh karya Adz-Dzahabi, dan Siyar karya Adz-Dzahabi.

Minggu, 06 Februari 2011

Imam Ath Thurtusi

Peran ulama tak semata mengajari muridnya untuk memahami agama. Sebagai pelanjut risalah para nabi, ulama memiliki tanggung jawab nan luhur dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan kapasitas ilmu yang dimiliki serta komitmen untuk menegakkan kebenaran, ulama berada pada garda terdepan. Walau yang dihadapi seorang penguasa, lantaran komitmennya yang tinggi dalam menegakkan kebenaran, seorang ulama mesti tampil menasehatinya. Itulah yang telah dilakukan oleh Imam Ath Thurtusi. Ketika Al Afdhal bin Amir Juyusy, seorang penguasa yang hidup di Mesir yang lekat dengan seorang Nashrani kemudian Imam Ath Thurtusi tandang ke hadapannya. Dibentangkannya kain yang dibawanya di bawah sang penguasa. Lantas ia pun menasehati Al Afdhal bin Amir Juyusy hingga penguasa itu meneteskan air mata. Nasehatnya yang menghujam ke relung kalbu mampu mengubah cara pandang sang penguasa. Al Afdhal bin Amir Juyusy pun akhirnya menjatuhkan putusan untuk mengusir karib Nashraninya itu.

Kepeduliannya untuk senantiasa menasehati penguasa tak sampai di situ saja. Tatkala Makmun bin Al Batha'ihi memegang jabatan menteri di Mesir setelah Al Afdhal bin Amir Juyusy menanggalkan jabatannya, Imam Ath Thurtusi pun menorehkan tinta bagi sang menteri. Lahirlah sebuah buku yang bertajuk Siraj Al Mulk yang diperuntukkan Makmun bin Al Batha'ihi.

Begitulah kiprah Imam At Thurtusi. Keluhuran komitmennya mampu mengantarkannya ke jantung istana kekuasaan dengan tanpa meluruhkan harkat keulamaannya. Kilau ilmu telah menjadikannya bersikap syaja'ah (berani).

Kesahajaan Imam Ath Thurtusi terpancar pula dari kezuhudannya dalam memandang gemerlap dunia. Sanjungan ini banyak diucap oleh para ulama yang hidup sejamannya. Sebutlah misalnya Al Qadli Abu Bakar Ibnul Arabi. Beliau mengungkapkan bahwa Imam Ath Thurtusi adalah seorang yang sarat ilmu, yang menyandang keutamaan, zuhud, dan senantiasa mendahulukan yang teramat penting.

Begitu pula yang dinyatakan oleh Ibrahim bin Mahdi bin Qulaina. Disebutkannya bahwa Imam Ath Thurtusi adalah seorang zuhud dan ibadahnya lebih banyak dari ilmu yang ada padanya. Sederet pujian pun dinyatakan pula oleh Ibnu Basykuwal :

"Dia seorang imam, alim, zahid, wara', taat beragama, tawadlu, teliti, tidak tamak dunia, dan rela dengan kekurangan," kata Ibnu Basykuwal.

Suatu hari, Imam Ath Thurtusi mendatangi para fuqaha (alim ulama) yang kala itu tengah lelap tertidur. Dengan jiwa pemurahnya, Imam Ath Thurtusi mendatangi mereka satu per satu guna membagi‑bagikan dinar. Maka, saat para fuqaha itu terbangun, mereka pun melihat dinar‑dinar itu ada di hadapannya.

"Bila disodorkan kepadamu dua pilihan, urusan dunia atau akhirat, maka segeralah pilih urusan akhirat. Niscaya engkau akan mendapatkan keduanya," begitulah nasehat Imam Ath Thurtusi yang dikatakannya kepada Al Qadli Abu Bakar Ibnul Arabi.

Dasar pijak keilmuan Imam Ath Thurtusi memang tak diragukan. Hal ini bisa dilihat dari deretan ulama yang menjadi rujukan di kala dirinya menuntut ilmu. Tercatat seperti Al Qadli Abul Walid Al Baqi di Saraqusthah. Melalui ulama ini, Imam Ath Thurtusi banyak mempelajari beragam masalah yang dipertentangkan. Beliau pun mengkaji pula Sunan Abi Dawud melalui seorang ulama bernama Abu Ali At Tustari di Basrah, Irak. Abu Abdillah Ad Damaghani Rizqillah At Tamimi, Abu Abdillah Al Humaidi, Abu Bakar Asy Syasyi, dan sederet ulama lainnya menandakan kesungguhan dan kedalaman semangatnya dalam menelaah agama. Itu pun merupakan bukti betapa beliau teramat sangat mencintai ilmu.

Kecintaan beliau untuk menghidupkan ilmu dibuktikan dengan banyaknya murid yang belajar kepadanya. Tersebutlah nama‑nama yang meriwayatkan dari beliau, seperti Abu Thahir As Silafi, Al Faqih Sallam bin Al Muqaddam, Jauhar bin Du'lu Al Muqri, Al Faqih Shalih binti Mu'afi Al Maliki, Abdullah bin Ath Thaf Al Azadi, dan banyak lainnya. Selain itu, beliau pun banyak pula mengguratkan karya dengan hadirnya buku‑buku yang mengupas keharaman lagu, tentang zuhud, ta'liq tentang khilaf, bid'ah, keharusan berbuat baik kepada orang tua, bantahan terhadap Yahudi, Al Umud fi Ushul, dan karya tulis lainnya.

Karya beliau yang tergolong monumental adalah buku berjudul Al Hawadits 'ala Al Bida'. Buku ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan seseorang dari Andalusia berkenaan dengan penulis buku Ihya' Ulumuddin, Abu Hamid Al Ghazali. Mengomentari penulis Ihya' Ulumuddin ini, Imam At Thurtusi pernah menulis surat kepada Abdullah bin Muzhaffar sebagai berikut :

Semoga keselamatan atasmu. Aku pernah bertemu dan berbicara dengan Abu Hamid. Dia seorang yang cerdas dan sarat dengan pemahaman. Dia orang besar di masanya. Akan tetapi kemudian dia menyimpang dari jalannya para ulama. Masuk ke dalam debu para 'ubbad (ahli ibadah) kemudian bertasawwuf. Dia menjauhi ilmu dan para ahlinya, masuk ke ilmu perasaan, dan was‑was setan mengalir dengan cepat. Dia mencela para fuqaha dengan madzhab‑madzhab filsafat dan rumus‑rumus Al Hallaj, menjauhi para fuqaha dan mutakallimin. Hampir saja dia murtad dari Islam.

Ketika dia menulis kitab Ihya'-nya, dia bersandar dan berbicara tentang ilmu‑ilmu ahwal dan rumus‑rumus sufi. Padahal dia juga tidak mengerti tentang itu. Akibatnya, dia tersungkur. Maka dia tidak mendapat tempat di kalangan para ulama kaum Muslimin dan orang‑orang zuhud. Dia pun memenuhi kitabnya dengan kedustaan yang diatasnamakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku tidak mengetahui sebuah kitab pun di dunia ini yang paling banyak berdusta atas nama Nabi kecuali kitab tersebut. Bila dikaitkan dengan madzhab‑madzhab filsafat, rumus‑rumus Al Hallaj, dan makna Rasail Shafa (sebuah tulisan yang berisi pemahaman bathiniyah dan ilhad) mereka menganggap bahwa kenabian adalah sebuah usaha. Nabi menurut mereka tidak lebih sama dengan orang yang utama. Dia berakhlak yang baik dan menjauhi main‑main. Dia melatih dirinya sampai bisa mengalahkan syahwat. Kemudian (setelah itu) menggiring orang‑orang dengan akhlak tersebut. Mereka mengingkari kalau Allah mengutus Rasul kepada manusia. Mereka menganggap mukjizat adalah titipan dan suatu kebetulan. Padahal Allah telah memuliakan Islam, menjelaskan hujjah‑hujjahnya, dan memutus alasan (bantahan, pent.) dengan dalil‑dalil.

Orang-orang yang ingin menolong Islam dengan madzhab filsafat dan rasio ilmu mantiq adalah seperti orang yang ingin mencuci baju dengan air kencing. Kemudian dia membawakan ucapan yang mengguncangkan dan mengagetkan, mengharap dan merindukan, hingga bila jiwa-jiwa telah dihiasi dengan itu, ia akan berkata :

"Ini ilmu muamalah. Setelah itu ilmu mukasyafah." Hal itu tidak boleh ditulis dalam buku. Dia menambahkan : "Ini termasuk rahasia hati dan dilarang untuk disebarkan."

Inilah rekayasa orang‑orang bathiniyah dan para penipu dalam agama, menganggap remeh dengan yang ada, dan menyebut jiwa dengan yang kosong (tidak ada). Inilah godaan kepada keyakinan jiwa atau hati dan menghina ucapan Al Jamaah. Jika orang ini (Al Ghazali) meyakini apa yang ia tulis, tidak menutup kemungkinan dia dihukumi sebagai orang kafir. Adapun jika tidak meyakini, alangkah hebat kemungkinan untuk dinyatakan sesat.

Adapun tentang pembakaran buku ini (Al Ihya'), demi jiwaku, bila dia menyebar di kalangan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu, dengan racunnya yang membunuh, dikhawatirkan orang yang membaca akan meyakini bahwa hal itu adalah kebenaran. Membakar kitab itu sama dengan membakar mushaf yang dibakar oleh para shahabat dengan tujuan agar tidak menyelisihi mushaf Utsmani ... .

Bahkan menurut Imam At Thurtusi, karya Abu Hamid Al Ghazali ini tak pantas disebut Ihya' Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama), tetapi lebih pantas disebut dengan Imatatu Ulumuddin (mematikan ilmu‑ilmu agama).

Itulah sosok ulama, Imam At Thurtusi. Seorang ulama yang berasal dari Thurtusyah, wilayah sebelah utara Andalusia, lahir 451 H dengan nama Abu Bakar Muhammad bin Al Walid bin Khalaf bin Sulaiman bin Ayyub Al Fihri Al Andalusi Ath Thurtusi. Beliau juga digelari Al Imam, Al 'Allamah, Al Qudwah, Az Zahid, Asy Syaikh madzhab Maliki. Beliau wafat di Iskandariyah, Mesir pada Jumadil Ula 530 H. Semoga Allah merahmatinya.

Minggu, 16 Januari 2011

Biografi Singkat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan

Beliau adalah Syaikh yang mulia, DR. Shalih bin Fauzan bin Abdillah dari keluarga Al Fauzan, dari suku Asa Syamasiyyah. Beliau lahir tahun 1345 H/1933 M. Ayahnya meninggal dunia semenjak beliau masih anak-anak dan beliau dipelihara oleh keluarganya. Beliau belajar Al Quran, dasar membaca dan menulis di bawah asuhan Imam Masjid Wilayah yang juga Qari’ tetap, yaitu Syaikh yang mulia Hammud bin Sulaiman Ath Thallal, yang kemudian menjadi hakim di kora Dariyyah (bukan Dar’iyyah di Riyadh) di wilayah Qasim. Beliau kemudian belajar di sebuah madrasah negeri yang dibuka di Asa Syamasiyyah pada tahun 1369 H/1948 M. Beliau menyelesaikan studinya di Madrasah Faishaliyyah di Buraidah pada tahun 1371 H/1950 M dan kemudian beliau diangkat sebagai guru madrasah anak-anak. Beliau melanjutkan studi di Institut Pendidikan Buraidah ketika dibuka tahun 1373 H/1952 M, dan lulus tahun 1377 H/1956 M. Beliau kemudian melanjutkan di Fakultas Syari’ah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Su’ud Riyadh dan lulus tahun 1381 H/1960 M. Setelah itu, beliau mengambil gelar Magister
dan Doktoralnya di bidang Fikih.

Setelah lulus dari Fakultas Syariat, beliau diangkat menjadi mudaris (pengajar) di sebuah Institut Pendidikan Riyadh, kemudian beliau pindah mengajar ke Fakultas Syari’ah. Sesudah itu, beliau pindah lagi mengajar di pendidikan yang lebih tinggi di Fakultas Ushulud Dien dan pindah lagi mengajar di Mahkamah Syariah dan beliau ditunjuk sebagai ketua. Beliau kemudian kembali mengajar di sana setelah masa jabatan ketuanya berakhir. Beliau juga menjadi anggota Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) hingga saat ini. Syaikh yang mulia juga salah seorang anggota Haiah Kibaril Ulama’ dan Komite Fiqh Rabithah Alam Islamiy di Mekkah serta anggota Komite Pengawas Du’at Haji sekaligus mengepalai keanggotaan Lajnah Daimah lil buhuts wal ifta’. Selain itu, beliau juga seorang Imam, Khatib dan Pengajar
di Masjid Pangeran Mut’ib bin Abdil Aziz di Al Malzar. Beliau juga berperan aktif di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di program radio ‘Nuurun ‘ala Darb’ dan memberikan kontribusi terhadap penerbitan sejumlah Riset/Penelitian Islami di Lembaga Riset, Studi, Tesis dan Fatwa Islami, yang kemudian diperiksa dan diterbitkan. Syaikh yang mulia juga berperan dalam mengawasi sejumlah Tesis Magister dan Disertasi Doktoral. Beliau memiliki banyak murid yang senantiasa ber-mulazamah dalam durus (pelajaran) dan mujtama’ (pertemuan) rutinnya. Beliau sendiri belajar melalui tangan sejumlah Ulama dan Qodhi terkemuka, diantara guru-guru
beliau adalah:

1. Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Bazz
2. Samahatus Syaikh Abdullah bin Humaid
3. Samahatus Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy
4. Samahatus Syaikh Abdurrazaq Afifi
5. Fadhilatus Syaikh Shalih bin Abdurrahman as-Sukayti
6. Fadhilatus Syaikh Shalih bin Ibrahim al-Bulayhi
7. Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Subayyil
8. Fadhilatus Syaikh Abdullah bin Shalih al-Khulaifi
9. Fadhilatus Syaikh Ibrahim bin ‘Ubaid al-Abdul Muhsin
10.Fadhilatus Syaikh Hammud bin Aqlaa`
11.Fadhilatus Syaikh Shalih bin Ali an-Naashir

Beliau juga belajar di bawah bimbingan sejumlah ulama Universitas Al Azhar Mesir yang memiliki takhoshus (spesialisasi) di bidang Hadits, Tafsir dan Bahasa Arab. Beliau telah memainkan peran penting dalam berdakwah kepada Allah, mengajar dan berfatwa, berkhotbah dan bantahan-bantahan ilmiah. Karangan beliau sangat banyak, di antaranya adalah Syarh Aqidah al- Wasithiyah, Al Irsyad ila Shahihil I’tiqaad (Bimbingan kepada Akidah yang
benar), Al Mulakhash al-Fiqhi (Fikih Ringkas), Makanan dan Hukum-Hukum berkenaan tentang Penyembelihan dan Berburu yang merupakan disertasi Doktoral beliau, At Tahqiiqat Al Mardhiyah dalam masalah waris yang merupakan Tesis Magister beliau. Termasuk juga buku tentang Mukminah dan bantahan buku Yusuf al-Qordhawi “Al-Halal Wa Al-Haram”.

Dialihbahasakan oleh Abu Hudzaifah dari www.calltoislam.com; dinukil dari
muslim.or.id

Sabtu, 01 Januari 2011

Biografi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Nasabnya:
Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wahibi At Tamimi.

Kelahirannya:
Beliau dilahirkan di kota Unaizah pada tanggal 27 bulan ramadhan tahun 1347 H.

Pertumbuhannya:
Beliau belajar Al Quran kepada kakeknya dari jalan ibu, Abdurrahman bin sulaiman Ali Damigh rahimahullah. Kemudian beliau menuntut ilmu, belajar menulis , berhitung, dan ilmu sastra. Syaikh Abdurrahman as sa'di menempatkan 2 muridnya di kediamannya untuk mengajar murid-murid yunior, yang seorang bernama syaikh Ali Ash Shalihi dan seorang lagi syaikh Muhammad bin Abdul azizi Al Muthawi, yang kepadanya beliau belajar mukhtasar aqidah wasithiyah tulisan syaikh Abdur rahman as sa'di dan minhajus salikin fil fiqhi tulisan syaikh abdurrahman juga, jurumiyah dan alfiyah. Beliau belajar faraidh dan fikih kepada syaikh abdurrahman bin ali bin audan.

Beliau belajar kepada syaikh abdurrahman bin nashir as sa'di yang beliau anggap sebagai syaikhnya yang pertama. Karena beliau belajar kepada beliau tentang tauhid, tafsir, hadits, fikih, ushul fikih, faraidh, musthalah hadits, nahwu dan sharaf. Beliau mempunyai kedudukan khusus di sisi gurunya . Ketika ayah beliau syaikh Muhammad rahimahullah pindah ke riyadh pada masa awal remaja beliau, beliau ingin ikut pindah bersama orang tuanya. Maka syaikh Abdur rahman As sa'di menulis surat kepada ayah beliau "Sungguh ini tidak mungkin, kami ingin agar Muhammad tetap di sini supaya bisa terus belajar". Beliau berkata "Saya banyak terpengaruh oleh gaya syaikh Abdurrahman dalam mengajar, memaparkan ilmu, dan memberikan pendekatan kepada siswa melalui contoh-contoh dan ilustrasi. Saya juga terpengaruh oleh akhlaq beliau karena beliau memiliki keluasan ilmu dan ibadah. Beliau biasa mencandai anak-anak, tertawa dengan orang yang besar dan berakhlaq yang paling baik diantara orang-orang yang pernah saya lihat.

Beliau belajar kepada syaikh bin baz yang merupakan syaikh beliau yang kedua. Beliau belajar dari syaikh bin baz tentang sahih bukhari, beberapa risalah syaikhul islam ibnu taimiyah dan beberapa kitab fikih. Beliau berkata :" Saya terpengaruh oleh syaikh bin baz dari segi perhatian terhadap hadits. Saya juga terpengaruh oleh beliau dalam segi akhlaq dan sikap lapang dada beliau terhadap manusia.

Pada tahun 1317, beliau mulai mengajar di masjid jami' . Ketika beberapa ma'had ilmi dibuka di kota riyadh, beliau memasukinya pada tahun 1372 H. Beliau berkata : "Saya memasuki ma'had ilmi mulai tahun kedua. Saya memasukinya dengan persetujuan syaikh ali ash shalihi dan telah meminta ijin kepada syaikh abdurrahman as sa'di. Mahad ilmi pada masa itu dibagi 2 bagian, yaitu bagian umum dan khusus. Saya berada di bagian khusus. Pada masa itu, siapa yang menginginkan melompat artinya belajar di kelasnya sesuai ijazah terakhirnya, kemudian diuji pada awal tahun pelajaran kedua. Jika ia lulus maka ia bisa mengikuti kelas atasnya. Dengan demikian, masa belajar menjadi lebih pendek. Dua tahun kemudian beliau lulus dan ditetapkan sebagai pengajar di ma'had unaizah al ilmi sambil melanjutkan kuliah jarak jauh di fakultas syariah dan belajar kepada syaikh abdur rahman as sa'di.

Ketika syaikh abdur rahman as sa'di wafat, beliau diserahi kedudukan imam masjid jami' al kabir unaizaih dan mengajar di perpustakaan nasional unaizah di samping mengajar di fakultas syariah dan fakultas ushuluddin di cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin saud di Qasim, hingga sekarang dan menjadi anggota majelis ulama besar di kerajaan saudi. Syaikh mempunyai aktivitas besar dalam dakwah dan pembimbingan para da'i di berbagai tempat. Pernah syaikh Muhammad bin ibrahim menawari bahkan mendesak beliau untuk menduduki jabatan sebagai hakim, bahkan mengeluarkan keputusan yang menetapkan beliau untuk menjabat sebagai pimpinan pengadilan agama di ihsa'. Namun beliau memohon dibebaskan dari tugas tersebut. Dan setelah memberikan berbagai pertimbangan dan mengadakan hubungan pribadi dengan syaikh Muhammad bin ibrahim, syaikh muhammad dibebaskan dari jabatan tersebut. Syaikh Muhammad bin shalih al utsaimin mempunyai banyak karya tulis, sampai sekitar 40 buah, diantaranya berupa buku dan berupa makalah.

Wafatnya:
Beliau wafat pada tanggal 15 syawal 1421 H/10 januari 2001, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin meninggal dunia waktu ashar di jeddah, saudi arabia, beliau mengidap penyakit kanker.