English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : YBG

Xilisoft HD Video Converter 6 Full With serial

Wide range of formats support: Support HD videos like AVCHD (mts, m2ts), MKV, HD ASF, HD AVI, H.264/AVC, HD Quick Time, HD MPEG-4, and HD WMV, and general videos and audios like AVI, MPEG, WMV, MP4, 3GP, FLV, RM, MOV, MP3, WMA and AAC.

Trik dan SN Smadav Pro 8.4

Smadav 2011 Rev. 8.4 : Pendeteksian khusus untuk beberapa virus shortcut terbaru (MSO-sys, fanny-bmp),penambahan database 40 virus baru, penyempurnaan deteksi semua varian virus shortcut, penambahan teknik heuristik, dsb.

08 al-Khamr

Kartun Ahkamul Quran, merupakan kartun islamic yang memberikan tuntunan kepada kita tentang hukum-hukum dan adab-adab dalam agama islam. dan kali ini menceritakan tentang hukum meminum khamar (minuman keras)

NATURAL_HABBATUSSAUDA PLUS

HABBATUSAUDA adalah jinten hitam yang mampu membangkitkan sistem kekebalan tubuh (immunity system) yang mampu mempertahan tubuh dari serangan berbagai penyakit. Insya Alloh

Sabtu, 14 April 2012

XP Themes / Visual Styles Cars

PLEASE NOTE: XP Themes / Visual Styles require an Installation app, try TuneUp Utilities - New Version 2010!

lambo zune by liquidator
fptl fptr
lambo zune
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (2 KB)
Date Published: 2008-09-03
(Modified 2008-09-04)
Downloads: 50,598
Views: 9,844
Reventon by sssssssss
fptl fptr
Reventon
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (461 KB)
Date Published: 2008-06-22
(Modified 2008-06-23)
Downloads: 38,079
Views: 6,295

lamboghini to zune theme by liquidator
fptl fptr
lamboghini to zune theme
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (2 KB)
Date Published: 2008-05-08
(Modified 2008-05-13)
Downloads: 83,885
Views: 8,262
HOMS by ahmed_homs_2006
fptl fptr
HOMS
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (1 KB)
Date Published: 2007-10-06
(Modified 2007-10-08)
Downloads: 32,704
Views: 31,167

Rabin by Xp Killer
fptl fptr
Rabin
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (365 KB)
Date Published: 2007-09-13
(Modified 2007-09-21)
Downloads: 30,875
Views: 30,663
lamborghini by BadBoY
fptl fptr
lamborghini
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (619 KB)
Date Published: 2007-08-24
(Modified 2007-08-26)
Downloads: 142,436
Views: 137,219

ferrari by BadBoY
fptl fptr
ferrari
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (1,501 KB)
Date Published: 2007-08-24
(Modified 2007-08-26)
Downloads: 76,206
Views: 76,277
HRM by Xp Killer
fptl fptr
HRM
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (925 KB)
Date Published: 2007-07-11
(Modified 2007-07-13)
Downloads: 10,127
Views: 10,040

segg by kimrock
fptl fptr
segg
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (744 KB)
Date Published: 2007-07-07
(Modified 2007-07-13)
Downloads: 51,204
Views: 40,112
Spice by Xp Killer
fptl fptr
Spice
fpbl fprb
More Info or Download

File Size: (308 KB)
Date Published: 2007-06-20
(Modified 2007-07-02)
Downloads: 33,495
Views: 26,928

16 Tips Menghafal Al-Quran


Banyak sekali tips untuk menghafalkan Al-Qur’an yang telah dituliskan oleh para ulama, di antaranya:

1. Ikhlas sebagai kunci ilmu dan pemahaman.
Jadikan maksud dan tujuan kita dalam menghafal sebagai bentuk taqarrub kepada Allah SWT. Hadirkan pada diri kita bahwa yang sedang kita baca adalah Kalamullah Azza wa Jalla. Waspadalah, motivasi kita dalam menghafal bukanlah untuk mendapatkan kedudukan di tengah-tengah masyarakat atau untuk mendapatkan penghasilan dunia, upah, dan hadiah, melainkan karena Allah SWT semata. Allah SWT tidak akan menerima amal kecuali amal itu dikerjakan secara ikhlas untuk-Nya semata.



2. Menjauhi kemaksiatan dan perbuatan dosa.
Hati yang diselimuti oleh kemaksiatan dan disibukan dengan serbuan syahwat dunia tidak akan mendapatkan porsi cahaya Al-Qur’an. Kemaksiatan akan menjadi penghalang dalam menghafal Al-Qur’an. Ibnu Mubarak rahimahullah berkata :
Aku melihat dosa-dosa itu akan mematikan hati
Selalu melakukan dosa akan mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa merupakan hidupnya hati
Baik bagi dirimu bilamana meninggalkannya
Dikisahkan, suatu hari Imam Syafi’i rahimahullah yang memiliki kecepatan dalam menghafal mengadu kepada gurunya, Waki’, karena mengalami kelambatan dalam menghafal. Waki’ lalu memberikan obat mujarab, yaitu dengan nasihat agar dia meninggalkan perbuatan maksiat dan mengosongkan hati dari setiap penghalang antara dia dan Tuhan. Imam Syafi’I rahimahullah berkata:
Aku mengadu kepada (guruku) Waki’ atas buruknya hafalanku
Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan kemaksiatan
Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.
Barangsiapa memiliki kesungguhan untuk menjauhi kemaksiatan, maka Allah Azza wa Jalla akan membukakan hatinya untuk mengingat-Nya, membimbingnya dalam mentadaburi ayat-ayat kitab-Nya, memberikan kemudahan dalam menghafal dan mempelajarinya.

3. Memanfaatkan masa kanak-kanak dan masa muda.
Anak kecil memiliki banyak waktu luang. Ahnaf bin Qais meriwayatkan, dia pernah mendengar seseorang berkata:
“Belajar waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu”.
Maka Ahnaf pun berkomentar:
“Orang dewasa itu lebih pandai, akan tetapi hatinya lebih sibuk”.
Namun demikian, orang yang masa mudanya telah berlalu, jangan sampai merasa tidak memiliki kesempatan dan merasa lemah dalam menghafal. Sebabnya, bila dia kosongkan hatinya dari segala kesibukan dan kegundahan, maka dia akan mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman :
“Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar/54 :17)
Ketika seseorang beranjak dewasa, penglihatannya akan melemah. Tekadang dia tidak mampu membaca Al-Qur’an dari mushaf. Saat dewasa itulah dia akan mendapatkan yang telah dihafalnya. Simpanan hafalan dalam dadanya itu akan dibaca dan dinikmat dalam tahajudnya. Jika dia tidak mengingat sedikit pun yang telah dihafalnya, maka betapa besar penyesalannya.

4. Memanfaatkan waktu giat dan senggang.
Tidak layak menghafal waktu lelah dan membosankan, atau ketika pikiran sibuk dalam suatu perkara, karena semua itu akan menghalangi konsentrasi dalam menghafal. Pilihlah waktu giat dan keadaan pikiran sedang tenang. Alangkah baik menghafal dilakukan setelah Shalat Fajar (Subuh) karena lebih banyak manfaatnya, terlebih bagi orang yang tidur malam lebih awal.
Menggunakan waktu-waktu giat sangat penting. Kita harus mengetahui kapan diri kita bangkit untuk bekerja dan kapan beristirahat.
Bila datang kesempatanmu, maka pergunakanlah ia sebaik-baiknya
Karena akhir setiap yang bergerak adalah ketenangan
Jangan kamu lalai melakukan kebaikan saat ada kesempatan
Karena kamu tidak tahu kapan ketenangan (kesempatan) itu akan kembali
Di antara keindahan lantunan bait syair Imam Syafi’i agar kita menggunakan kesempatan untuk bergegas melakukan ketaatan adalah :
Bila orang-orang mulai terlelap tidur, aku pun menangis
Dan aku lantukan di antara bait syair yang terindah
Bukankah kerugian itu adalah malam-malam yang berlalu
Berlalu tanpa dilalui menuntut ilmu dan akan dihisab umurku?

5. Memilih tempat yang tepat.
Jauhi tempat-tempat bising dan keramaian agar kita dapat berkonsentrasi. Sebaik-baik tempat untuk menghafal Al-Qur’anul Karim adalah rumah-rumah Allah (masjid) agar mendapatkan pahala berlipat ganda.

6. Motivasi diri dan tekad yang benar.
Keinginan yang kuat dan benar akan memberikan pengaruh yang besar dalam menguatkan, memudahkan, dan berkonsntrasi dalam menghafal. Orang yang menghafal di bawah pengaruh tekanan kedua orangtuanya atau gurunya, tanpa timbul motivasi dari dalam dirinya, maka hal itu tidak akan berlangsung lama dan pasti akan mengalami masa futur (lemah semangat) yang berat.
Motivasi diri dan tekad yang benar akan bertambah dengan adanya penyemangat yang berkesinambungan, penjelasan tentang ganjaran dan kedudukan yang mulia bagi para penghafal Al-Qur’anul Karim dan majelis Al-Qur’an, serta adanya pengobaran semangat berlomba dalam halaqah Qur’an, rumah, atau sekolah.
Tekad yang benar dengan sendirinya akan menghilangkan bisikan-bisikan setan. Nafsu ammarah (jiwa penyuruh keburukan) pun akan sirna. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata:
“Barangsiapa memiliki tekad yang benar, maka setan akan berputus asa darinya, dan bila mana seorang hamba tidak teguh pendiriannya, maka setan akan selalu mengganggunya dan menjanjikan angan-angan yang terlalu jauh”.
Imam Ibnu Al-Jauzi rahimahullah bercerita tentang dirinya:
“Aku pernah merasakan manisnya dalam menuntut ilmu, aku pun menjumpai berbagai ujian yang menurutku lebih manis dari pada madu dikarenakan aku menginginkan yang aku harapkan”.

7. Memfungsikan semua indera.
Kemampuan satu orang dengan lainnya pasti berbeda, apalagi dalam menghafal Al-Quran. Namun, menggunakan semua pancaindera secara optimal akan memberikan kemudahan untuk menyimpan hafalan secara baik dalam ingatan.
Dalam proses menghafal Al-Quran ini, hendaknya kita dapat menfungsikan indera penglihatan, pendengaran, dan ucapan. Setiap indera kita memiliki jalan yang akan menyampaikannya kepada otak. Apabila cara yang dilakukan beraneka ragam, maka akan menghasilkan hafalan yang kuat dan mantap.
Kita bisa memulainya dengan membaca ayat yang akan kita hafal secara jahriyah (bersuara). Kita harus melihat dengan teliti halaman yang kita baca, serta mengulang-ngulannya, sampai halaman mushaf terekam dalam ingatan.
Hendaknya pendengaran kita gunakan dalam membaca sehingga terasa nyaman, khususnya bila kita membacanya dengan lagu yang indah.
Hindari cara-cara menghafal yang keliru, misalnya melihat mushaf dengan tidak bersuara, mendengarkan kaset Al-Qur’an tanpa melihat mushaf, atau merasa cukup dengan suara bacaan yang pelan.

8. Menggunakan satu cetakan mushaf.
Pilihlah cetakan Mushaf Huffazh, yaitu mushaf yang tiap awal halamannya diawali ayat baru dan di halaman itu pula berakhir ayat sesudahnya. Ini akan memberikan pengaruh cukup besar kepada kita dalam memberikan gambaran bentuk dan letak halaman dalam ingatan. Juga kita akan kembali terfokus ketika melakukan murajaah (mengulang hafalan).
Bila cetakan mushaf yang digunakan berubah-ubah, maka akan memberikan gambaran yang berbeda di dalam ingatan. Kita tidak akan dapat konsentrasi sehingga membuyarkan hafalan yang ada.
Jangan lupa untuk menggunakan mushaf saku atau mushaf yang dicetak per juz yang selaras dengan cetakan mushaf yang digunakan selama ini. Jadikan mushaf saku itu selalu bersama kita, di mana pun kita berada. Dengan mushaf tersebut kita dapat segera memanfaatkan waktu yang ada untuk hafalan baru atau mengulang hafalan yang ada.

9. Bacaan yang baik dan benar.
Sebelum mulai menghafal, kita harus membenahi bacaan terlebih dulu dengan merujuk kepada salah seorang guru yang memiliki bacaan yang baik dan benar. Bisa juga dengan mendengarkan potongan surat/ayat yang akan kita hafal, dengan suara salah seorang qari dari dari MP3 atau sejenisnya.
Bacaan yang baik dan benar itu diperlukan agar kita tidak jatuh kepada kesalahan dalam menghafal. Jika dalam proses menghafal kita salah membaca, maka kita akan mendapatkan kesulitan dalam memperbaikinya setelah melekat dalam ingatan. Imam Munada rahimahullah berkata:
“Ketahuilah bahwa menghafal itu ada beberapa cara, di antaranya adalah seseorang dapat membaca di hadapan orang yang lebih baik hafalannya, karena orang yang baik hafalannya lebih peka terhadap kesalahan orang yang membaca di hadapannya dibandingkan si pembaca tersebut terhadap kesalahannya sendiri saat membaca hafalan”.
Dengan demikian, kita harus berusaha untuk ikut talaqqi Al-Qur’an secara musyafahah (berhadapan langsung) dengan para penghafal Al-Qur’an atau para syaikh yang baik bacaannya, agar nantinya kita akan terhindar dari kesalahan dalam membaca.
Guru-guru Al-Quran tentu akan sangat memperhatikan perbaikan bacaan ayat-ayat yang akan dihafal oleh para muridnya. Mereka juga akan selalu membimbing muridnya untuk memperbaiki kata-kata yang sering salah baca, yaitu dengan menugasi mereka agar mengulang hafalannya di hadapan kawan-kawan untuk menghindari berbagai kesalahan pada saat menghafal.

10. Hafalan yang saling berikatan.
Jangan lupa, hafalan kita harus saling berikatan. Setiap kali kita menghafal satu ayat dengan baik, hendaknya kita mengulanginya dengan kembali membaca ayat sebelumnya yang telah kita hafal, setelah itu barulah pindah ke ayat-ayat berikutnya.
Usahakan, setelah kita menyelesaikan hafalan surat tertentu, jangan dulu tidak beranjak ke surat lainnya, sebelum kita yakin bahwa ayat-ayat yang telah kita hafalkan sudah benar-benar melekat di memori kita.

11. Memahami makna ayat yang dihafal.
Di antara hal yang dapat membantu mengikat ayat-ayat yang dihafal dan memudahkan dalam proses menghafal adalah sesekali merujuk kepada beberapa kitab tafsir yang disusun secara ringkas. Hal itu agar kita dapat memahami ayat-ayat tersebut, walaupun secara global.
Tentunya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah menguasai bahasa Arab dengan baik. Tapi bagi mereka yang belum menguasainya, bisa juga menggunakan Mushaf terjemahan. Pemahaman makna ayat/surat akan banyak membantu kita dalam menghafal.

12. Hafalan yang baik: jangan tergesa-gesa.
Ketika kita ingin memulai menghafal Al-Quran, usahakan jangan tergesa-gesa ingin cepat hafal ayat atau surat yang baru satu atau dua kali kita baca. Hafalan yang baik akan didapatkan dengan cara membaca berulang kali ayat-ayat yang akan kita hafal. Paling tidak, kita dapat membacanya minimal tujuh kali. Setelah kita merasakan ayat-ayat yang baru saja kita baca tadi telah melekat di dalam memori kita, barulah kita boleh pindah ke ayat berikutnya.
Banyak santri atau orang yang sedang menghafal Al-Quran, setelah membaca dua sampai tiga kali ayat yang akan dihafalnya, merasa sudah hafal. Setelah itu, ia pun mencoba pindah ke ayat berikutnya karena ingin segera menghafal ayat lain. Mungkin, hal itu terjadi karena adanya persaingan, para santri pun berlomba, atau sang guru membebaninya dengan hafalan dan target-target yang memberatkan.
Hal demikian sebenarnya tidak dapat dibenarkan dalam proses menghafal Al-Quran yang baik. Cara menghafal demikian tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menghafal sedikit-sedikit lebih baik daripada banyak tetapi terputus. Menghafal dengan tergesa-gesa akan mengakibatkan cepat lupa.
Terkadang yang menjadi penyebab fenomena tersebut adalah merasa puas dengan dirinya dan terperdaya akan hal itu –merasa cukup dengan membaca beberapa kali ayat/surat yang akan dihafal.

13. Memiliki bacaan yang berkesinambungan.
Hendaknya kita segera membaca Al-Qur’an ketika kesempatan itu datang. Sering membaca Al-Qur’an akan mempermudah dan melekatkan hafalan dalam memori kita. Bacaan yang banyak itu termasuk di antara metode paling mendasar dalam mengulang-ngulang hafalan.
Ayat/surat yang banyak kita baca dan perdengarkan kepada orang lain, akan dapat membantu kita dalam menghafal dan kita tidak perlu lagi bersusah-payah menghafalnya. Saat menghafal, ketika kita sampai pada ayat-ayat yang sering dibaca itu, maka kita akan melaluinya dengan mudah.
Kita ambil contoh, Surat yasin, Al-Waqi’ah, Al-Mulk, dan ayat-ayat terakhir dalam surat Al-Furqan, terlebih lagi surat-surat terdapat dalam Juz ‘Amma dan ayat-ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah yang sering dibaca banyak orang, akan lebih mudah kita hafal karena kita sering membaca dan mendengarnya dari orang lain.
Dari sini akan terlihat perbedaan yang amat mencolok antara orang yang memiliki wirid Al-Quran (tilawah harian) dengan yang tidak memilikinya. Bila kita terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari, secara berkesinambungan dan dengan target tertentu, kita akan dapat menghafal Al-Quran dengan mudah. Kita akan sering dapati, ayat/surat yang akan kita hafal seakan-akan sudah pernah kita dihafal. Kita akan sulit menghafal jika kita jarang atau sedikit membaca Al-Quran dan tidak memiliki target tertentu setiap harinya.
Jangan lupa, membaca Al-Qur’an itu ibadah dan bentuk taqarrub kepada Allah SWT. Setiap ayat yang kita baca bernilai satu pahala yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

14. Kuatkan hafalan dalam shalat.
Banyak membaca surat-surat yang pernah kita hafal akan dapat menguatkan dan melekatkan hafalan dalam memori, khususnya dalam shalat. Oleh karenanya, hendaknya kita selalu bersungguh-sunguh mengulang-ngulang hafalan dengan membacanya di dalam shalat. Kita dapat melakukan hal itu dalam shalat tahujud beberapa rakaat.
Rasulullah SAW sebagai qudwah, pemberi petunjuk dan pemberi kabar gembira, telah mengajarkan cara demikian. Cara itu juga pernah dilalui oleh orang-orang shalih sehingga hafalan Al-Qur’an mereka kuat, tidak mudah lupa. Rasulullah SAW bersabda :
“Dan apabila seorang penghafal Al-Qur’an mendirikan shalat kemudian dia membacanya siang dan malam hari; maka dia akan selalu mengingatnya, dan apabila dia tidak melakukannya maka dia akan melupakannya“ (H.R. Muslim).

15. Menghafal sendiri sedikit manfaatnya.
Barangkali ada kebiasaan buruk pada diri kita, yaitu suka menunda pekerjaan; mengatakan “nanti” setiap kali terlintas pada diri kita untuk segera menghafal. Saat kesibukan menghadang, kita pun menundanya. Lebih buruk lagi, tekad kita akan cepat melemah.
Karenanya, hindari menghafal sendirian. Menghafallah bersama-sama seorang kawan. Dengan begitu, kita pun akan dapat membuat perencanaan dan satu sama lain akan saling membantu, saling berlomba satu sama lain, juga saling mengingatkan bila terjadi kesalahan dalam membaca dan menghafal.
Betapa banyak peserta halaqah tahfizh Al-Quran di masjid, mushalla, di rumah, dan sebagainya telah menghafal beberapa juz. Karena kesibukannya, mereka tidak dapat menghadiri halaqah-halaqah tersebut. Mereka pun mengira mampu menghafal secara individu dan tidak butuh lagi hadir dalam halaqah. Celakanya, semangat mereka terlihat melemah dan akhirnya berhenti menghafal.
Yang lebih parah lagi, terkadang mereka disibukkan oleh urusan dan pekerjaan yang membuat mereka meninggalkan murajaah hafalan yang lalu mereka hafal. Demikianlah, hari demi hari berlalu dan mereka lupa semua yang mereka pernah hafalkan. Mereka menyia-nyiakan semua yang pernah mereka raih.
Menghafal sendiri, tanpa bimbingan seorang guru, juga akan dihadapkan pada kesalahan saat mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an. Memang, tanpa disadari, kesalahan itu akan terus berlangsung dalam tempo yang lama. Namun, ketika dia memperdengarkan hafalannya di hadapan peserta lainnya atau di hadapan gurunya, maka kesalahan tersebut akan nampak jelas.
Oleh karena itu, kita dapat memilih dan mengajak beberapa teman, peserta halaqat tahfizh, atau saudara
yang kita cintai karena Allah SWT, untuk sama-sama menghafal Al-Qur’an. Kita bisa saling mengoreksi dan melakukan murajaah hafalan.

16. Teliti dalam membaca ayat-ayat yang mirip.
Penting sekali memperhatikan ayat-ayat yang mirip pada beberapa lafazh dan membadingkan letak kemiripannya. Bagus sekali, jika sedang menghafal, kita menuliskan ayat-ayat yang mirip, dengan harapan agar kita dapat menghadirkan letak ayat yang mirip saat murajaah.
Kalau kita amati, sebagian peserta halaqat tahfizh tidak memperhatikan letak ayat-ayat yang mirip. Mereka pun mengalami kesalahan saat tasmi’ (memperdengarkan) hafalan. Kemiripan satu ayat dengan ayat lainnya akan dapat mengganggu konsentrasi.
Tanpa kita sadari, bisa jadi mereka akan berpindah ke surat berikutnya. Terkadang saat tasmi’ kita akan “nyasar” dan berpindah ke surat atau ayat lainnya karena ada beberapa ayat yang mirip. Oleh karena itu, kita harus lebih fokus pada ayat-ayat yang mirip, mengamatinya, dan ada perhatian lebih terhadapnya. Perhatikan ungkapan salah seorang ulama:
“Sesungguhnya mengenal letak ayat yang mirip akan memberikan kemudahan dalam menguatkan hafalan seorang penghafal dan melatih peserta halaqat tahfizh. Ada satu kelompok Qurra (para qari’/ahli qiraat) yang menulis jenis ini dan mereka menjulukinya dengan sebutan Al-Mutasyabih sebagai jawaban dari buruknya hafalan”.
Mudah-mudahan, tips menghafal Al-Qur’an di atas dapat membantu kita dalam menghafal Kalamullah. Amin! Allahu a’lam bish-shawab.*

Buku-buku pelajaran yang paling utama untuk para penuntut ilmu tingkat pemula dan kaum awam


Kesadaran umat Islam di tanah air untuk mempelajari ajaran Islam kian hari kian tumbuh. Pengajian mulai tumbuh subur di perkantoran, pabrik, sekolah, kampus, dan bahkan restoran. Para bisnisman, selebritis, pejabat, dan kalangan ekonomi menengah ke atas mulai memiliki jama’ah pengajian sendiri. Pertumbuhan majalah, tabloid, buku, CD, dan situs keislaman juga cukup marak.

Sayang sekali, banyak pengajian dan kajian keislaman yang marak di tengah masyarakat tersebut belum disampaikan secara sistematis, ilmiah, dan kaafah. Temanya masih berkutat pada ibadah ritual semata. Tidak jarang, sebagian besar muatannya adalah humor. Sangat sulit mencari kajian Islam yang mengajarkan kepada umat Islam pemahaman Islam yang benar dan kaafah secara sistematis, ilmiah, dan bertahap sesuai jenjang pemahaman yang terukur jelas.
Banyak umat Islam yang memiliki niat kuat untuk mengikuti pengajian dan kajian keislaman. Namun mereka bingung, harus mengikuti pengajian yang mana? Buku, majalah, tabloid, dan situs keislaman apa yang selayaknya mereka baca? Untuk membantu niat umat Islam dalam menuntut ilmu keislaman, arrahmah.com insya Allah akan menurunkan serial artikel para ulama yang capable di bidangnya. Semoga umat Islam memiliki gambaran yang jelas, utuh, dan lurus tentang pengajian dan kajian keislaman yang ideal. Selamat mengikuti!

Buku-buku pelajaran yang paling utama untuk
para penuntut ilmu tingkat pemula dan kaum awam
oleh:
Syaikh Zhofir bin Hasan Al-Jab’an
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang


Pertanyaan
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya berharap Anda berkenan menjelaskan judul buku-buku untuk para pelajar pemula dan kaum muslimin pada umumnya, yang memiliki kriteria mudah dipahami, uraiannya jelas, dan urutannya tertib menurut skala prioritas.

Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Al-Amin, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du…

Wahai saudaraku yang tercinta…hendaklah engkau meyakini seyakin-yakinnya bahwa sarana yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb Ar-Rahiim adalah ilmu. Bukan sembarang ilmu, melainkan ilmu tentang Allah SWT, ayat-ayat-Nya, hukum-hukum dien-Nya, dan sunah-sunah Rasul-Nya SAW. Oleh karenannya, Allah menyebutkan hanya orang-orang yang mengenal-Nya sedalam-dalamnya yang takut kepada-Nya. Allah SWT berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Fathir (35): 28)

Para shadiqun (orang-orang yang jujur keimanannya) tidak mampu mencapai derajat khasyah (rasa takut kepada) Allah SWT kecuali dengan ilmu syar’i.
Setiap kali seorang hamba semakin mengenal Allah, maka rasa takutnya kepada-Nya juga semakin meningkat. Sekadar ma’rifah (pegetahuan) hambae kepada Allah, sekadar itu pula ketekunannya dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan itulah ia mampu melaksanakan penghambaan yang sebenarnya kepada Allah, dan termasuk dalam golongan hamba yang bertakwa dan takut kepada-Nya.

Sunatullah telah menetapkan bahwa seorang hamba tidak mungkin mampu menggapai sebuah harapan kecuali setelah ia mencurahkan segala sarananya, baik sarana yang syar’I maupun sarana yang kauni. Di antara sarana tersebut adalah mencari ilmu dan terus-menerus meningkatkannya.

Pertanyaan Anda, wahai saudaraku yang tercinta, sungguh sangat penting. Sangat penting, mengingat setiap muslim wajib memiliki kadar minimal ilmu yang tidak boleh ia tinggalkan dan wajib ia ketahui. Di antaranya adalah mengetahui perkara-perkara pasti yang termasuk bagian dari agama (al-ma’lum min ad-dien bi al-dharurah) sehingga tiada seorang muslim pun yang boleh tidak mengetahuinya. Seperti mengakui wujud Allah, keesaan-Nya, kewajiban menujukan seluruh bentuk ibadah kepada-Nya semata, mengenal rasul-rasul-Nya, kewajiban mentaati mereka dan mengikuti ajaran kebenaran yang mereka terima dari Allah SWT, dan mengenal Islam beserta rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya yang seorang muslim tidak memiliki udzur bila tidak mengetahuinya. Seorang hamba tidak mungkin akan mencapai tingkatan tersebut kecuali dengan sarana ilmu syar’i, sedangkan ilmu syar’i diambil dari sumber-sumber otentiknya, yaitu Al-Qur’an, As-sunnah, dan ijma’ salaf.

Berkaitan dengan permohonan Anda tentang buku-buku yang sebaiknya dipelajari terutama oleh para pelajar pemula dan kaum awam umat Islam; sebelum saya menyebutkannya kepada Anda, saya hendak menyampaikan beberapa wasiat berikut kepada Anda.

  1. Ikhlaskan niat amal Anda untuk Allah semata. Sekadar keikhlasan Anda kepada Allah, sekadar itu pula Anda akan mengambil manfaat dari ilmu Anda.
  2. Manhaj yang lurus. Manhaj Anda haruslah mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam aspek pemahaman dan pengambilan sumber, aspek pengamalan nash-nash dan hukum-hukum, dan aspek fiqih (pemahaman) dan istidlal (pengambilan dan penyimpulan dalil). Manhaj yang benar akan membuat Anda dapat meraih manfaat dari ilmu yang Anda ketahui. Adapun dengan manhaj yang salah, na’udzu billah, bertambahnya ilmu justru akan menambah Anda jauh dari Allah.
  3. Bersabar dalam mencari dan meraih ilmu, terus menerus dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shahih Muslimnya, imam Yahya bin Abi Katsir berkata, “Ilmu tidak mungkin diraih dengan badan yang bersantai.”
  4. Mengamalkan ilmu yang telah Anda pelajari. Ilmu telah memanggil amal, jika amal menjawab panggilannya (niscaya ilmu akan bertahan). Adapun jika amal tidak menjawab panggilannya, maka ilmu akan pergi meninggalkannya.
  5. Mengetahui metode-metode dan cara-cara yang benaar dalam menerima dan menuntut ilmu, di antaranya yang paling penting adalah bertahap dalam mempelajari ilmu.
  6. Senantiasa meminta pendapat (bermusyawarah) para ulama dan orang-orang yang berpengetahuan tentang apa yang dibaca dan dipelajari oleh seseorang.
  7. Banyak berdoa kepada Allah agar diberi taufik dan kelurusan jalan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Inilah beberapa wasiat terpenting yang bisa saya sampaikan secara ringkas. Selanjutnya saya akan menyebutkan apa yang menurut pandangan saya sesuai bagi para penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam.

Buku-buku yang saya nasehatkan untuk dipelajari oleh para penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam biba dibagi menjadi dua bagian:

  1. Buku-buku yang tidak boleh ditinggalkan (baca: wajib dipelajari) oleh seorang muslim bagaimanapun keadaannya.
  2. Buku-buku yang dibaca sebagai tambahan untuk memahami buku-buku bagian pertama.


Bagian pertama:
Buku-buku yang wajib dipelajari oleh seorang muslim bagaimanapun keadaannya. Yaitu:

  1. Al-Qur’an Al-Karim. Inilah buku pertama yang wajib Anda baca, kaji, dan hafal seluruhnya (30 juz) atau sebagiannya. Al-Qur’an mengandung hikmah, penjelasan, hukum, keterangan yang nyata, pelajaran dan pengalaman bagi manusia, ketenangan dan ketentraman, kebahagiaan, dan kelezatan iman. Seorang muslim tanpa Al-Qur’an laksana sebatang pohon tanpa buah, bak sebuah bangunan tanpa tiang-tiang.
  2. Hadits-hadits Nabi SAW yang shahih. Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi adalah pelindung seorang hamba dari kesesatan. Buku-buku yang menghimpun hadits-hadits nabawi sangatlah banyak. Buku hadits yang terpenting adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, lalu kitab-kitab sunan (Sunan Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah), lalu Musnad Ahmad, lalu apa yang Allah mudahkan bagi seorang pelajar untuk mempelajarinya setelah itu yang meliputi kitab-kitab Sunan, Musnad, Jami’, Mushannaf, Mustadrak, dan Mustakhraj.

Jika Anda ingin menghafal hadits, maka hafalkanlah hadits dalam kitab-kitab induk hadits ini. Jika Anda tidak mampu, maka hafalkanlah kitab hadits Al-Arba’in karya imam Syarafuddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, lalu kitab Jawami’ul Akhbar karya imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, lalu kitab Umdatul Ahkam karya imam Abdul Ghani Al-Maqdisi, lalu kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Bagian Kedua:
Buku-buku yang dibaca oleh pelajar tingkat pemula dan kaum awam umat Islam sebagai tambahan untuk memahami bagian pertama. Untuk meringkas, saya akan menyebutkan tiga buku untuk setiap disiplin ilmu. Saya akan menyebutkannya secara bertahap (buku no 1 dipelajari, kalau selesai beralih mempelajari buku no. 2, kalau sudah selesai beralih mempelajari buku no. 3—edt), semuanya untuk kelompok penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam. Setelah itu baru berpindah ke buku-buku lainnya.

Ushul Tafsir (kaedah-kaedah pokok/ilmu-ilmu dasar tafsir)

  1. Ushul at-Tafsir : Syaikh Muhammad bin Utsaimin
  2. Fushul fi Ushul at-Tafsir : Syaikh DR. Musa’id Ath-Thayyar
  3. Al-Qawa’id Al-Hissan fi Tafsir Al-Qur’an : Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an):

  1. Mabahits fi Ulumil Qur’an : Syaikh Manna’ bin Khalil Al-Qathan
  2. Al-Muqaddimat Al-Asasiyah fi Ulumil Qur’an : Syaikh DR. Abdullah bin Yusuf Al-Judai’
  3. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an : Imam As-Suyuthi

Tafsir Al-Qur’an:

  1. At-Tafsir Al-Muyassar : Sekelompok ulama terbitan Lembaga Penerbitan Mushaf Madinah Munawwarah (panitia ulama di bawah koordinasi departemen wakaf dan dakwah Arab Saudi)
  2. Zubdatut Tafsir Mukhtashar Fathul Qadir : Syaikh DR. Muhammad Sulaiman bin Umar Al-Asyqar.
  3. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan : Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Akidah:

  1. Tsalatsah Al-Ushul : Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi
  2. Kitab At-Tauhid : Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi
  3. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad : Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Ushul Fiqih:

  1. Al-Ushul min Ilmil Ushul : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
  2. Taisir Ilmi Ushul Fiqh : DR. Abdullah bin Yusuf Al-Judai’
  3. Ma’alim Ushul Fiqh : DR. Muhammad bin Husain Al-Jizani

Fiqh:

  1. Al-Aziz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al-‘Aziz : Syaikh DR. Abdul Azhim Badawi
  2. Al-Mulakhash Al-Fiqhi : Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
  3. Fiqih Sunnah : Sayid Sabiq beserta Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqh Sunnah karya Al-Albani

Musthalah Hadits:

  1. Taqrib Musthalah Al-Hadits Ila Muslmil ‘Ashril Hadits : Ahmad bin Nashrullah Al-Mishri
  2. Al-Madkhal ila Ilmil Hadits : Abu Mu’adz Thariq bin ‘Iwadhullah
  3. Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulumil Hadits : Syaikh Ahmad Syakir

Fiqih hadits:

  1. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah : Syaikh Muhammad bin Utsaimin
  2. Taisirul ‘Allam Syarh Umdatul Ahkam : Syaikh Abdullah Al-Bassam
  3. Fathul ‘Allam Syarh Bulughul Maram : Imam Shidiq Hasan Khan Al-Qanuji

Sirah Nabawiyah:

  1. Mukhtashar Asy-Syamail Al-Muhammadiyah : Syaikh Al-Albani
  2. Hadzal Habiib ya Muhib : Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
  3. Ar-Rahiq Al-Makhtum : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarak Furi

Siyar wat Tarajum:

  1. Aina Nahnu min Akhlaq As-Salaf : Syaikh Abdul Aziz Al-Julail dan Bahauddin bin ‘Uqail
  2. Shifatus Shafwah : Imam Ibnul Jauzi
  3. Nuzhatul Fudhala’ Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala’ : Syaikh DR. Muhammad bin Hasan bin Musa Asy-Syarif

Raqaiq dan Zuhd:

  1. Kitab ar-Raqaiq dalam Shahih Bukhari
  2. Risalah Al-Mustarsyidin : Harits Al-Muhasibi
  3. Al-Bahr Ar-Raiq fiz Zuhdi wa Raqaiq : Syaikh DR. Ahmad Farid

Tarbiyah:

  1. Al-Ikhlash : Syaikh Husain Al-‘Awayisyah
  2. Ruhbanul Lail : Syaikh DR. Sayyid Al-‘Affani
  3. At-Tarbiyah Al-Jaaddah Dharuratun : Syaikh DR. Muhammad Duwaisy

Dzikir:

  1. Hisnul Muslim : DR. Sa’id bin Wahf Al-Qahthani
  2. Shahih Al-Wabil Ash-Shayib : Syaikh Salim Al-Hilali
  3. Al-Adzkar : Imam An-Nawawi

Bahasa Arab:

  1. Al-Muqaddimah Al-Ajrumiyah : Ibnu Ajrum
  2. Al-Minhaj Al-Mukhtashar fi Ilmin Nahwi wa ash-Sharfi : Abdullah bin Yusuf Al-Judai’
  3. At-Tuhfah As-Sanniyah Syarh Muqaddimah Ajrumiyah : Muhyiddin Abdul Hamid

Adab:

  1. Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim bi-Adab Al-‘Alim wal Muta’allim: Ibnu Jama’ah
  2. Kitab Al-Adab : Syaikh Fuad Syalhub
  3. Al-Adab Asy-Syar’iyyah : Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi

Sebagai penutup…

Saya berdoa kepada Allah semoga membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat yang mengantarkan kita kepada ridha Allah, menjauhkan kita dari kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras. Saya memohon kepada Allah keikhlaan dalam ucapan dan perbuatan, taufiq dan kelurusan. Kitab-kitab ini sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas untuk para penuntut ilmu pemula dan kaum awam umat Islam. Saya berusaha saat menyusunnya agar metode, cara, dan gaya bahasanya sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.
Syaikh Zhofir bin Hasan Al-jab’an

http://www.aljebaan.com/play-147.html


Penyusun & Penerjemah: Muhib al-Majdi
Kajian Islam

http://darulmunir.com/

WINAMP TERBARU FREE – DOWNLOAD SKIN WINAMP – WINAMP SKINS


Download Software Winamp Terbaru – Hampir semua pengguna komputer di Indonesia pasti tidak asing lagi dengan yang namanya Winamp. Karena biasanya waktu kita beli komputer, didalam komputer tersebut, pasti sudah terinstall software yang namanya Winamp. Dan saya yakin, Anda juga termasuk salah satu pengguna aplikasi Winamp ini icon biggrin Download Software Winamp Terbaru 2012

Winamp merupakan salah satu software atau aplikasi yang berguna saat kita ingin memutar file audio dan video. Diantara beberapa format file yang bisa dibuka dengan menggunakan software Winamp ini adalah WMA, WMV, MP4, MP3, WPL, WSX, WAV, MIDI, OGC, MOD, AAC, MPEG, AVI, NSV, ASF dan lain sebagainya yang berjumlah 60 format file. Winamp terbaru juga memiliki manajemen pengelolaan dan pengaturan media library yang semakin baik serta dukungan skin baru yang lebih beragam melalui situs resminya. Anda dapat men-download ribuan skins atau themes Winamp disini

Selain itu, Anda juga langsung bisa mendengarkan atau melihat video secara online dengan menggunakan software Winamp ini. Bahkan Anda juga bisa melihat TV secara online menggunakan Software Winamp ini. Software Winamp juga bisa di setting dengan menggunakan 16 bahasa. Diantaranya adalah bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Jerman, China, Spanyol, Belanda, Rumania dan lain-lain.

Meski fungsinya hampir sama dengan Windows Media Player Classic, tapi mayoritas para pengguna komputer ternyata lebih suka kepada Winamp. Termasuk saya yang lebih suka memakai software Winamp dibanding memakai software sejenis yang lainnya. icon wink Download Software Winamp Terbaru 2012

Software Winamp terbaru adalah Winamp versi 5.6. Yang terbaru dari versi anyar Winamp ini dibanding dengan versi sebelumnya adalah :

  • Wireless desktop sync with Winamp for Android
  • iTunes Library Import
  • Major podcast overhaul including new directory powered by Mediafly
  • New Windows 7 support including taskbar player controls
  • Available in 16 languages including Turkish, Romanian & Brazilian Portuguese
  • Improved playlist generator
  • Add the Winamp Toolbar and control playback from your browser (optional)

Software Winamp terbaru ini tersedia dalam 2 pilihan yaitu download winamp 5.6 standard dan download winamp 5.6 pro. Winamp 5.6 terbaru standard bisa di download dengan gratis alias free download dengan size 15.07 MB dan untuk winamp 5.6 pro, Anda harus mengeluarkan uang sedikitnya sekitar $19.95.

Dibawah ini Anda bisa mendapatkan software Winamp terbaru yaitu versi 5.6 standard alias versi yang gratisan. Bagi Anda yang tidak tau cara download Winamp, Anda bisa klik link yang ada dibawah ini. Setelah terbuka di halaman baru, nanti Anda klik tombol yang bertuliskan “free download winamp 5.6 player“.

sumber : http://www.azamku.com/download-software-winamp-terbaru.html

Download Software Winamp Terbaru

TIPS MENGETAHUI 5 MODUS BARU PEMBAJAKAN SOFTWARE 2012 | Hardisk Loading Metode Ini Sering Terjadi Di Setiap Pembelian Komputer.


Pembajakan software komputer kian canggih. Meski produsen sudah berupaya maksimal untuk mencegahnya, namun tetap saja muncul modus operandi baru. Kenali gejalanya agar kita bisa terhindar dari jeratan software ilegal. Lihat PENYEBAB ANAK MUDAH MENJADI PELAKU BULLYING DI SEKOLAH | Masalah Emosional, Problem Pada Perkembangan Jadi Beberapa Faktornya. dan HASIL PERTANDINGAN PORTO VS CITY 1-2 LIGA EUROPA 2012 | Gol Aguero Menjadi Penyelamat City Di Akhir Laga.

Hardisk Loading

Seperti dipaparkan oleh Justisiari P Kusumah, Sekjen dari Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), metode pembajakan software yang paling sering terjadi adalah 'Hardisk Loading'.

"Hardisk loading itu biasanya dilakukan oleh para retailer komputer. Orang yang beli komputer dikasih bonus software tak berlisensi," kata dia dalam sosialisasi hak cipta software komputer di Hotel Grand Mahakam, Jakarta, Kamis (16/2/2012).

Under Licensing

Nah, modus pembajakan software ini biasanya dilakukan oleh perusahaan yang hanya membeli sejumlah lisensi, misalnya untuk 30 PC, namun software-nya digunakan untuk 50 PC atau lebih.

Counterfeiting

Ini modus pembajakan software yang dijual lewat CD. Packaging-nya rapi seperti asli. Berbeda dengan CD software bajakan seharga Rp 10-20 ribu yang mudah dikenali. Produk high end counterfeting yang sudah seharga produk asli ini sudah banyak beredar.

Fake COA

COA atau certificate of authenticity, sudah lama digunakan oleh vendor softwar seperti Microsoft untuk menandakan bahwa komputer atau laptop yang menggunakan produknya adalah software berlisensi.

Namun, COA ini mulai banyak dipalsukan. Sepintas memang mirip. Tapi jika diperhatikan dengan seksama, akan ada sejumlah perbedaan karakteristik dari COA tersebut. Mabes Polri sendiri tengah memburu pemalsu COA tersebut.

"Komputer dengan COA palsu ibaratnya mobil yang pakai STNK palsu. Ada juga COA yang asli kletekan, tapi di dalam komputernya pakai OS dan software bajakan. Sudah bukan OS yang asli diinstal pertama kali," kata Justisiari.

Mischanneling

Pelanggaran satu ini biasanya terjadi di kampus-kampus dan sekolahan. Seperti diketahui, kampus maupun sekolah kerap mendapat potongan harga cukup besar dari vendor software, bahkan ada yang sampai 90%.

Nah, benefit dari software dan OS untuk pendidikan ini pernah disalahgunakan oleh pihak dosen atau staf pengajar untuk kepentingan komersial di luar kegiatan mengajar.

Misalnya saja, dosen itu punya perusahaan kecil-kecilan, dan software beserta OS academic license itu digunakan untuk menunjang kegiatan bisnis komersilnya.

"Contoh lainnya, kampus yang membeli academic license dengan harga lebih murah, kemudian dijual lagi ke perusahaan komersil dengan harga lebih mahal, namun masih lebih murah dibanding harga semestinya," kata Justisiari.

Menurut Kombes Polisi Dharma Pongrekun dari Kasubdit Indag Direktorat Tipideksus Bareskri Polri, ada sejumlah sanksi hukum yang bisa dikenakan jika terbukti. Sanksi tersebut ada di Pasal 72 ayat 1, 2, dan 3, dalam UU No.19/2002 tentang Hak Cipta.

Dalam pasal 72 ayat 1, pihak yang terbukti memperbanyak hak cipta tanpa seizin pencipta/pemegang hak cipta, bisa dikenakan pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5 miliar.

Kemudian di pasal 72 ayat 2, pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5 juta bagi pihak yang mengedarkan atau menjual/memperdagangkan kepada umum barang/produk hasil pelanggaran hak cipta.

Sedangkan pihak yang terbukti memperbanyak penggunaan/menggunakan program komputer secara tanpa hak (software bajakan) untuk kepentingan komersial, dalam pasal 72 ayat 3, bisa dikenakan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500 juta.
Detik.com

Terbukanya Pintu Kesenangan Dunia


Terbukanya Pintu Kesenangan Dunia

إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا

“Sesungguhnya di antara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dunia telah disifati oleh Allah sebagai kesenangan yang menipu, tempat berbangga-bangga dengan harta dan anak-anak. Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaannya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20).

Kesenangan dunia dan perhiasannya telah menjadikan banyak manusia lupa dan lalai. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan umatnya dilalaikan dengan mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat. Perbuatan demikian dapat menyebabkan kaum muslimin mendapatkan hal yang tidak diinginkan yaitu:

  • Menjadi terhina di hadapan kaum kuffar.

Sebagaimana sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama), Allah akan kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali kepada agamamu (yang benar).” (HR Abu Dawud dan lainnya).[1]

Ini artinya, kaum muslimin lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama Allah. Mereka lebih disibukkan dengan mengejar dunia dan perhiasannya walaupun dengan cara yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Allah pun menjadikan kewibawaan kaum muslimin hilang dan Allah jadikan mereka terhina bagaikan buih yang bawa oleh banjir. Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir-hampir umat-umat kafir saling memanggil untuk melahap kalian sebagaimana orang-orang lapar saling memanggil untuk melahap hidangan“. Lalu seorang shahabat berkata: ”Apakah jumlah kita sedikit waktu itu ? beliau bersabda: ”Justru jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi seperti buih yang dibawa oleh banjir, dan Allah benar-benar akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada mereka, dan melemparkan kepada hati kalian al wahan“. Seorang sahabat berkata: ”Apakah al wahan itu ? beliau bersabda: ”cinta dunia dan takut mati.“ (HR Abu Dawud no 4297 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam shahih Sunan Abi Dawud).

  • Saling menumpahkan darah.

Cinta dunia menjadikan manusia gelap mata dan kikir, sehingga mereka berlomba mencarinya dengan berbagai macam cara walaupun harus dengan menumpahkan darah saudaranya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.

“Jauhilah berbuat zalim karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah syuhh (sangat kikir) karena sangat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu dan membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menganggap halal wanita-wanita mereka.” (HR Muslim).

Sifat syuhh muncul akibat cinta dunia yang amat sangat, Ath-Thibi rahimahullah berkata, “Bakhil adalah kikir dan syuhh adalah bakhil yang disertai berbuat zalim, (dalam hadis ini) disebutkan syuhh setelah menyebutkan zalim untuk menunjukkan bahwa syuhh adalah macam zalim yang paling berat akibat dari cinta dunia dan kelezatannya”.[2]

Sejarahpun telah mencatat bagaimana kaum muslimin saling menumpahkan darah untuk merebut tahta, sebagaimana disebutkan bahwa ketika Bani Umayah telah ditumbangkan oleh Bani Abasiyah, setiap harinya algojo-algojo Bani Abasiyah membunuh delapan puluh orang dari Bani Umayah lalu mereka menggelar tikar dan makan minum di atas mayat-mayatnya. Dunia Islam tak pernah sepi dari perang saudara sebagaimana yang kita baca dalam kitab-kitab sejarah akibat cinta dunia dan kelezatannya. Allahul musta’an.

  • Tidak peduli halal dan haram.

Cinta dunia menjadikan manusia membabi buta tak peduli kepada halal dan haram, tidak ada lagi rasa takut kepada siksa Allah Ta’ala, ia mencari rizki tanpa mempedulikan hukum-hukum Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak memperdulikan dengan apa ia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram“. (HR Bukhari).

Perkara-perkara ini yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atas umatnya apabila kesenangan dunia dibukakan kepada mereka, oleh karena itu beliau menganggap bahwa orang yang rakus dengan dunia dan tamak kepada harta lebih berbahaya dari serigala lapar, beliau bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan kepada seekor kambing lebih berbahaya untuk agama seseorang dari orang yang rakus terhadap harta dan kedudukan“. (HR. At-Tirmidzi dan lainnya).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Ini adalah permisalan yang agung yang diumpamakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kerusakan agama seorang muslim akibat rakus terhadap harta dan kedudukan dunia dan bahwa kerusakannya tidak lebih berat dari rusaknya kambing yang dimangsa oleh dua ekor serigala lapar..”.[3]

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.
Artikel www.cintasunnah.com


[1] Abu Dawud no 3462 dari jalan Haywah bin Syuraih dari Ishaq Abu Abdirrahman Al Khurrasani dari ‘Atha Al Khurrasani dari Nafi’ dari ibnu Umar. Qultu, “Sanad hadis ini lemah karena Ishaq bin Asid Abu Abdirrahman adalah perawi yang lemah demikian pula ‘Atha Al-Khurrasani. Namun imam Ahmad no 4593 meriwayatkan dari jalan Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al-A’masy dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar. Qultu, “Sanad ini shahih”. Dan hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Silsilah Hadis Shahih, no. 11.

[2] Faidlul Qadiir, 1/175.

[3] Syarah Hadis Maa Dzi’baani, hal 21.

Warna-warni Riya’ (Syirik Kecil)


Syirik Kecil, Riya’

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِى النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمُ، اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil”. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’, kelak di hari kiamat ketika amalan manusia diberi balasan, Allah ‘Azza wa Jalla akan mengatakan kepada mereka (yang berbuat riya’’), “Pergilah kepada orang yang kamu harapkan pujiannya sewaktu di dunia dan lihatlah apakah kamu mendapati pahala dari mereka?” (HR Ahmad).[1]

Sesungguhnya riya’ adalah penyakit yang sangat berbahaya yang berasal dari kurangnya ketauhidan hamba kepada Allah Ta’ala, di antara bahaya riya’ adalah:

  • Riya’ membatalkan amalan seorang hamba, Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَاْلأَذَىكَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

  • Riya’ adalah sifat orang munafik sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malasnya, mereka riya’ kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja”. (An Nisaa : 142)

  • Pelaku riya’ adalah yang pertama kali dilemparkan ke dalam api Neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid, lalu ia didatangkan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengan nikmat tersebut?” Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar disebut pemberani dan kamu telah disebut demikian.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret pada wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api Neraka. Dan orang yang (kedua) mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran, ia didatangkan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkakan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengan nikmat tersbebut?” Ia menjawab, “Aku mempelajari ilmu dan membaca Alquran karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar disebut ulama dan membaca Alquran agar disebut qori dan kamu telah disebut demikian.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret pada wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api Neraka. Dan orang yang (ketiga) Allah Subahanahu wa Ta’ala luaskan rezekinya dan diberi segala macam harta lalu ia didatangkan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Tidak ada satupun jalan yang Engkau sukai untuk diinfakkan pada jalan tersebut, kecuali aku telah menginfakkannya karena Engkau.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berbuat demikian agar disebut dermawan dan kamu telah disebut demikian.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret pada wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api Neraka.” (HR Muslim).[2]

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berlepas diri dari pelaku riya’

Dalam hadis qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang mempersekutukan-Ku dengan yang lain, Aku akan tinggalkan ia dan kesyirikannya.” (HR Muslim).[3]

  • Lebih ditakutkan dari Al-Masih Dajjal.

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, pada saat itu kami sedang memperbincangkan Al-Masih Dajjal, beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepadamu yang lebih aku takutkan untuk menimpamu dari Al-Masih Dajjal?” kami menjawab, “Mau.” Beliau bersabda, “Syirik kecil yaitu seseorang berdiri shalat lalu ia memperbagus shalatnya karena ada orang yang memperhatikannya.” (HR Ibnu majah).[4]

Warna-Warni Riya’

Riya’ mempunyai warna-warni yang berbeda karena kelincahan setan dalam menggoda manusia. Apalagi terhadap orang yang diberikan kelebihan, baik dalam ilmu, ibadah, kemerduan suara, dan lain sebagainya. Riya’ masuk dalam berbagai macam sisi kehidupan, dalam lapangan ilmu misalnya setan berusaha menggoda manusia agar jatuh ke dalam riya’, di antara fenomena riya’ dalam lapangan ilmu:

  • Terlalu berani berfatwa dan tergesa-gesa untuk mengajar

Sifat ini adalah akibat cinta ketenaran dan ingin disebut sebagai ‘alim ulama, sehingga ia amat berani berfatwa karena takut dikatakan ‘tidak tahu’. Padahal para ulama terdahulu, rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalahkan rasa takutnya untuk dikatakan ‘tidak tahu’.

Abu Dawud berkata, “Tak terhitung jumlahnya aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang permasalahan yang masih diperselisihkan, beliau berkata, “Aku tidak tahu.” Imam Ahmad berkata, “Aku tidak pernah melihat fatwa yang lebih bagus dari fatwa Sufyan bin ‘Uyainah, ia amat ringan untuk berkata, “Tidak tahu.”

Ibnu Qayyim berkata, “Para ulama salaf dari kalangan shahabat dan tabi’in tidak suka tergesa-gesa dalam berfatwa, mereka berharap agar saudaranyalah yang menjawabnya, dan bila ia melihat sudah menjadi keharusan baginya, maka ia mengeluarkan semua kesungguhannya untuk mengetahui hukumnya dari Alquran dan sunah atau pendapat khulafa ar-rasyidin, kemudian ia berfatwa.”[5]

Doktor Nashir Al-‘Aql berkata, “Di antara kesalahan yang harus diperingatkan dalam masalah fiqih adalah memisahkan dakwah dari ilmu. Ini lebih banyak ditemukan pada pemuda mereka berkata, “Berdakwah berbeda dengan menuntut ilmu.” Oleh karena itu, kita dapati para pemuda sangat memperhatikan amaliyah dakwah, bahkan memberikan semua kesungguhannya, akan tetapi ia sangat sedikit dalam menghasilkan ilmu syar’iat, padahal kebalikannya itulah yang benar. Hendaklah ia menuntut ilmu dan ber-tafaqquh dalam agama, memperoleh ilmu-ilmu syariat, kemudian baru ia berdakwah…” (Al-Fiqhu Fiddiin, Hal. 58)

  • Sibuk dengan ilmu yang bersifat fardhu kifayah dan meninggalkan yang fardhu ‘ain

Ia sibuk memperdalam ilmu-ilmu qira’at dan makhrajnya, namun meninggalkan yang lebih utama darinya, yaitu mentadabburi makna-maknanya. Ia memperdalam permasalahan-permasalahan fiqih yang amat pelik namun meninggalkan ilmu tauhid dan ikhlas. Namun bukan berarti kita berburuk sangka kepada mereka, akan tetapi perbuatan tersebut termasuk langkah-langkah setan dalam menggoda manusia.

  • Suka berdebat dan bertengkar dalam agama

Sifat ini digemari oleh orang-orang yang terfitnah oleh popularitas, dan ingin mengalahkan saingannya dengan memperlihatkan kehebatannya. Ini adalah tanda yang tidak baik, Imam Al-Auza’i berkata, “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan keburukan kepada suatu kaum, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan kepada mereka pintu jidal (perdebatan), dan menutup untuknya pintu amal.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ في رَبَضِ الْجَنّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقاّ..

“Aku menjamin dengan rumah di pinggir surga, untuk orang yang meninggalkan mira’ (debat kusir), walaupun ia di pihak yang benar..” (HR Abu Dawud)[6]

Para ulama salaf terdahulu berdebat bila dalam keadaan terpaksa saja. Adanya orang-orang yang tergelincir dalam masalah ini adalah karena niat yang tidak baik, padahal para ulama salaf lebih memperhatikan amal dari berbicara. Adapun sekarang, banyak dari kita yang lebih banyak memperhatikan berbicara karena ingin dianggap unggul. Allahul musta’an.

  • Marah bila dikritik dan bersikap dingin kepada orang yang menyelisihinya serta berbangga dengan banyaknya pengikut

Ini akibat tidak keikhlasannya dalam menuntut ilmu dan berdakwah, Imam Adz-Dzahabi berkata, “Tanda orang yang ikhlas, yang terkadang tak terasa masih menyukai ketenaran, adalah bila ia diingatkan tentang hal itu, hatinya tidak merasa panas, dan tidak membebaskan diri darinya, namun ia mengakuinya dan berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aibku.” Ia tidak berbangga dengan dirinya, dan penyakit yang berat adalah bila ia tidak merasakan aibnya tersebut.”[7]

Betapa indahnya perkataan beliau ini, amat layak untuk ditulis dengan tinta emas dan menjadi renungan kita bersama.

Al-Fudlail bin ‘Iyadl berkata (Kepada dirinya), “Wahai, kasihannya engkau, engkau berbuat buruk tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu tetapi merasa selevel dengan ulama, engkau kikir tetapi merasa dermawan, engkau pandir tetapi merasa pintar dan berakal, ajalmu pendek namun angan-anganmu panjang.”[8]

Saudaraku, terkadang banyaknya pengikut membuat kita tertipu dan menjadikan seorang da’I berbangga. Bila yang hadir di majlis taklimnya banyak, ia senang, namun bila yang hadir sedikit, ia bersedih dan ciut hatinya, tanda apakah ini ya akhi..?!

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Aku mempunyai majlis (ta’lim) di Masjid Jami’ setiap hari Jumat. Apabila yang hadir banyak, aku merasa senang. Dan apabila yang hadir sedikit, aku merasa sedih. Lalu aku tanyakan kepada Bisyir bin Manshur, ia menjawab, ‘Itu majlis yang buruk, jangan kamu kembali kepadanya.’” Aku pun tidak lagi kembali kepadanya.[9]

Subhanallah!! Betapa ikhlasnya mereka, betapa jauhnya dari cinta popularitas, sedangkan kita?!! entah, wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Yahha Badrusalam
Artikel www.CintaSunnah.com



[1] Dalam musnadnya no 23680 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Targhib no 32.

[2] Muslim 3/1513 no 1905.

[3] Muslim no 2985.

[4] Ibnu Majah no 4204 dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Targhib wattarhib no 30.

[5] I’laamul muwaqqi’iin 1/33-34.

[6] Sunan Abu Dawud no 4800, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Abi Dawud no 4015.

[7] Siyar a’lamin Nubalaa 7/393.

[8] Siyar A’lamin Nubalaa 8/440.

[9] Hilyatul auliya 9/12.