English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : YBG

Xilisoft HD Video Converter 6 Full With serial

Wide range of formats support: Support HD videos like AVCHD (mts, m2ts), MKV, HD ASF, HD AVI, H.264/AVC, HD Quick Time, HD MPEG-4, and HD WMV, and general videos and audios like AVI, MPEG, WMV, MP4, 3GP, FLV, RM, MOV, MP3, WMA and AAC.

Trik dan SN Smadav Pro 8.4

Smadav 2011 Rev. 8.4 : Pendeteksian khusus untuk beberapa virus shortcut terbaru (MSO-sys, fanny-bmp),penambahan database 40 virus baru, penyempurnaan deteksi semua varian virus shortcut, penambahan teknik heuristik, dsb.

08 al-Khamr

Kartun Ahkamul Quran, merupakan kartun islamic yang memberikan tuntunan kepada kita tentang hukum-hukum dan adab-adab dalam agama islam. dan kali ini menceritakan tentang hukum meminum khamar (minuman keras)

NATURAL_HABBATUSSAUDA PLUS

HABBATUSAUDA adalah jinten hitam yang mampu membangkitkan sistem kekebalan tubuh (immunity system) yang mampu mempertahan tubuh dari serangan berbagai penyakit. Insya Alloh

Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

Kembali kepada Sunah Nabi dan Para Sahabatnya

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan munculnya perselisihan di akhir zaman dan memberikan solusinya yaitu dengan berpegang kepada sunahnya dan sunah khulafa Rasyidin yang tertunjuki setelahnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengabarkan bahwa umatnya akan berpecah belah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu, beliau mengabarkan bahwa kelompok yang selamat itu adalah apa yang yang dipegang oleh beliau dan para shahabatnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani[1] dari Abu Waqid bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ. فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: أَلاَ تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ؟ فَقَالُوْا : مَا قَالَ ؟ قَالَ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَقَالُوْا : فَكَيْفَ لَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلىَ أَمْرِكُمُ اْلأَوَّلِ.
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Akan tetapi kebanyakan shahabat tidak mendengarnya, Mu’adz berkata, “Apakah kalian mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi?” Mereka berkata,  “Apa yang disabdakan oleh beliau?” Ia berkata, “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka berkata, “Lalu bagaimana dengan kami wahai Rasulullah, apa yang harus kami lakukan?” Nabi bersabda, “Kembalilah kepada urusan kamu yang pertama!”

Urusan kamu yang pertama yaitu yang dipegang oleh para shahabat sebelum mereka berselisih, itulah jalan yang telah diberikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar kita menitinya. Dan perintah Nabi ini telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh generasi tabi’in, tabi’uttabi’in dan para ulama setelahnya, mereka menghormati para shahabat dan mengambil pendapatnya, di antara ulama yang amat kuat berpegang kepada atsar para shahabat adalah Imam Asy Syafi’i rahimahullah,

Imam Asy Syafi’i berkata, “Allah telah menyanjung para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam Alquran, At Taurat, dan Injil, dan mereka telah meraih keutamaan yang tidak diraih oleh generasi lainnya melalui lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah merahmati dan memberikan selamat kepada mereka, karena mereka telah mencapai kedudukan yang paling tinggi kedudukan para siddiq, para syuhada, dan shalihin.
Merekalah yang menyampaikan kepada kita sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sementara mereka menyaksikan wahyu yang turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum, khusus, wajib, dan irsyad (bimbingan), mereka mengetahui sunahnya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui.

Mereka berada di atas kita pada setiap amalan, ijtihad, wara’, akal, dan ilmu yang dibutuhkan padanya ilmu dan istinbath. Pendapat mereka paling terpuji untuk kita dan lebih baik dari pendapat kita sendiri. Dan ulama yang kita temui dari ulama yang diridhai bila tidak menemukan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pendapat para shahabat jika bersepakat atau pendapat sebagian mereka jika berselisih, demikianlah pendapat kami; tidak keluar dari pendapat para shahabat dan jika salah seorang dari mereka berpendapat dan tidak diselisihi oleh shahabat lain, kami pun tetap mengambil pendapatnya“.[2]

Bagaikan Bintang di Langit

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan dirinya dan para shahabatnya seperti bintang di langit, beliau bersabda,
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَتْ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
“Bintang adalah amanah untuk langit, apabila bintang pergi akan datang kepada langit apa yang dijanjikan untuknya, dan aku adalah amanah untuk para shahabatku, apabila aku pergi akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka, dan shahabatku adalah amanah untuk umatku, apabila shahabatku pergi akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan untuknya”. (HR Muslim).[3]

Dan Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa bintang mempunyai tiga fungsi, yang pertama dan kedua adalah sebagai penghias langit dan pelempar setan, Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang dan menjadikannya sebagai pelempar setan, dan Kami telah mempersiapkan untuk mereka ‘adzab Neraka Sa’ir”. (QS. Al Mulk : 5)

Dan yang ketiga adalah sebagai penunjuk jalan, Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Dan Dialah (allah) yang telah menjadikan untuk kamu bintang-bintang agar kamu menjadikannya sebagai penunjuk jalan dalam kegelapan daratan dan lautan.” (QS. Al An’am : 97).
Dan para shahabat adalah hiasan untuk umat Islam karena mereka telah melaksanakan Islam dengan sempurna dan diberikan kemuliaan yang tidak diberikan kepada orang lain, mereka kita jadikan sebagai pelempar pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan kita jadikan mereka sebagai penunjuk jalan dalam memahami Alquran dan hadis sehingga pemahaman kita tidak menyimpang dan manhaj kita tidak tersesat.

Adapun mereka yang tersesat maka disebabkan oleh penyimpangan mereka dari manhaj para shahabat dan menolak pemahamannya. Kita memohon agar Allah menunjukki kita ke jalan itu dan memberikan kekuatan agar senantiasa berpegang teguh dengannya, Amin.



[1] Shahih, diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam al Kabir, 3:249 no 3307 dari Muththalib bin Syu’aib Al Azdi, dari Abdullah bin Shalih dari Al Laits bin Sa’ad dari ‘Ayyasy bin ‘Abbas Al Qithbani dari Bukair bin Al Asyaj dari Busr bin Sa’ad dari Abu Waqid. Qultu: sanad hadis ini lemah, karena Abdullah bin Shalih yaitu katib Laits adalah perawi yang ada padanya kelemahan sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz Dzahabi dalam Al Kasyif, namun ia tidak bersendirian, ia di mutaba’ah oleh Yahya bin Abdullah bin Bukair dari Al laits, dikeluarkan oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar, 3:221 no 1184 dan ini adalah sanad yang sahih. Sehingga hadis ini menjadi shahih.
[2] I’lamul muwaqqi’in 2/150 Tahqiq syaikh Masyhur bin Hasan Salman.
[3] Muslim no 2531.

Sumber :  http://cintasunnah.com/kembali-kepada-sunah-nabi-dan-para-sahabatnya/

Sabtu, 14 April 2012

Buku-buku pelajaran yang paling utama untuk para penuntut ilmu tingkat pemula dan kaum awam


Kesadaran umat Islam di tanah air untuk mempelajari ajaran Islam kian hari kian tumbuh. Pengajian mulai tumbuh subur di perkantoran, pabrik, sekolah, kampus, dan bahkan restoran. Para bisnisman, selebritis, pejabat, dan kalangan ekonomi menengah ke atas mulai memiliki jama’ah pengajian sendiri. Pertumbuhan majalah, tabloid, buku, CD, dan situs keislaman juga cukup marak.

Sayang sekali, banyak pengajian dan kajian keislaman yang marak di tengah masyarakat tersebut belum disampaikan secara sistematis, ilmiah, dan kaafah. Temanya masih berkutat pada ibadah ritual semata. Tidak jarang, sebagian besar muatannya adalah humor. Sangat sulit mencari kajian Islam yang mengajarkan kepada umat Islam pemahaman Islam yang benar dan kaafah secara sistematis, ilmiah, dan bertahap sesuai jenjang pemahaman yang terukur jelas.
Banyak umat Islam yang memiliki niat kuat untuk mengikuti pengajian dan kajian keislaman. Namun mereka bingung, harus mengikuti pengajian yang mana? Buku, majalah, tabloid, dan situs keislaman apa yang selayaknya mereka baca? Untuk membantu niat umat Islam dalam menuntut ilmu keislaman, arrahmah.com insya Allah akan menurunkan serial artikel para ulama yang capable di bidangnya. Semoga umat Islam memiliki gambaran yang jelas, utuh, dan lurus tentang pengajian dan kajian keislaman yang ideal. Selamat mengikuti!

Buku-buku pelajaran yang paling utama untuk
para penuntut ilmu tingkat pemula dan kaum awam
oleh:
Syaikh Zhofir bin Hasan Al-Jab’an
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang


Pertanyaan
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya berharap Anda berkenan menjelaskan judul buku-buku untuk para pelajar pemula dan kaum muslimin pada umumnya, yang memiliki kriteria mudah dipahami, uraiannya jelas, dan urutannya tertib menurut skala prioritas.

Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Al-Amin, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du…

Wahai saudaraku yang tercinta…hendaklah engkau meyakini seyakin-yakinnya bahwa sarana yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb Ar-Rahiim adalah ilmu. Bukan sembarang ilmu, melainkan ilmu tentang Allah SWT, ayat-ayat-Nya, hukum-hukum dien-Nya, dan sunah-sunah Rasul-Nya SAW. Oleh karenannya, Allah menyebutkan hanya orang-orang yang mengenal-Nya sedalam-dalamnya yang takut kepada-Nya. Allah SWT berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Fathir (35): 28)

Para shadiqun (orang-orang yang jujur keimanannya) tidak mampu mencapai derajat khasyah (rasa takut kepada) Allah SWT kecuali dengan ilmu syar’i.
Setiap kali seorang hamba semakin mengenal Allah, maka rasa takutnya kepada-Nya juga semakin meningkat. Sekadar ma’rifah (pegetahuan) hambae kepada Allah, sekadar itu pula ketekunannya dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan itulah ia mampu melaksanakan penghambaan yang sebenarnya kepada Allah, dan termasuk dalam golongan hamba yang bertakwa dan takut kepada-Nya.

Sunatullah telah menetapkan bahwa seorang hamba tidak mungkin mampu menggapai sebuah harapan kecuali setelah ia mencurahkan segala sarananya, baik sarana yang syar’I maupun sarana yang kauni. Di antara sarana tersebut adalah mencari ilmu dan terus-menerus meningkatkannya.

Pertanyaan Anda, wahai saudaraku yang tercinta, sungguh sangat penting. Sangat penting, mengingat setiap muslim wajib memiliki kadar minimal ilmu yang tidak boleh ia tinggalkan dan wajib ia ketahui. Di antaranya adalah mengetahui perkara-perkara pasti yang termasuk bagian dari agama (al-ma’lum min ad-dien bi al-dharurah) sehingga tiada seorang muslim pun yang boleh tidak mengetahuinya. Seperti mengakui wujud Allah, keesaan-Nya, kewajiban menujukan seluruh bentuk ibadah kepada-Nya semata, mengenal rasul-rasul-Nya, kewajiban mentaati mereka dan mengikuti ajaran kebenaran yang mereka terima dari Allah SWT, dan mengenal Islam beserta rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya yang seorang muslim tidak memiliki udzur bila tidak mengetahuinya. Seorang hamba tidak mungkin akan mencapai tingkatan tersebut kecuali dengan sarana ilmu syar’i, sedangkan ilmu syar’i diambil dari sumber-sumber otentiknya, yaitu Al-Qur’an, As-sunnah, dan ijma’ salaf.

Berkaitan dengan permohonan Anda tentang buku-buku yang sebaiknya dipelajari terutama oleh para pelajar pemula dan kaum awam umat Islam; sebelum saya menyebutkannya kepada Anda, saya hendak menyampaikan beberapa wasiat berikut kepada Anda.

  1. Ikhlaskan niat amal Anda untuk Allah semata. Sekadar keikhlasan Anda kepada Allah, sekadar itu pula Anda akan mengambil manfaat dari ilmu Anda.
  2. Manhaj yang lurus. Manhaj Anda haruslah mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam aspek pemahaman dan pengambilan sumber, aspek pengamalan nash-nash dan hukum-hukum, dan aspek fiqih (pemahaman) dan istidlal (pengambilan dan penyimpulan dalil). Manhaj yang benar akan membuat Anda dapat meraih manfaat dari ilmu yang Anda ketahui. Adapun dengan manhaj yang salah, na’udzu billah, bertambahnya ilmu justru akan menambah Anda jauh dari Allah.
  3. Bersabar dalam mencari dan meraih ilmu, terus menerus dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shahih Muslimnya, imam Yahya bin Abi Katsir berkata, “Ilmu tidak mungkin diraih dengan badan yang bersantai.”
  4. Mengamalkan ilmu yang telah Anda pelajari. Ilmu telah memanggil amal, jika amal menjawab panggilannya (niscaya ilmu akan bertahan). Adapun jika amal tidak menjawab panggilannya, maka ilmu akan pergi meninggalkannya.
  5. Mengetahui metode-metode dan cara-cara yang benaar dalam menerima dan menuntut ilmu, di antaranya yang paling penting adalah bertahap dalam mempelajari ilmu.
  6. Senantiasa meminta pendapat (bermusyawarah) para ulama dan orang-orang yang berpengetahuan tentang apa yang dibaca dan dipelajari oleh seseorang.
  7. Banyak berdoa kepada Allah agar diberi taufik dan kelurusan jalan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Inilah beberapa wasiat terpenting yang bisa saya sampaikan secara ringkas. Selanjutnya saya akan menyebutkan apa yang menurut pandangan saya sesuai bagi para penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam.

Buku-buku yang saya nasehatkan untuk dipelajari oleh para penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam biba dibagi menjadi dua bagian:

  1. Buku-buku yang tidak boleh ditinggalkan (baca: wajib dipelajari) oleh seorang muslim bagaimanapun keadaannya.
  2. Buku-buku yang dibaca sebagai tambahan untuk memahami buku-buku bagian pertama.


Bagian pertama:
Buku-buku yang wajib dipelajari oleh seorang muslim bagaimanapun keadaannya. Yaitu:

  1. Al-Qur’an Al-Karim. Inilah buku pertama yang wajib Anda baca, kaji, dan hafal seluruhnya (30 juz) atau sebagiannya. Al-Qur’an mengandung hikmah, penjelasan, hukum, keterangan yang nyata, pelajaran dan pengalaman bagi manusia, ketenangan dan ketentraman, kebahagiaan, dan kelezatan iman. Seorang muslim tanpa Al-Qur’an laksana sebatang pohon tanpa buah, bak sebuah bangunan tanpa tiang-tiang.
  2. Hadits-hadits Nabi SAW yang shahih. Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi adalah pelindung seorang hamba dari kesesatan. Buku-buku yang menghimpun hadits-hadits nabawi sangatlah banyak. Buku hadits yang terpenting adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, lalu kitab-kitab sunan (Sunan Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah), lalu Musnad Ahmad, lalu apa yang Allah mudahkan bagi seorang pelajar untuk mempelajarinya setelah itu yang meliputi kitab-kitab Sunan, Musnad, Jami’, Mushannaf, Mustadrak, dan Mustakhraj.

Jika Anda ingin menghafal hadits, maka hafalkanlah hadits dalam kitab-kitab induk hadits ini. Jika Anda tidak mampu, maka hafalkanlah kitab hadits Al-Arba’in karya imam Syarafuddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, lalu kitab Jawami’ul Akhbar karya imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, lalu kitab Umdatul Ahkam karya imam Abdul Ghani Al-Maqdisi, lalu kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Bagian Kedua:
Buku-buku yang dibaca oleh pelajar tingkat pemula dan kaum awam umat Islam sebagai tambahan untuk memahami bagian pertama. Untuk meringkas, saya akan menyebutkan tiga buku untuk setiap disiplin ilmu. Saya akan menyebutkannya secara bertahap (buku no 1 dipelajari, kalau selesai beralih mempelajari buku no. 2, kalau sudah selesai beralih mempelajari buku no. 3—edt), semuanya untuk kelompok penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam. Setelah itu baru berpindah ke buku-buku lainnya.

Ushul Tafsir (kaedah-kaedah pokok/ilmu-ilmu dasar tafsir)

  1. Ushul at-Tafsir : Syaikh Muhammad bin Utsaimin
  2. Fushul fi Ushul at-Tafsir : Syaikh DR. Musa’id Ath-Thayyar
  3. Al-Qawa’id Al-Hissan fi Tafsir Al-Qur’an : Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an):

  1. Mabahits fi Ulumil Qur’an : Syaikh Manna’ bin Khalil Al-Qathan
  2. Al-Muqaddimat Al-Asasiyah fi Ulumil Qur’an : Syaikh DR. Abdullah bin Yusuf Al-Judai’
  3. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an : Imam As-Suyuthi

Tafsir Al-Qur’an:

  1. At-Tafsir Al-Muyassar : Sekelompok ulama terbitan Lembaga Penerbitan Mushaf Madinah Munawwarah (panitia ulama di bawah koordinasi departemen wakaf dan dakwah Arab Saudi)
  2. Zubdatut Tafsir Mukhtashar Fathul Qadir : Syaikh DR. Muhammad Sulaiman bin Umar Al-Asyqar.
  3. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan : Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Akidah:

  1. Tsalatsah Al-Ushul : Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi
  2. Kitab At-Tauhid : Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi
  3. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad : Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Ushul Fiqih:

  1. Al-Ushul min Ilmil Ushul : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
  2. Taisir Ilmi Ushul Fiqh : DR. Abdullah bin Yusuf Al-Judai’
  3. Ma’alim Ushul Fiqh : DR. Muhammad bin Husain Al-Jizani

Fiqh:

  1. Al-Aziz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al-‘Aziz : Syaikh DR. Abdul Azhim Badawi
  2. Al-Mulakhash Al-Fiqhi : Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
  3. Fiqih Sunnah : Sayid Sabiq beserta Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqh Sunnah karya Al-Albani

Musthalah Hadits:

  1. Taqrib Musthalah Al-Hadits Ila Muslmil ‘Ashril Hadits : Ahmad bin Nashrullah Al-Mishri
  2. Al-Madkhal ila Ilmil Hadits : Abu Mu’adz Thariq bin ‘Iwadhullah
  3. Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulumil Hadits : Syaikh Ahmad Syakir

Fiqih hadits:

  1. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah : Syaikh Muhammad bin Utsaimin
  2. Taisirul ‘Allam Syarh Umdatul Ahkam : Syaikh Abdullah Al-Bassam
  3. Fathul ‘Allam Syarh Bulughul Maram : Imam Shidiq Hasan Khan Al-Qanuji

Sirah Nabawiyah:

  1. Mukhtashar Asy-Syamail Al-Muhammadiyah : Syaikh Al-Albani
  2. Hadzal Habiib ya Muhib : Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
  3. Ar-Rahiq Al-Makhtum : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarak Furi

Siyar wat Tarajum:

  1. Aina Nahnu min Akhlaq As-Salaf : Syaikh Abdul Aziz Al-Julail dan Bahauddin bin ‘Uqail
  2. Shifatus Shafwah : Imam Ibnul Jauzi
  3. Nuzhatul Fudhala’ Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala’ : Syaikh DR. Muhammad bin Hasan bin Musa Asy-Syarif

Raqaiq dan Zuhd:

  1. Kitab ar-Raqaiq dalam Shahih Bukhari
  2. Risalah Al-Mustarsyidin : Harits Al-Muhasibi
  3. Al-Bahr Ar-Raiq fiz Zuhdi wa Raqaiq : Syaikh DR. Ahmad Farid

Tarbiyah:

  1. Al-Ikhlash : Syaikh Husain Al-‘Awayisyah
  2. Ruhbanul Lail : Syaikh DR. Sayyid Al-‘Affani
  3. At-Tarbiyah Al-Jaaddah Dharuratun : Syaikh DR. Muhammad Duwaisy

Dzikir:

  1. Hisnul Muslim : DR. Sa’id bin Wahf Al-Qahthani
  2. Shahih Al-Wabil Ash-Shayib : Syaikh Salim Al-Hilali
  3. Al-Adzkar : Imam An-Nawawi

Bahasa Arab:

  1. Al-Muqaddimah Al-Ajrumiyah : Ibnu Ajrum
  2. Al-Minhaj Al-Mukhtashar fi Ilmin Nahwi wa ash-Sharfi : Abdullah bin Yusuf Al-Judai’
  3. At-Tuhfah As-Sanniyah Syarh Muqaddimah Ajrumiyah : Muhyiddin Abdul Hamid

Adab:

  1. Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim bi-Adab Al-‘Alim wal Muta’allim: Ibnu Jama’ah
  2. Kitab Al-Adab : Syaikh Fuad Syalhub
  3. Al-Adab Asy-Syar’iyyah : Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi

Sebagai penutup…

Saya berdoa kepada Allah semoga membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat yang mengantarkan kita kepada ridha Allah, menjauhkan kita dari kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras. Saya memohon kepada Allah keikhlaan dalam ucapan dan perbuatan, taufiq dan kelurusan. Kitab-kitab ini sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas untuk para penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam. Saya berusaha saat menyusunnya agar metode, cara, dan gaya bahasanya sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.
Syaikh Zhofir bin Hasan Al-jab’an

http://www.aljebaan.com/play-147.html


Penyusun & Penerjemah: Muhib al-Majdi
Kajian Islam

http://darulmunir.com/

Jumat, 16 Maret 2012

ISTIQAMAH


Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya fitnah yang bergelombang yang silih berganti menghampiri orang yang beriman, beliau memerintahkan agar senantiasa istiqamah, beliau bersabda,

وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Dan sesungguhnya umat ini dijadikan keselamatannya pada generasi awalnya, dan generasi akhirnya akan ditimpa bala’ dan perkara-perkara yang kamu ingkari, dan datanglah fitnah yang menjadikan fitnah sebelumnya ringan dibandingkan fitnah setelahnya. Datanglah fitnah lalu si mukmin berkata, “Inilah yang akan membinasakanku”. Kemudian fitnah itu pergi, lalu datang lagi fitnah, si mukmin berkata, “Inilah yang akan membinasakanku…”. Barang siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, hendaklah ia mendatangi kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat…” (HR. Muslim)[1]

Ketika kematian datang dan seseorang dalam keadaan beriman kepada Allah Ta’ala yaitu istiqamah di atas jalan yang lurus yang telah Allah pancangkan untuk hamba-Nya, dan menggigitnya dengan gigi geraham sampai ia bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin. Dan tidak mungkin seorang hamba dapat bertemu dengan Allah dalam keadaan beriman kecuali dengan istiqamah, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami Adalah Allah”. Kemudian beristiqamah, maka Malaikat akan turun kepada mereka (ketika matinya): “Jangan kamu merasa takut dan jangan kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat : 30)

Istiqamah di akhir zaman amatlah berat disebabkan fitnah yang dahsyat sampai-sampai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa orang yang bersabar memegang agamanya di zaman fitnah bagaikan memegang bara api yang panas. Oleh karena itu, seorang hamba yang menginginkan keselamatan hendaklah berusaha mencari jalan agar senantiasa dapat sabar beristiqamah di atas sunah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Jalan Menuju Istiqamah

Kerinduan seorang hamba kepada Rabbnya menimbulkan kekuatan untuk terus meniti jalan menuju Allah, tak peduli dengan aral yang melintang tidak pula jalan yang terjal, dan hendaklah ia mengetahui sebab-sebab agar dapat beristiqamah sehingga ia dapat meraih husnul khatimah, diantara sebab-sebab istiqamah adalah:

a. Ikhlash

Seorang hamba bila hanya mengharapkan keridhaan Allah dan pahala-Nya akan diberikan kekuatan untuk meniti jalan-Nya. Biarlah manusia murka dan mencela, baginya semua itu ringan dibandingkan dengan kemurkaan Allah dan adzab-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ ، كَفَاهُ اللهُ النَّاسَ ، وَ مَنْ أَسْخَطَ اللهَ بِرِضَى النَّاسِ ، وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ

Barang siapa yang mencari keridhaan Allah walaupun manusia murka kepadanya, Allah akan mencukupinya dari manusia. Dan barang siapa yang membuat Allah murka karena mencari keridhaan manusia, maka Allah akan menyerahkan ia kepada manusia (tidak akan ditolong oleh Allah).” (HR. Abdu bin Humaid)[2]

Hati yang tidak ikhlas akan membawa pemiliknya kepada kebinasaan, walaupun secara lahiriyah ia terlihat baik dan beramal shalih, namun ketika di hatinya ada kotoran riya dan mengharapkan sedikit dari kesenangan dunia, ia akan segera roboh di tengah jalan kecuali bila Allah merahmatinya. Demikian juga sangat dikhawatirkan bila ketidakikhlasannya tersebut menyebabkan ia mati dalam keadaan su’ul khatimah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

Sesungguhnya seseorang darimu ada yang beramal dengan amalan ahli surga sehingga jaraknya dengan surga tinggal sehasta, tetapi takdir menentukan lain, ia beramal dengan amalan ahli neraka lalu iapun masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).[3]

Dan dalam riwayat lain dengan lafadz,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan ahli surga sebatas yang tampak kepada manusia dan ia termasuk ahli neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ‘Sebatas yang tampak kepada manusia’ memberikan isyarat bahwa batin orang tersebut berbeda dengan lahiriyahnya, dan su’ul khatimah terjadi disebabkan oleh adanya keburukan yang tersembunyi yang tidak diketahui oleh manusia, sehingga perangai buruk yang tersembunyi tersebut menyeret ia kepada pengakhiran yang buruk ketika datang kematian.”[4]

Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, kuatkan hati kami untuk senantiasa ikhlas dan istiqamah di atas agama-Mu.

b. Mutaba’ah

Mutaba’ah artinya meniti jalan sunah dan menapaki jejak kaki Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak disebut istiqamah kecuali bila sesuai dengan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena orang yang berbuat bid’ah telah menyimpang dari jalan istiqamah. Bagaimana akan disebut istiqamah sementara ia menapaki selain jejak kaki Rasulullah ?! Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

Aku tinggalkan kamu di atas putih bersih malamnya bagaikan siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa.” (HR. Ibnu majah dan lainnya)[5]

Sesungguhnya mutaba’ah memberikan kekuatan yang dahsyat untuk dapat beristiqamah di jalan Allah selama ia ikhlas, bahkan Dajjal pun tak kuasa membinasakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis,

يَأْتِي الدَّجَّالُ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِينَةِ فَيَنْزِلُ بَعْضَ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِينَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ وَهُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَهُ فَيَقُولُ الدَّجَّالُ أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ هَلْ تَشُكُّونَ فِي الْأَمْرِ فَيَقُولُونَ لَا فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ فَيَقُولُ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الْيَوْمَ فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلَّطُ عَلَيْهِ

“Dajjal datang dan ia diharamkan untuk memasuki lorong-lorong menuju kota Madinah, maka ia singgah di sebuah tanah tandus sebelah kota Madinah. Lalu keluar menemuinya seorang laki-laki, ia adalah sebaik-baik manusia atau di antara manusia yang paling baik. Laki-laki itu berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya’. Dajjal berkata kepada (pengikutnya), ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini kemudian aku hidupkan kembali, apakah kalian meragukan ketuhananku?’ Mereka berkata, ‘Tidak’. Lalu Dajjal membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali. Orang itu berkata, ‘Demi Allah, Aku semakin yakin di hari ini (bahwa engkau adalah Dajjal)’, maka Dajjal berusaha membunuhnya namun ia tidak mampu.” (HR. Bukhari dan Muslim)[6]

laki-laki itu memiliki ilmu tentang hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengannya setegar karang yang tak bergeming diterpa ombak lautan. Sebaliknya orang yang menyimpang dari sunah tak dapat beristiqamah di atas sunah dan dikhawatirkan akan menjadi pengikut Dajjal sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah hadis,

يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ مَرَّةً حَتَّى يَخْرُجَ فِي عِرَاضِهِمْ الدَّجَّالُ

Akan muncul kelompok (khawarij) yang membaca Alquran namun tidak sampai ke kerongkongan mereka, setiap kali muncul di sebuah generasi akan ditumpas.” Ibnu Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kali muncul di sebuah generasi akan ditumpas.” Lebih dari dua puluh kali hingga keluar Dajjal bersama mereka.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya).[7]

c. Mencari Teman yang Shalih

Agama seseorang dapat dinilai dari teman dekatnya sebagaimana dalam hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu di atas agama temannya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan lainnya)

Teman yang shalih adalah keberuntungan yang baik bagi seorang hamba, karena ia dapat mengambil kebaikan darinya atau setidaknya ia mendapatkan wanginya. Dikala kesusahan mengganjal hatinya, ia terhibur dengan untaian nasihatnya, lebih-lebih bila teman yang shalih itu adalah seorang ahli ilmu yang bermanfaat ilmunya. Ibnu Qayyim rahimahullah bercerita, “Apabila kami merasa sangat takut, dugaan-dugaan menjadi buruk, dan bumi menjadi terasa sempit, kami mendatangi beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) maka sebatas kami mendengar ucapannya hilanglah semua perasaan tadi dan dada kami berubah menjadi lapang dan bertambah kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.

Maha suci Allah yang mempersaksikan surga kepada hamba-Nya sebelum ia bertemu dengan-Nya, dan membukakan untuk mereka pintu-pintunya di negeri amal (dunia), maka datanglah kepada mereka angin surga dan wewangiannya yang memberikan kekuatan untuk berlomba-lomba meraihnya.”[8]

Sebaliknya teman yang buruk adalah musibah yang dapat merusak agama seorang hamba, di kala berada di jalan kebenaran, ia dihalang-halangi dan dilemahkannya, dan bila berada di jalan kebatilan ditiupkan padanya buhul-buhul pengikat, sehingga ia terhalang dari cahaya hidayah yang akan menerangi hatinya.

Bukankah Abu Thalib paman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mati di atas kekafiran akibat teman-temannya yang buruk, Nabi berusaha mengajaknya kepada Islam seraya bersabda, “Wahai paman, ucapkan laa ilaaha illallah dengan kalimat itu aku akan membelamu di hari kiamat.” Sementara Abu Jahal dan Abu Lahab menghalang-halanginya dan berkata, “Apakah engkau membenci millah (ajaran) Abdul Muthallib?” Ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas millah kaumnya yang sesat. Laa haula wala quwwata illa billah.

Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Permisalan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan peniup ubupan. Adapun penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu atau engkau membeli darinya atau engkau mendapatkan wangi yang harum darinya. Sedangkan peniup ubupan akan membakar bajumu atau mendapatkan darinya bau yang tidak enak.” (HR. Bukhari dan Muslim).[9]

Teman yang shalih sangat kita butuhkan di zaman fitnah ini, maka jangan kita terpedaya dengan julukan eklusif atau semacamnya, karena keselamatan agama adalah segalanya, dan bersabarlah ketika kita bergaul dengan orang shalih karena mereka adalah manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan, dan orang yang berjiwa besar adalah yang dapat menerima kekurangan orang lain dan memperbaiki kekurangan dirinya.

d. Meninggalkan Dosa

Dosa memberikan noda-noda hitam di hati manusia, sehingga apabila noda hitam itu telah memenuhi hati ia akan menjadi gelap gulita, tak dapat mengenal yang ma’ruf tidak juga mengingkari yang mungkar, disebutkan dalam hadis:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Fitnah akan ditampakkan kepada hati seperti tikar seutas demi seutas, hati mana saja yang menerimanya akan diberikan titik hitam dan hati mana saja mengingkarinya akan diberi titik putih, sehingga menjadi dua hati: Hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan hati yang hitam seperti cangkir yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.” (HR. Muslim)[10]

Dosa melemahkan pengagungan seseorang terhadap Allah di hatinya dan menghilangkan rasa takut dari adzab-Nya. Engkau lihat orang yang banyak berbuat maksiat lisannya terasa berat untuk menyebut nama Allah, ia ganti dengan nama “Tuhan” atau “Yang di atas” atau yang semacamnya. Ia tidak memandang adzab sebagai peringatan namun hanya sebatas fenomena alam dan bencana biasa akibat alam yang tidak ramah katanya.

Orang yang keadaannya demikian akankah mampu beristiqamah di jalan Allah?! Selamanya tidak, karena dosa sudah dianggapnya remeh dan tidak lagi merasakan sakitnya maksiat akibat hati yang telah gelap dan mati, dan mayat tak akan merasakan lagi sakitnya tusukan pedang dan tombak.

e. Shalat Malam

Shalat malam adalah nutrisi kekuatan hati yang memunculkan ketegaran di kala ujian silih berganti, sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdakwah di kota Mekah menghadapi berbagai macam permusuhan dan siksa dari kaumnya, Allah memerintahkan beliau berdiri bermunajat di waktu malam untuk mengokohkan hati dalam memikul beban risalah. Allah Ta’ala berfirman,

يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ {1} قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً {2} نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً {3} أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً {4} إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً {5} إِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلاً {6}

Wahai orang yang berselimut. Bangunlah di waktu malam kecuali sedikit. Setengahnya atau kurangi lagi sedikit. Atau tambahkan dan bacalah Alquran secara tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzammil: 1-6).

Ketika fitnah turun dan melanda manusia, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya segera bertaqarrub kepada Allah di waktu malam. Ummu Salamah berkata,

اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ الْخَزَائِنِ وَمَاذَا أُنْزِلَ مِنْ الْفِتَنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُرِيدُ أَزْوَاجَهُ لِكَيْ يُصَلِّينَ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

Suatu malam Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bangun tiba-tiba dan bersabda: “Subhanallah ! Perbendaharaan apa yang Allah turunkan dan fitnah apa yang diturunkan, siapakah yang mau membangunkan para pemilik kamar –maksudnya istri-istrinya agar bangun shalat- berapa banyak wanita yang memakai pakaian di dunia namun telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari)[11]

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan anjuran untuk ber-tadharru’ (beribadah) ketika turunnya fitnah terlebih di waktu malam..”[12]

f. Do’a

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memohon kepada Allah agar hatinya diberi kekuatan untuk tetap tegar di atas agama-Nya. Anas radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seringkali mengucapkan, “Wahai (Dzat) Yang membolak balikkan hati, kuatkanlah hatiku di atas agamamu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan kami?” Beliau menjawab, “Iya, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari-jemari Allah yang Dia bolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)[13]

Terlebih di zaman yang penuh fitnah, kita amat butuh kepada pertolongan Allah agar dapat tegar berpegang kepada agama-Nya, bukankah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya fitnah yang gelap bagaikan malam yang kelam yang menjadikan seseorang tidak dapat istiqamah, beliau bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah yang bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang beriman di waktu pagi dan menjadi kafir di waktu sore, beriman di waktu sore dan menjadi kafir di waktu pagi, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim)[14]

Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan selamat dari fitnah, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu untuk selalu berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan mencintai orang-orang miskin, dan apabila Engkau menginginkan fitnah kepada hamba-hambaMu, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)[15]

g. Dzikir

Iblis dan bala tentaranya berusaha menggoda manusia dari jalan yang lurus, segala macam cara ia tempuh untuk menyesatkan manusia. Ia selalu memata-matai hati anak Adam dan mempergunakan kelengahannya. Akan tetapi Allah telah memberikan senjata untuk manusia dalam menghadapi setan dari kalangan jin yaitu dengan banyak berdzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Ibnu Abbas berkata, “Setan selalu memperhatikan hati anak Adam, bila ia lengah dan lalai setan datang memberikan waswas, dan bila ia berdzikir kepada Allah setan akan bersembunyi.”[16]

Dengan banyak berdzikir seorang mukmin akan terlindung dari kemunafikan, karena Allah menyebutkan di dalam Alquran bahwa di antara sifat orang munafiq adalah sedikit sekali berdzikir kepada Allah,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka, apabila berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malasnya, mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berdzikir kepada Allah kecuali sedikit saja.” (QS. An Nisaa: 142)

Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa yang banyak berdzikir kepada Allah ia akan terbebas dari nifaq (kemunafikan).”[17] Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Banyak berdzikir adalah keamanan dari nifaq, dan Allah memuliakan hati yang banyak berdzikir dengan dibebaskan dari penyakit nifaq, karena penyakit itu hanya ditimpakan kepada hati yang lalai dari dzikir kepada Allah.”[18]

Dzikir memberi kekuatan kepada hati seseorang untuk senantiasa istiqamah, karena orang yang selalu ingat kepada Allah, ia akan aman untuk dilupakan oleh Allah dan bila hamba dilupakan oleh Allah ia akan sengsara di dunia dan akhirat. Akibat melupakan Allah seorang hamba akan melupakan dirinya sendiri sehingga tidak peduli kepada keselamatan dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. Al Hasyr: 19).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Apabila hamba melupakan dirinya sendiri, ia akan melalaikan kemashlahatan untuk dirinya maka ia binasa dan pasti akan rusak, seperti orang yang mempunyai ladang atau taman atau binatang ternak dan sebagainya yang akan senantiasa baik bila ia memperhatikan dan mengurusnya, namun bila ia melalaikannya dan sibuk dengan urusan lain pasti akan rusak dan binasa.”[19]

h. Membaca Perjalanan Hidup Orang-Orang yang Shalih

Bila kita membaca sejarah kehidupan mereka; bagaimana kesabaran mereka dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan rintangan, kita akan merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Karena cobaan yang menimpa seseorang disesuaikan dengan keteguhannya dalam memegang agama Allah. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Beliau bersabda, “Para Nabi kemudian setelahnya kemudian setelahnya, seorang hamba diuji sesuai dengan kekuatan agamanya. Jika agamanya kokoh maka ujiannya semakin berat, dan jika agamanya tipis maka ia diuji sesuai dengan kekuatan agamanya, dan ujian akan senantiasa menerpa hamba sampai Allah biarkan ia berjalan di atas bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Ibnu Majah).[20]

Dengan membaca kisah-kisah mereka hati kita terhibur dan menjadi kuat untuk tetap istiqamah. Lebih-lebih untuk kita yang hidup di zaman yang dipenuhi penyimpangan dari sunah dimana ketika kita mencoba berpegang kepada sunah, tegak kepada kita kiamat, berbagai macam celaan dan tuduhan dilemparkan bahkan sebagian ikhwah diusir dari keluarganya, seorang akhwat diceraikan oleh suaminya, seorang anak tidak diakui lagi oleh kedua orang tuanya, dan kisah-kisah ujian yang lainnya.

Ini tidak aneh, karena Nabi yang paling mulia yang mempunyai akhlak yang sangat agung saja diberikan cobaan yang amat berat dalam menyampaikan risalah Rabbnya, demikian pula para ulama setelah itu, dengarkanlah sebuah kisah yang diceritakan oleh Imam Asy Syathibi (790 H) tentang dirinya, ia berkata,

“…Aku memulai memperdalam ushuluddin (pokok-pokok agama) baik amaliyah maupun keyakinan, kemudian memperdalam cabang-cabang yang di bangun di atas pokok-pokok tadi. Dari sana menjadi jelas kepadaku mana yang sunah dan mana yang bid’ah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, kemudian aku menguatkan diriku untuk berjalan bersama Al Jama’ah yang dinamai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama As Sawadul A’dzam, dan meninggalkan bid’ah yang telah dinyatakan oleh para ulama sebagai sesuatu yang bid’ah dan menyimpang.

Waktu itu aku ikut serta dalam sebagian khutbah, menjadi imam dan lain sebagainya, dan ketika aku ingin istiqamah di atas sunah, ternyata aku dapati diriku terasing di tengah-tengah kebanyakan manusia, karena agama mereka telah dikuasai oleh adat-istiadat dan telah dimasuki kotoran-kotoran bid’ah…

Aku pun menimbang-nimbang antara mengikuti sunah namun menyalahi adat istiadat manusia, dan pastilah aku akan menghadapi ujian yang amat berat walaupun pahalanya besar. Dan antara mengikuti mereka namun menyalahi sunah dan jalan salafusshalih, akibatnya aku termasuk orang-orang yang sesat –aku berlindung kepada Allah dari itu-.

Namun aku yakin bahwa keselamatan adalah dengan mengikuti sunah dan bahwa manusia tidak dapat menolongku sedikit pun dari adzab Allah, aku mencoba memulai mengamalkan sunah secara perlahan-lahan, maka tegaklah kiamat kepadaku, dan cercaan bertubi-tubi menghampiriku, aku dituduh sesat dan berbuat bid’ah dan dianggap pandir dan bodoh…

Terkadang aku dituduh mengatakan bahwa berdoa itu tidak ada manfaatnya karena aku tidak mau ikut berdoa secara berjamaah di setiap selesai shalat.. terkadang aku dituduh sebagai Syiah Rafidhah karena aku tidak mengkhususkan doa untuk Khulafa’ Rasyidin ketika khutbah Jumat, padahal perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh salafushalih, tidak pula oleh ulama yang mu’tabar.. terkadang aku dianggap memusuhi para wali Allah karena aku tidak menyukai kaum sufi yang berbuat bid’ah dan menyimpang dari sunah..

Keadaanku menyerupai keadaan seorang imam yang terkenal yang bernama Abdurrahman bin Bathah di tengah masyarakat di zamannya, beliau bercerita tentang dirinya:

“Aku merasa heran terhadap keadaanku bersama karib kerabatku baik yang dekat maupun yang jauh, yang mengenalku maupun yang tidak mengenalku, aku mendapati di Mekah, Khurasan, dan tempat lainnya orang-orang menyeru kepada pendapatnya, jika aku membenarkan perkataannya ia menamaiku muwafiq, jika aku menyalahi sebagian perkataannya ia menamaiku mukhalif, jika aku membawakan dalil dari Alquran dan sunah yang menyalahi pendapatnya ia menamaiku khariji, jika aku bacakan hadis tentang tauhid ia menamaiku musyabbih, jika hadis itu berbicara tentang iman ia menamaiku murji’ah, jika tentang perbuatan hamba ia menamaiku qadari, jika tentang keutamaan ahlul bait ia menamaiku rafidhah, jika tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar ia menamaiku nashibi, jika aku menjawab dengan lahiriyah hadis ia menamaiku dzahiri..

Jika aku menyetujui sebagian mereka, maka sebagian lainnya marah dan murka kepadaku, dan jika aku mencari keridhaan mereka, maka Allah akan murka kepadaku dan mereka tidak bisa menolongku sedikit pun dari adzab Allah. Maka aku tetap berpegang kepada Alquran dan sunah dan memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia dan Dia maha pengampun lagi maha penyayang.”[21]

i. Banyak Bertaubat dan Kembali kepada Allah

Bertaubat adalah pembersih kotoran dosa yang melekat di hati manusia, dan ia adalah salah satu obat yang dapat menjaga kesehatan hati, Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa cara menjaga kesehatan hati berkaitan erat dengan cara menjaga kesehatan badan, dan beliau menyebutkan bahwa menjaga kesehatan badan adalah dengan tiga cara, beliau berkata: “Poros kesehatan adalah dengan :

  1. Menjaga stamina
  2. Menjauhi penyakit dan
  3. Mengeluarkan unsur yang rusak

Perhatian para dokter berporos kepada tiga pokok ini, dan Alquran telah menunjukkan kepadanya; adapun menjaga stamina, Allah Ta’ala mengizinkan musafir dan orang sakit untuk berbuka puasa Ramadan dan mengqadhanya ketika telah mukim dan sehat, ini dalam rangka menjaga kekuatan mereka karena puasa dapat menambah lemah bagi orang yang sakit, dan musafir membutuhkan kekuatan untuk menghadapi lelahnya perjalanan sedangkan puasa membuatnya lemah.

Adapun menjauhi penyakit, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan kepada orang yang sakit untuk tidak mempergunakan air dalam wudlu dan mandi jika air itu semakin menambah penyakitnya, dan memerintahkan untuk bertayammum dalam rangka menjaganya dari sesuatu yang dapat menambah penyakit badannya.

Adapun mengeluarkan unsur yang rusak, Allah mengizinkan bagi orang yang sedang ihram untuk mencukur rambut yang menyakitinya karena banyaknya kutu yang menyerang, dan ini cara yang paling mudah dalam mengeluarkan unsur yang rusak.

Jika engkau megetahui ini, hati pun membutuhkan sesuatu yang dapat menjaga staminanya yaitu iman dan ketaatan, dan harus dijaga dari sesuatu yang dapat merusak dan mendatangkan penyakitnya yaitu dosa, maksiat, dan berbagai macam bentuk penyimpangan. Dan harus dikeluarkan darinya unsur yang rusak yaitu dengan taubat nasuha dan memohon ampunan kepada Allah yang Maha mengampuni dosa.”[22]

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang fitnah yang bergelombang dimana fitnah itu akan ditampakkan kepada hati seperti tikar seutas demi seutas, hati mana saja yang menerimanya akan diberikan titik hitam dan hati mana saja mengingkarinya akan diberi titik putih, sehingga menjadi dua hati: Hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada, dan hati yang hitam seperti cangkir yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.

Maka di zaman fitnah ini kita harus lebih banyak bertaubat dan istighfar untuk menghilangkan noda-noda hitam di hati akibat maksiat dan fitnah yang merasuki hati kita, tentunya taubat yang disertai penyesalan, bertekad untuk tidak melakukannya lagi dan meninggalkan maksiat tersebut selama hayat dikandung badan. Inilah jalan menuju istiqamah agar hamba meraih husnul khatimah.

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrussalam, Lc.
Artikel www.cintasunnah.com

[1] Muslim 3:1473 no. 1844.

[2] Musnad Abdu bin Humaid no.1524, dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Shahihah no.2311.

[3] Bukhari no.3332 dan Muslim 4:2036 no.2643.

[4] Ibnu Rajab, Jami’ul ‘ulum wal hikam 1:172-173. Tahqiq Syu’aib Al Arnauth.

[5] Dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah no 937.

[6] Bukhari no.1882 dan Muslim 4:2256 no.2938.

[7] Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Shahihah no.2455, dan hadis ini membantah sebuah pemahaman yang muncul di zaman ini bahwa Khawarij itu hanya ada pada masa Ali bin Abi Thalib saja.

[8] Lihat Shahih Al Wabil Ash Shayyib, Hal. 94-95.

[9] Bukhari no 5534 dan Muslim 4/2026 no 2628.

[10] Muslim 1/128 no 144.

[11] Bukhari, no.1126.

[12] Ibnu Hajar, Fathul Bari, 13:23.

[13] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Shahihah no.2091.

[14] Muslim 1:110 no 118.

[15] At Tirmidzi dalam Sunan-nya dari jalan Abdurrazaq dari Ma’mar dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, At Tirmidzi berkata, “Mereka menyebutkan bahwa antara Abu Qilabah dan Ibnu Abbas ada seorang perawi, diriwayatkan oleh Qatadah dari Abu Qilabah dari Khalid bin Lajlaj dari Ibnu Abbas. Penulis katakan, “Khalid bin Lajlaj atau Hushain bin Lajlaj adalah perawi yang majhul sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib, namun hadis ini mempunyai syahid dari hadis Mu’adz bin Jabal diriwayatkan juga oleh At Tirmidzi dari jalan Muhammad bin Basyar haddatsana Mu’adz bin Hani Abu Hani Al Yasykuri haddtsana Jahdlam bin Abdullah dari Yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin Sallam dari Abu Sallam dari Abdurrahman bin ‘Aiyisy Al Hadhrami dari Malik bin Yakhamir As Saksaki dari Mu’adz bin Jabal. Penulis katakan, “Sanad ini hasan dan semua perawi hadis ini tsiqah kecuali Jahdham, ia seorang perawi yang shaduq, namun Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan dengan ‘an sedangkan ia perawi mudallis, akan tetapi dalam Musnad Ahmad no.22162 ia menyatakan haddatsana sehingga tadlis-nya hilang.” Dan hadis ini bila digabungkan dengan sebelumnya menjadi shahih lighairihi. Wallahu a’lam.

[16] Tafsir Ibnu Katsir, 8:540 tahqiq Saami bin Muhammad Salamah.

[17] Shahih Al Wabil Ash Shayyib, Hal. 147.

[18] Shahih Al Wabil Ash Shayyib, Hal. 148.

[19] Shahih Al Wabil Ash Shayyib, Hal 89-90.

[20] Ibnu Majah dalam sunannya dari jalan Hammad bin Zaid dari ‘Ashim bin bahdalah dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi waqqash dari ayahnya. Penulis katakan, “Sanad hadis ini hasan semua perawinya tsiqah kecuali ‘Ashim ia shoduq lahu auham sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz”.

[21] Al I’tisham, 1:32-38 secara ringkas. Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali.

[22] Ibnu Qayyim, ighatsaulahafan, Hal. 19-20, tahqiq Majdi Fathi Sayid.

Senin, 27 Juni 2011

MACAM & ADAB IKHTILAF


Para ulama telah meneliti dalil-dalil tentang ikhtilaf, sehingga nampak jelas bahwa ikhtilaf itu ada dua macam, masing-masing terdiri dari beberapa jenis.

1. IKHTILAF TERCELA
Jenis-jenisnya adalah sebagai berikut :

[a]. Ikhtilaf yang kedua belah pihak dicela, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang ikhtilafnya orang-orang Nashara.

"Artinya : Maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat" [Al-Maidah : 14]

Firman Allah dalam menerangkan ikhtilaf nya orang-orang Yahudi

"Artinya : Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya" [Al-Maidah : 64]

Demikian juga ikhtilaf nya ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid'ah dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Allah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka" [Al-An'am : 159]

Juga termasuk kedalam ikhtilaf jenis ini adalah ikhtilaf antara dua kelompok kaum muslim dalam masalah ikhtilaf tanawwu' (fariatif) dan masing-masing mengingkari kebenaran yang dimiliki oleh kelompok lain.

[b]. Ikhtilaf yang salah satu pihak dicela dan satu lagi dipuji (karena benar).

Ini disebut dengan ikhtilaf tadhadh (kontradiktif) yaitu salah satu dari dua pendapat adalah haq dan yang satu lagi adalah bathil. Allah telah berfirman

"Artinya : Akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula) diantara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan" [Al-Baqarah : 253]

Ini (ayat di atas) adalah pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan kekufuran. Adapun pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan bid'ah adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq.

"Artinya : Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 firqah (kelompok), kaum Nashara menjadi 72 firqah, dan ummat ini akan terpecah menjadi 73 firqah, semuanya (masuk) didalam neraka kecuali satu. Ditanyakan : "Siapakah dia wahai Rasulullah ?" Beliau menjawab : "orang yang berada diatas jalan seperti jalan saya saat ini beserta para sahabatku" dalam sebagian riwayat : "dia adalah jama'ah" [Lihat "Silsilah Ash-Shahihah 204 Susunan Syaikh Nashiruddin Al-Albani]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semua firqah ini akan binasa, kecuali yang berada diatas manhaj salaf ash-shaleh. Imam Syathibi berkata : "Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [illa waahidah] telah menjelaskan dengan sendirinya bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu bermacam-macam, Rasul tidak akan mengucapkan ; [illa waahidah] dan juga dikarenakan bahwa ikhtilaf itu di-nafi (ditiadakan) dari syari'ah secara mutlak, karena syari'ah itu adalah hakim antara dua orang yang berikhtilaf. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya)". [An-Nisaa : 59]

Jenis ikhtilaf inilah yang dicela oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.


2. IKHTILAF YANG BOLEH
Ini juga ada dua macam yaitu :

[a]. Iktilafnya dua orang mujtahid dalam perkara yang diperbolehkan ijtihad di dalamnya.

Sesungguhnya termasuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada umat ini. Dia menjadikan dien (agama) ummat ini ringan dan tidak sulit. Dia juga telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa hanifiyah (agama lurus) yang lapang. Allah berfirman.

"Artinya : Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan" [Al-Hajj : 78]

Diantara rahmat ini adalah tidak memberikan beban dosa kepada seorang mujtahid yang salah bahkan ia mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman.

"Artinya : Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu salah padanya" [Al-Ahzab : 5]

Dari Amr bin Al-'Ash Radhiyallahu 'anhu, berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Apabila ada seorang hakim mengadili maka ia berijtihad, lalu ia benar (dalam ijtihadnya) maka ia mendapatkan dua pahala, apabila ia mengadili maka ia berijtihad, lalu ia salah maka ia mendapatkan satu pahala" [Hadits Riwayat Imam Bikhari]

Sebagai penjelas terhadap apa yang telah lewat, saya katakan :"Banyak para ulama yang membagi masalah-masalah agama ini menjadi Ushul Kulliyah (pokok-pokok yang mendasar serta bersifat meliputi) dan Furu' Juz'iyah (cabang-cabang yang bersifat parsial), masalah-masalah. Ushul (pokok) dan masalah-masalah ijtihad 1 baik dalam masalah ilmiyah ataupun amaliyah. Pendapat inilah yang ditempuh oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan Imam Syathibi Rahimahullah. Syaikhul Islam berkata : "Akan tetapi yang benar, bahwa masalah yang besar (pokok) dari dua katagori itu adalah masalah ushul, sedangkan rinciannya adalah masalah furu".

Di dalam fatwa Lajnah Daimah terdapat pernyataan mereka (para ulama) bahwa : "Ahlus Sunnah wal Jama'ah memiliki Ushul yang kokoh berdasarkan dalil-dalilnya, yang di atas Ushul tersebut mereka membangun furu'. Mereka berpedoman kepada masalah-masalah Ushul dalam mencari dalil terhadap masalah-masalah Juz'iyah dan dalam menerapkan hukum bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain".

Dari sini tampak jelas bagi kita bahwa permasalahan-permasalahan yang diperbolehkan berijtihad di dalamnya adalah masalah yang bersifat rinci (detail) dari masalah ilmiyah ataupun masalah amaliyah. Adapun masalah ushul (pokok) maka tidak boleh berijtihad didalamnya.

Diantara contoh permasalahan yang besar (pokok) dalam kaitannya dengan khabariyah (masalah iman dan khabar wahyu) adalah : mengesakan Allah dengan segala hak-Nya, adanya para malaikat, jin, hari kebangkitan kembali, azab kubur, shirath (jembatan yang membentang di atas Jahanam untuk di lalui manusia di hari kiamat setelah hisab), dan persoalan-persoalan nyata lainnya yang disebut sebagai USHUL (persoalan ini tidak boleh diperselisihkan -ed). Adapun FURU' dalam kaitannya dengan masalah khabariyah (masalah iman dan khabar wahyu) ialah setiap rincian (detail dari masalah-masalah ushul di atas -ed). Misalnya :Apakah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Rabbnya (ketika Mi'raj), apakah orang mati di kuburnya mendengar pembicaraan orang yang masih hidup, apakah sampai pahala amal orang yang masih hidup (selain do'a) kepada mayit ? dan lain-lainnya.

Syaikhul Islam berkata : "Oleh karenanya para imam sepakat untuk membid'ahkan orang yang (pendapatnya) menyelisihi masalah-masalah ushul seperti ini. Berbeda dengan orang yang (pendapatnya) menyelisihi masalah-masalah ijtihad, yang peringkatnya belum sampai tingkat ushul dalam kemutawatiran sunnah mengenainya, seperti perselisihan mereka berkaitan dengan hukum seorang saksi, sumpah, pembagian (harta warisan), dalam undian, dan perkara-perkara lain yang tidak sampai derajat ushul". [Majmu' Fatawa IV/425]

Sekalipun demikian, persoalannya tidaklah mutlak begitu yaitu dapat berijtihad untuk membid'ahkan siapa saja yang dikehendaki dengan hujjah ijtihad yang diperbolehkan. Oleh karena itu ada beberapa ketentuan untuk ijitihad ini, yaitu :

[1] Hendaknya dalam masalah yang di ijtihad-kan, tidak ada dalil yang qath'iyuts tsubut (qath'i adanya sebagai dalil) dan qath'iyud-dalalah (qath'i penunjukannya/dalalahnya), sebab tidak boleh berijtihad dalam menentang nash. Saya buatkan satu contoh mengenainya dengan firman Allah.

"Artinya : Tetapi jika ia tidak menemukan (binanatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna" [Al-Baqarah : 196].

Ayat ini adalah dalil yang qath'iyus-tsubut (qath'i adanya/tetapnya sebagai dalil) karena ia termasuk Al-Qur'an al-Karim. Dan juga qath'iyud dalalah (qath'i penunjukkannya/dalalahnya) tentang wajibnya puasa sepuluh hari bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban (denda) padahal ia ber-tamattu' (mendahulukan umrah daripada haji).

[2] Hendaknya dalil tentang permasalahan itu mengandung beberapa kemungkinan. Contoh yang bekaitan dengan dalil zhanniyuts-tsubut (dalil yang masih bersifat zhann.dipertanyakan keadaannya sebagai dalil), ialah pendapat sebagian ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa mustahab (sunnah) hukumnya mengerak-gerakkan jari ketika tasyahhud. Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tambahan "menggerak-gerakkan (jari)" dalam hadits itu adalah syadz (bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat). Contoh yang berkaitan dengan dalil zhanniyud-dalalah (penunjukkannya sebagai dalil masih bersifat dugaan/dalalahnya tidak qath'i) ialah firman Allah. :

"Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru" [Al-Baqarah : 228].

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al-Qar'u adalah suci, sementara yang lain berpendapat bahwa Al-Qar'u adalah haid. Kedua pendapat tersebut mempunyai kemungkinan benar-benar secara bahasa.

[3] Hendaknya ijtihad yang dilakukan tidak dalam masalah yang telah ijma' (disepakati) atau tidak dalam masalah yang telah baku sebagai manhaj ilmiyah Ahlu Sunnah.

[4] Hendaknya hukum atas permasalahan itu bersumber dari seorang mujtahid yang telah memenuhi persyaratan ijtihad, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka tentang ushul fiqh.

[5] Hendaknya kesimpulan hukum dibangun berdasarkan metode Ahlus Sunnah dalam cara pandang maupun cara mengambil dalil. Di antara metode itu adalah bahwa dalam pendapat yang di ijtihadkannya, memiliki pendahulu dari kalangan ulama umat ini yang telah dipersaksikan keilmuannya dalam masalah dien. Al-Hafidzh Ibnu Rajab dalam kitabnya "Fadhul Ilmi as-Salaf 'ala al-Khalaf" berkata :"Adapun para imam dan Fuqaha' Ahul Hadits, maka mereka akan mengikuti hadits shahih sebagaimana adanya apabila hadits itu diamalkan oleh para sahabat, orang-orang yang sesudah mereka atau sekelompok dari mereka, Adapun apa yang telah disepakati oleh mereka untuk ditinggalkan, maka ia tidak boleh diamalkan Umar bin Abdul Aziz berkata : Ambillah pendapat yang sesuai dengan (pendapat) orang-orang sebelum kalian (Salafus Shalih), sesungguhnya mereka lebih tahu dari pada kalian" [Lihat Tsalatsu Rasa'il, karya Al-Hafizh Ibnu Rajab, hal. 140, Tahqiq Muhammad Al-Ajami]

Dari keterangan di atas, menjadi jelaslah macam ikhtilaf yang pertama dari ikhtilaf yang diperbolehkan.

[b]. Ikhtilaf Tanawwu'

Contohnya adalah ikhtilaf sahabat dalam masalah bacaan (Al-Qur'an) pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :"Saya mendengar seseorang membaca ayat yang saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membacanya berbeda dengan orang itu, maka saya pegang tangannya lalu saya bahwa kehadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya laporkan hal itu kepada beliau, namun saya melihat tanda tidak suka pada wajah beliau, dan beliau bersabda.

"Artinya : Kalian berdua bagus (bacaannya), jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa".

Ulama yang paling baik menulis masalah ikhtilaf tanawwu ini dan menjelaskannya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu ketika beliau berkata : "Ikhtilaf tanawwu' ada beberapa macam, diantaranya adalah ikhtilaf yang masing-masing dari kedua perkataan (pendapat) atau perbuatan itu benar sesuai syari'at, seperti bacaan (Al-Qur'an) yang diperselisihkan itu dicegah oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Kalian berdua bagus/benar (bacaannya)"

Misalnya lagi adalah ikhtilaf dalam macam-macam sifat adzan, iqamah, do'a iftitah, tasyahhud, shalat khauf, takbir ied, takbir jenazah dan lain-lain yang semuanya disyari'atkan, meskipun dikatakan bahwa sebagiannya lebih afdhal. Kemudian kita dapatkan banyak umat Islam yang terjerumus dalam ikhtilaf hingga menyebabkan terjadinya peperangan (pertengkaran) antar golongan diantara mereka. hanya karena masalah menggenapkan lafazh iqamah atau mengganjilkannya, atau masalah-masalah semisal lainnya. Ini adalah substansi keharaman itu sendiri. Sementara orang yang tidak sampai ketingkat ini (yaitu tingkat peperangan/pertengkaran), banyak diantaranya yang kedapatan fanatik terhadap salah satu cara (adzan, iqamahm dst) tersebut karena mengikuti hawa nafsu, dan berpaling dari cara lain, atau melarang cara lain yang sebenarnya masuk dalam salah satu cara. Hal yang tentu dilarang oleh Nabi.

Diantara ikhtilaf tanawwu' juga adalah ikhtilaf yang masing-masing dari dua pendapat mempunyai kesamaan makna namun redaksinya berbeda, sebagaiman banyak orang (Ulama) yang kadang berselisih dalam membahasakan ketentuan hukum-hukum had, shighah-shighah (bentuk-bentuk ) dalil, istilah tentang nama-nama sesuatu, pembagian-pembagian hukum dan lain-lain. Selanjutnya kebodohan atau kezhalimanlah yang akhirnya membawa pada sikap memuji terhadap sakah satu dari dua pendapat tadi dan mencela yang lain.

Diantaranya lagi adalah tentang sesuatu yang memiliki dua makna yang berbeda namun tidak saling berlawanan. Yang ini adalah perkataan benar, dan yang itu juga merupakan perkataan benar, sekalipun maknanya saling berbeda. Ini banyak sekali terjadi dalam perselisihan pendapat.

Di antaranya lagi adalah ikhtilaf mengenai dua cara yang sama-sama disyari'atkan. Seseorang atau satu kelompok menempuh jalan ini, sedangkan yang lain menempuh jalan lain. Kedua-duanya baik dalam agama. Tetapi kebodohan atau kezalimanlah yang kemudian menggiring pada sikap mencela terhadap salah satu dari kedua jalan tersebut atau lebih mengutamakannya, tanpa dasar niat yang benar, atau tanpa dasar ilmu, atau tanpa dasar niat yang ikhlas dan tanpa dasar ilmu sekaligus" [Iqtidha' Ash-Shiratth Al-Mustaqim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah I/132-134]

Jika pertengkaran di antara sebagian kaum muslimin terjadi dalam ikhtilaf macam ini maka jadilah ikhtilaf itu tercela, sebagaimana yang telah jelas pada penjelasan yang telah lewat dan pada hadits Abdullah bin Mas'ud seputar ikhtilaf dalam qira'ah (bacaan Al-Qur'an). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Kalian berdua benar, jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa"

Syaikhul Islam berkata : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang masing-masing dari kedua belah pihak mengingkari/menolak kebenaran yang ada pada pihak lain, karena kedua orang sahabat yang berbeda bacaannya itu sama-sama benar dalam bacaannya. Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan sebab (larangan) tersebut yaitu bahwa lantaran umat sebelum kita berselisih, maka kemudian mereka menjadi binasa karenanya.

Oleh sebab itu ketika Hudzaifah melihat penduduk Syam dan Iraq berselisih mengenai bacaan huruf Al-Qur'an dengan perselisihan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata kepada Utsman (bin Affan, Amirul Mukminin -ed) : "Perbaikilah umat ini, janganlah mereka berselisih dalam bacaan Al-Qur'an, sebagaimana umat sebelum mereka berselisih".

Jadi keterangan ini memberikan dua faedah :

[1] Haramnya berselisih dalam masalah seperti ini.
[2] Mengambil pelajaran dari umat sebelumnya dan berhat-hati jangan sampai menyerupai mereka.


ADAB-ADAB IKHTILAF

Islam telah meletakkan sendi-sendi adab yang tinggi bagi seorang muslim yang berjalan diatas manhaj Sunnah, dalam pergaulannya bersama saudara-saudaranya ketika berselisih faham dengan mereka dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Cukuplah kiranya, sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pembawa rahmat dan petunjuk.

"Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia". [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam 'Adabul Mufrad' dan Imam Ahmad. Lihat 'Silsilah Ash-shahihah 15']

Di antara adab-adab itu ialah :

[1]. Lapang Dada Menerima Kritik Yang Sampai Kepada Anda Untuk Membetulkan Kesalahan, Dan Hendaklah Anda Ketahui Bahwa Ini Adalah Nasehat Yang Dihadiahkan Oleh Saudara Seiman Anda.

Ketahuilah ! Bahwa penolakan anda terhadap kebenaran dan kemarahan anda karena pembelaan terhadap diri adalah kesombongan -A'aadzanallah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain". [Hadits Riwayat Muslim]

Banyak sekali contoh sekitar adab yang mulia ini yang telah dijelaskan oleh para salafus shalih, dianaaranya adalah :

Kisah yang diceritakan oleh al-Hafizh Ibnu Abdil Bar, beliau berkata : "Banyak orang telah membawa berita kepada saya, berasal dari Abu Muhammad Qasim bin Ashbagh, dia berkata : "Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah timur, saya singgah di Qairawan. Disana saya mempelajari hadits Musaddad dari Bakr bin Hammad. Kemudian saya melakukan perjalanan ke Baghdad dan saya temui banyak orang (Ulama) disana. Ketika saya pergi (dari Baghdad), saya kembali lagi kepada Bakr bin Hammad (di Qairawan-red) untuk menyempurnakan belajar hadits Musaddad.

Suatu hari saya membacakan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dihadapan beliau (untuk mempelajarinya) :

"Artinya : Sungguh telah datang satu kaum dari Muldar yang (Mujtaabin Nimar)"
Beliau (Bakr bin Hammad) berkata kepadaku "Sesungguhnya yang benar adalah Mujtabits Tsimar. Aku katakan padanya Mujtaabin Nimar, demikianlah aku membacanya setiap kali aku membacakannya di hadapan setiap orang yang aku temui di Andalusia dan Irak"

Beliau berkata kepadaku : "Karena enngkau pergi ke Irak, maka kini engkau (berani) menentang aku dan menyombongkan diri dihadapanku ?" Kemudian dia berkata kepadaku (lagi) : "Ayolah kita bersama-sama bertanya kepada syaikh itu (menunjuk seorang syaikh yang berada di Masjid), dia punya ilmu dalam hal seperti ini"

Kami pun pergi ke syaikh tersebut dan kami menanyainya tentang hal ini.

Beliau berkata : "Sesungguhnya yang benar adalah [Mujtaabin Nimar]" seperti yang aku baca. Artinya adalah : Orang-orang yang memakai pakaian, bagian depannya terbelah, kerah bajunya ada di depan. Nimar adalah bentuk jama' dari Namrah. Bakr bin Hammad berkata sambil memegangi hidungnya : "Aku tunduk kepada al-haq, aku tunduk kepada al-haq !" lalu ia pergi. [Mukhtasyar Jaami' Bayanil Ilmi wa Fadlihi, hal.123 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar al-Mahmashaani]

Saudaraku, cobalah anda perhatikan -semoga Allah senantiasa menjaga anda- betapa menakjubkan sikap Adil ini ! Alangkah perlunya kita pada sikap adil seperti sekarang ! Akan tetapi mana mungkin hal itu terjadi kecuali bagi orang yang ikhlas niatnya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah dia Imam Malik rahimahullah (pada masa hidupnya-red) pernah berkata : "Tidak ada sesuatupun yang lebih sedikit dibandingkan dengan sifat adil pada zaman sekarang ini" [Mukhtasyar Jaami' Bayanil Ilmi wa Fadlihi, hal . 120 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar al-Mahmashaani]

Maka apa lagi dengan zaman sekarang ini yang sudah demikian berkecamuknya hawa nafsu!! -Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang menyesatkan-.

[2]. Hendaklah Memilih Ucapan Yang Terbaik Dan Terbagus Dalam Berdiskusi Dengan Sesama Saudara Muslim.

Allah berfirman.

"Artinya : Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" [Al-Baqarah : 83]

Dari Abu Darda' Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dibanding akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah murka kepada orang yang keji dan jelek (akhlaqnya)". [Hadits Riwayat Tirmidzi).

[3]. Hendaklah Diskusi Yang Dilakukan Terhadap Saudara Sesama Muslim, Dengan Cara-Cara Yang Bagus Untuk Menuju Suatu Yang Lebih Lurus.

Yang menjadi motif dalam berdiskusi hendaklah kebenaran, bukan untuk membela hawa nafsu yang sering memerintahkan pada kejelekan. Akhlak anda ketika berbicara terletak pada keikhlasan anda. Jika diskusi (tukar fikiran) sampai ketingkat adu mulut, maka katakanlah : "salaam/selamat berpisah !" dan bacakanlah kepadanya sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran sorga bagi orang yang meninggalkan adu mulut meskipun ia benar" [Hadits Riwayat Abu Daud dari Abu Umamah al-Bahily]

Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar menyebutkan dari Zakaria bin Yahya yang berkata : "Saya telah mendengar Al-Ashma'i berkata : "Abdullah bin Hasan berkata : Adu mulut akan merusak persahabatan yang lama, dan mencerai beraikan ikatan (persaudaraan) yang kuat, minimal (adu mulut) akan menjadikan mughalabah (keinginan untuk saling mengalahkan) dan mughalabah adalah sebab terkuat putusnya ikatan persaudaraan. [Mukhtasyar Jaami' Bayan al-Ilmi wa Fadlihi hal. 278]

Dari Ja'far bin Auf, dia berkata : saya mendengar Mis'ar berkata kepada Kidam, anaknya :

Kuhadiahkan buatmu wahai Kidam nasihatku
Dengarlah perkataan bapak yang menyayangimu
Adapun senda gurau dan adu mulut, tinggalkanlah keduanya
Dia adalah dua akhlak yang tak kusuka dimiliki teman
Ku pernah tertimpa keduanya lalu akupun tak menyukainya
Untuk tetangga dekat ataupun buat teman

Para salaf shalih telah membuat permisalan yang sangat cemerlang tentang etika ikhtilaf (perselisihan pendapat), diantaranya adalah :

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Hushain bin Abdurrahman, dia berkata :

"Saya berada di tempat Said bin Jubair, lalu ia berkata : "Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam ?
Saya jawab : "Saya, tetapi ketahuilah bahwa saya tidak dalam keadaan shalat, saya kena sengat binatang berbisa!".
Sa'id bertanya : "Apa yang kau perbuat ?"
Saya menjawab : "Saya melakukan ruqyah (baca-bacaan sebagai obat)"
Said bertanya : "(Dalil) apakah yang membawamu untuk melakukan itu ?"
Saya jawab : "Sebuah hadits yang diceritakan kepada kami oleh As-Sya'bi".
Sa'id berkata :"Apa yang diceritakan Asy-Sya'bi kepadamu ?"
Saya jawab : "Dia bercerita kepada kami dari Buraidah bin Al-Hushain bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak ada ruqyah kecuali (pada penyakit yang timbul) dari mata (orang yang dengki) dan bisa (racun) hewan"

Dia berkata : "Sungguh bagus orang yang berpedoman pada apa (riwayat) yang ia dengar, akan tetapi Ibnu Abbas menceritakan kepada kami bahwa .....(sampai akhir hadits)"

Perhatikanlah adab mulia yang dimiliki pewaris ilmunya Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu ini, ia tidak memaki Hushain bin Abdurrahman (orang yang berselisih dengannya), bahkan menganggapnya baik karena Hushain mengamalkan dalil yang ia ketahui. Kemudian baru setelah itu. Sa'id bin Jubair menjelaskan hal yang lebih utama (untuk dilakukan) dengan cara yang lembut dan dikuatkan dengan dalil.

Akhirnya melalui hadits ini kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.

[1] Ikhtilaf, meskipun ia sudah menjadi perkara yang ditakdirkan oleh Allah akan tetapi wajib bagi kita untuk menjauhinya dan tidak punya keinginan untuk berikhtilaf pada suatu yag boleh selama kita masih ada jalan untuk menghindarinya.

[2] Perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad padanya, memiliki beberapa syarat dan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh ilmu dan keikhlasan bukan diatur oleh perkiraan dan kemauan hawa nafsu.

[3] Ahlu Sunnah memiliki manhaj dalam memahami ikhtilaf yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Diantara adab-adabnya adalah mengikuti akhlak para salaf shalih dalam pergaulan dengan sesama mereka ketika terjadi ikhtilaf.

[4] Tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menuduh saudaranya memisahkan diri dari manhaj Ahlus Sunnah kecuali berdasarkan ilmu dan keadilan, bukan berdasarkan kebodohan dan kezhaliman.

[5] Tidak mencampur adukkan antara masalah-masalah ijtihadiyah dengan masalah iftiraq (perpecahan) demikian juga tidak boleh mencampur-adukkan antara orang yang membuat bid'ah juz'iyah dengan orang yang meninggalkan sunnah dengan bid'ah kulliyah.

[Demikianlah, semoga tulisan terjemahan dari majalah al-Ashalah ini dapat memberikan tambahan pemahaman kepada pembaca sekalian tentang Fiqh Ikhtilaf atau perbedaan pendapat]

[Disalin dari Majalah Al-Ashalah tgl. 15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th.III hal 78-89, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M hal. 25-29 penerjemah Ahmad Nusadi. Tulisan ini merupakan Bagian Kedua dari Tiga Tulisan.]

Minggu, 06 Maret 2011

Hukum MAULID dari Tinjauan Sejarah dan Analisa Dampak


Sejarah lahirnya Maulid

Syaikh ‘Ali Mahfudzh dalam bukunya menerangkan, “Ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakannya ialah para Khalifah Bani Fathimiyyah di Kairo pada abad keempat Hijriyah. Mereka merayakan perayaan bid’ah enam maulid, yaitu: Maulid Nabi saw, Maulid Imam ‘Ali ra, Maulid Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiallahu ‘anha, Maulid Al-Hasan dan Al-Husein dan maulid Khalifah yang sedang berkuasa. Perayaan tersebut terus berlangsung dalam berbagai bentuknya sampai dilarang pada zaman pemerintahan Al-Afdhal Amirul Juyusy.

Perayaan ini kemudian dihidupkan kembali di zaman pemerintahan Al-Hakim biamrillah pada tahun 524 Hijriyah setelah orang-orang hampir melupakannya. Dan yang pertama kali maulid Nabi dikota Irbil adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Said di abad ketujuh dan terus berlangsung sampai di zaman kita ini. Orangorang memperluas acaranya dan menciptakan bid’ah-bid’ah sesuai dengan selera hawa nafsu mereka yang diilhamkan oleh syaithan , jin dan manusia kepada mereka.” [Al-Ibda’ fi madhiril ibtida’: 126]. Satu hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa Kerajaan Fathimiyyah didirikan oleh ‘Ubaidillah Al-Mahdi tahun 298 H di Maghrib (sekarang wilayah Maroko dan Aljazair) sedangakan di Mesir kerajan ini didirikan pada tahun 362 H oleh Jauhar As- Shaqali. Para pendiri dan raja-raja kerajaan ini beragama Syi’ah Islmailiyah Rafdliyah. Kerajaan ini didirikan sebagai misi dakwah agama tersebut dan merusak Islam dengan berkedok kecintaan terhadap Ahlul Bait (keluarga Nabi saw). Maka jelaslah sudah bagi mereka yang memiliki bashirah bahwa perayaan maulid dipelopori oleh kaum Syi’ah.

Hari lahir Nabi memang istimewa, akan tetapi…..
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]. Hari kelahiran Nabi adalah istimewa berdasarkan hadits tersebut, akan tetapi tidak terdapat dalam hadits tersebut perintah untuk merayakannya. Seandainya kita setuju dengan istilah “merayakan”, maka seharusnya kaum Muslimin merayakannya dengan berpuasa sebagaimana tersurat dalam hadits tersebut. Bukannya merayakan dengan berfoya-foya dan pesta arak-arakan seperti yang kita saksikan saat ini.

ANALISA DAMPAK PERAYAAN MAULID

Praktek Kesyirikan yang tidak Disadari

Kenyataan yang ada, bahwa pada sebagian kaum Muslimin dalam merayakan maulid mereka membacakan Barzanji, sebuah ritual membacakan puji-pujian kepada Nabi saw yang di dalamnya juga terdapat jentik-jentik kesyirikan danpujian yang melampaui batas Syari ’at terhadap Nabi saw (ithra’), namun mereka menganggap itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini membuat sebuah praktek kesyirikan menjadi terselubung dalam nuansa yang dianggap ibadah. Lebih jelas lagi tentang hal ini kami cantumkan dalam rubrik
“STUDI KRITIS” Tentang pujian yang melampaui batas, Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan memuji putera Maryam. Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka Katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari dari ‘Umar ra]

Inilah dampak yang terbesar dan tercantum di urutan pertama dari sekian kerusakan dalam ritual perayaan maulid. Karena perbuatan Syirik menghapus seluruh amal seorang hamba sebagaimana firman-Nya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu (Hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalmu dan niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar : 65]. Kaum Muslimin yang terlibat dalam pembacaan Barzanji tersebut juga meyakini datangnya ruh Muhammad sehingga mereka menyambutnya dengan berdiri. Ini adalah I’tiqad yang keliru dan melampaui batas terhadap Nabi saw . Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah : “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” [Al-Mukminun : 15-16]. Bertentangan pula dengan sabda Rasulullah saw : “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat nanti, Aku adalah orang yang pertama kali memberi Syafa’at dan orang yang pertama kali diterima Syafa’atnya” Berkata Imam Ibnu Baaz setelah membawakan dua dalil tersebut, “Ayat dan Hadits di atas serta nash-nash lain yang semakna bahwa Nabi Muhammad saw dan siapapun yang sudah mati tidak akan bangkit kembali dari kuburnya, kecuali pada hari kiamat. Hal ini merupakan kesepakatan para ‘ulama Muslimin, tidak ada pertentangan diantara mereka”. [At-Tahdziru minal Bida’ oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Abdullah bin Baaz].

Mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan Syari’at

Ini dikarenakan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari’at untuk beribadah dengan merayakan hari kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan Sahabat jelas merupakan sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari’at.
Sedangkan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya...”[Al-Hujurat :1].
Maksudnya adalah, orang-orang Mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana pendapat Anda ? Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan bagi kebahagian hambanya, kemudian Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datanglah seorang hamba dengan membawa aturan baru yang dianggapnya baik bagi dirinya dan bagi hamba yang lain. Tidakkah ia (si hamba) tanpa disadari telah lancang menuduh aturan Sang Raja belum sempurna, sehingga perlu ditambahi ? Inilah hakikat Bid’ah, menyaingi bahkan mengambil hak Allah dalam menetapkan Syari’at. Padahal Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka (aturan) agama yang tidak diizinkan Allah ?” [Asy-Syuura :21]. Kita tak akan pernah menemukan adanya perayaan hari ulang tahun Nabi oleh para Sahabat terekam dalam lembaran-lembaran kitab hadits yang shahih, karena memang itu tidak pernah terjadi pada masa Sahabat baik tabi’in, tabi’ut tabi ’in dan bahkan tidak pernah terjadi pada masa Imam Syafi’ie (150 H - 204 H). Karena bid’ah maulid baru muncul pada abad ke-4 H. Kalau memang peringatan Maulid itu baik maka tentunya para sahabat telah mendahului kita melakukannya sebagaimana kata ulama : “walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi”

Munculnya wujud rasa cinta yang keliru

Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Nabi yang paling mulia Muhammad saw. Jika ini benar, siapakah diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi ketimbang Sahabat ?. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjawab “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika memang demikian, lalu mengapa para Sahabat tidak mewujudkan rasa cinta kepada Nabi dengan cara merayakan hari kelahiran Nabi sebagaimana sebagian muslim di zaman ini ? Mengapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini ?.
“Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111].
Sesungguhnya Ahlussunnah meyakini bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orangorang munafik, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mustahi l mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhamad)! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [QS.Ali-‘Imran: 31].

Bukannya kebaikan, justru sebaliknya

Tidak asing telinga kita mendengar hentakan-hentakan musik yang hingar bingar pada setiap tahunnya di bulan Rabiul Awwal dalam aneka ragam perayaan maulid. Alunan-alunan musik tersebut tidak jarang disertai juga oleh pemuda-pemuda mabuk yang bergoyang bersama mengikuti irama lagu. Bahkan musikmusik tersebut diperdengarkan di rumah Allah yang di dalamnya digunakan untuk bersujud kepada-Nya. (hanya kepada Allah memohon pertolongan dari kerusakan ini). Allah berfirman : “Dan diantara manusia ada yang menggunakan “lahwal hadits” untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azdab yang menghinakan ” [Luqman : 6]. Ibnu Mas’ud ra menafsirkan lahwal hadits dalam ayat tersebut adalah “nyanyian atau lagu”. [lih. Tafsir Ibnu Katsier Surat Luqman].

Jati diri Islam menjadi luntur, karena mengekor pada Nashrani

Maulid pada hakikatnya meniru Nashrani dalam hal merayakan hari kelahiran Nabi Isa yang mereka sebut dengan Natal. Kita, ummat Muhammad dilarang keras menyerupai Yahudi dan Nashrani apalagi meniru-niru ritual agama mereka. Allah berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145]. Yang dimaksud ayat ini menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah “meniru sesuatu yang menjadi ciri khas mereka, atau yang merupakan bagian dari ajaran Agama mereka” [Iqtidha’ shirathal mustaqim T. / 63-64]. Rasulullah juga bersabda : “Barang siapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan kaum itu” [Ahmad dan Abu Dawud, shahih].
Kecenderungan bersikap tabdzir (menghamburkan harta secara mubazzir) Bisa dibayangkan dana yang dikeluarkan oleh sebagian kaum muslimin yang merayakan maulid, andaikata dana-dana tersebut disedekahkan kemudian dikorbankan untuk berjihad di jalan Allah niscaya hal itu akan lebih bermanfaat ketimbang menggunakannya sebagai penyokong bid’ah yang tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai memberatkan diri untuk berhutang kepada saudara muslim lainnya. Ini adalah sikap mubazzir yang dapat menghantarkan kita menjadi saudara-saudara syaitan sebagaimana yang disebut oleh Al-Qur’an “…dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya” [Al-Isra’ :26-27].

Membantu penyebaran hadits palsu

Perlu diketahui bahwa banyak beredar di tengah ummat hadits-hadits tentang keutamaan merayakan hari kelahiran Nabi. Dan semuanya adalah palsu tidak ada keraguan padanya. Kami tidak akan menyebutkannya karena di sini bukanlah tempatnya. Di bulan Rabiul Awwal ini selalu disampaikan hadits-hadits tentang keutamaan maulid di atas-atas mimbar maupun pada saat acara perayaan dilangsungkan, ini tentu saja membantu menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah. Sedangkan Rasul bersabda :“Barang siapa mengatakan sesuatu atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dalam neraka.” [Hadits Hasan riwayat Ahmad].

Persatuaan Islam yang semu

Sebagian kaum Muslimin masih berusaha melakukan pembelaan terhadap perayaan maulid dengan berkata : “Ini adalah momen yang istimewa untuk mempererat ukhuwah, silaturahmi dan menyemarakkan sedekah antara saudara Muslim. Jadi tidak ada salahnya kita merayakan maulid dengan kemeriyahannya”. Untuk menjawab ungkapan ini kita kembali kepada kaidah yang sangat kokoh bahwa generasi pertama ummat ini adalah sebaik-baik generasi, berdasarkan hadits “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi’in) kemudian yang sesudahnya (tabi ’ tabi ’in)” [HR. Bukhari]. Berangkat dari kaidah ini kita katakan bahwa para Sahabat adalah orang-orang yang paling kokoh ukhuwah dan silaturahminya terhadap saudara Muslim. Barisan shaf mereka rapat, bersambung dari bahu kebahu dari tumit ke tumit dan kokoh dihadapan Rabbul ‘alamin sewaktu mereka berdiri, ruku’ dan sujud. Jiwa-jiwa mereka bersatu di medan jihad. Begitu pula sedekah mereka tidak berbicara sebagaimana orang-orang di zaman ini. Dan tidaklah itu semua dikarenakan oleh perayaan maulid Nabi, tidak pula oleh aneka lomba dan permainan yang mereka adakan setiap Rabiul Awwal. Giliran kami yang bertanya, jika maulid adalah jembatan menuju persatuan Islam dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh, lalu apa gerangan yang mengakibatkan kaum Muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak karena berpecah belah ? Padahal perayaan maulid telah berlangsung lebih dari sepuluh abad. Hanya kepada Allah kita kembali dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dari badai syubhat dan syahwat yang menerpa.
Sumber Bacaan:
- Iqtidho Sirothol Mustaqim
- Tahdziiru Minal Bida'
[Al-Hujjah Risalah No: 50 / Thn IV / Rabiul Awal / 1423H ]
Download kitab tentang maulid here